Beberapa hal yang bisa dipelajari dari artikel ini:
- Bagaimana cadangan devisa RI saat ini?
- Mengapa cadangan devisa RI menyusut?
- Apa arti dari penyusutan cadangan devisa RI?
- Apa dampaknya terhadap ketahanan ekonomi RI?
- Langkah apa yang diambil BI?
- Apa kata para ekonom soal langkah BI?
Bank Indonesia (BI) pada Senin (8/6/2026) melaporkan, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 sebesar 144,9 miliar dolar AS, turun 1,3 miliar dolar AS secara bulanan.
Cadangan devisa itu telah menyusut sebesar 11,6 miliar dolar AS atau Rp 197,8 triliun, setara rerata kurs Rp 17.051 per dolar AS. Dalam periode lima bulan, penyusutan cadangan ini pun tercatat paling dalam sepanjang lima tahun terakhir.
Secara keseluruhan, cadangan devisa Indonesia terdiri atas beberapa komponen. Salah satu komponen utamanya ialah cadangan valas. Cadangan devisa dalam bentuk valas ini umumnya digunakan oleh BI untuk mengintervensi pasar.
Mengutip data BI, cadangan valas per akhir Mei 2026 tercatat sebesar 122,8 miliar dolar AS. Angka ini menyusut jauh lebih dalam dibandingkan cadangan devisa secara keseluruhan, yakni sebesar 12,3 miliar dolar AS selama lima bulan terakhir.
Cadangan devisa terus menyusut seiring dengan langkah stabilisasi nilai tukar, tingginya permintaan valuta asing musiman, dan pembayaran utang.
Dalam beberapa kesempatan, BI menegaskan pihaknya akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan langkah intervensi di pasar. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan antisipasi dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.
Cadangan devisa Indonesia terdiri atas beberapa komponen. Salah satu komponen utamanya ialah cadangan valas. Cadangan devisa dalam bentuk valas ini umumnya digunakan BI untuk mengintervensi pasar.
BI melakukan intervensi dalam transaksi derivatif di pasar luar negeri (non-deliverable forward/NDF), transaksi derivatif di pasar domestik (domestic non-deliverable forward/DNDF), maupun transaksi spot, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Meski demikian, nilai tukar rupiah masih terus terdepresiasi. Selasa (9/6/2026), nilai tukar rupiah masih berada di atas Rp 18.000 per dolar AS, tepatnya Rp 18.170.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpendapat, turunnya cadangan devisa harus dibaca sebagai sinyal kewaspadaan. Meski cadangan devisa turun hingga ke level sejak Juni 2024, rupiah tetap melemah hingga menembus level di atas Rp 18.100 per dolar AS.
”Investor membaca kombinasi ini sebagai tanda bahwa intervensi BI memang meredam volatilitas, tetapi belum mampu membalik ekspektasi pasar,” ujarnya.
Sentimen pasar tersebut terutama didorong oleh kekhawatiran terhadap fiskal, independensi bank sentral, serta kebijakan ekspor komoditas baru. Dalam hal ini, pasar tidak hanya menguji besarnya cadangan devisa, tetapi juga menguji kredibilitas kebijakan.
Berbagai sentimen itu tecermin dalam perkembangan pasar keuangan, meliputi rupiah yang melemah ke level Rp 18.170 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan yang ambles ke 5.342, kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) 10 tahun ke 7,14 persen, dan naiknya credit default swap (CDS) 10 tahun menjadi 148,61 basis poin (bps).
Secara teori, menyusutnya cadangan devisa membuat amunisi BI untuk stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi berkurang. Selain itu, tekanan dari sisi moneter bertambah akibat berkurangnya pasokan valas. Hal ini biasanya diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan BI.
Selain itu, menyusutnya cadangan devisa memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan. Arus modal akan mengalir keluar.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, investor asing di pasar SBN telah mencatatkan jual neto sebesar Rp 15,43 triliun sejak akhir 2025 hingga Mei 2026.
Pada periode yang sama, Bursa Efek Indonesia mencatat, arus modal keluar investasi asing di pasar saham sebesar Rp 53,97 triliun secara tahun kalender.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menilai, derasnya arus modal itu terjadi lantaran selisih tingkat imbal hasil (interest rate differential) yang semakin menipis. Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi Pemerintah AS (US Treasury) 10 tahun sebesar 4,53 persen, sedangkan SBN tenor 10 menawarkan imbal hasil sebesar 7,1 persen.
Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, posisi cadangan devisa saat ini masih sangat memadai. Berdasarkan perhitungan terbaru, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di atas 115 persen dari tingkat kecukupan yang direkomendasikan IMF.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menambahkan, BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Hal ini ditempuh saat pasar keuangan domestik kian terpuruk dalam beberapa pekan terakhir, termasuk depresiasi rupiah yang berlanjut.
Rapat Dewan Gubernur juga memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 persen. Rapat digelar di Jakarta, 9 Juni 2026.
Dalam evaluasi sejak Rapat Dewan Gubernur BI per 18-19 Mei 2026, menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan. Di samping disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valas dalam negeri, pelemahan juga didorong oleh aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia.
Oleh karena itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Di samping kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen, BI juga menempuh empat langkah penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain bagi masuknya aliran investasi asing:
- Menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan.
- Memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing.
- Membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor-tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan.
- Meningkatkan intensitas operasi moneter, baik rupiah maupun valuta asing.
Ekonom dan pakar kebijakan publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai, kenaikan suku bunga acuan memang dapat membantu menarik kembali sebagian aliran modal asing. Namun, pasar kini tidak hanya mempertimbangkan imbal hasil, tetapi juga berbagai risiko ekonomi yang melekat pada prospek Indonesia.
”Masalah rupiah hari ini bukan sekadar soal kurang menariknya imbal hasil aset rupiah. Masalahnya lebih dalam, yakni turunnya kepercayaan pasar terhadap kesinambungan fiskal, meningkatnya kebutuhan valuta asing, tekanan harga energi global, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi nasional,” tuturnya.
Ia mengingatkan tekanan terhadap rupiah juga datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan yang mencapai sekitar 4 miliar dolar AS atau 1,09 persen PDB pada triwulan I-2026, serta penurunan cadangan devisa dari 146,2 miliar dolar AS pada April menjadi 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026.
”Ketika cadangan devisa berkurang, bunga dinaikkan, dan sentimen belum pulih, yang muncul bukan keyakinan kuat, melainkan kesan bahwa otoritas sedang mengejar tekanan yang bergerak lebih cepat,” ujarnya.
Ekonom Bank Danamon, Faisal Rahman, menilai langkah BI kali ini menunjukkan sikap moneter yang lebih agresif. Kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen tidak berdiri sendiri karena dibarengi kenaikan imbal hasil SRBI, insentif lindung nilai, perluasan fasilitas likuiditas, serta penguatan intervensi di pasar valuta asing.
Meski demikian, Faisal menilai ketidakpastian global dan potensi sikap lebih ketat Federal Reserve masih akan menjadi tantangan bagi rupiah. Karena itu, BI diperkirakan masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga menjadi 5,75 persen pada triwulan III-2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik aset keuangan domestik.





