Menulis cerita anak adalah sebuah tantangan baru bagi saya. Selama ini, tulisan saya lebih sering bertema non fiksi. Baik berupa opini maupun fakta sejarah.
Tugas untuk menulis cerita anak ini pertama saya dapatkan dari kantor, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Tugas itu baru diberikan pada tahun 2025. Tentu saja tugas ini bukan tugas individu melainkan tim.
Kala itu ada embel – embel, bahwa cerita anak yang ditulis, bukan cerita anak biasa. Ini disebabkan cerita tersebut adalah terbitan dari kantor. Jadi harus memiliki memiliki pesan yang positif.
Sebenarnya saya penasaran mendengar penjelasan tersebut. Lantas terjadi percakapan singkat untuk menanyakannya. Maksudnya, saya menanyakan model cerita terbitan kantor itu seperti apa? Jawabannya adalah cerita yang memiliki pesan dan makna positif bagi anak anak pembacanya. Sebuah jawaban yang masuk akal, mengingat siapa sih yang ingin anaknya terinspirasi berbuat nakal dari sebuah buku cerita.
***
Tugas menulis cerita anak kembali saya dapatkan di tahun ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya, saya hanya terlibat saat proses pengambilan data. Tahun ini saya terlibat secara penuh sebagai penulis.
Jadi saya benar – benar menulis cerita untuk anak – anak. Sesuatu hal yang bagi saya sulit tentunya. Dari yang semula biasa menulis data, fakta dan interpretasi. Beralih menjadi tulisan fiksi, yang biasa bersumber dari imajinasi.
Pada fase inilah saya mencoba menghindari penggunaan bahasa laporan yang serius dan panjang. Kebetulan saya masih menjumpai penggunaanya —yang disertai ilustrasi untuk anak — pada sejumlah terbitan kantor. Bagi saya, model semacam itu bukanlah cerita untuk anak.
Bacaan masa kecil berupa majalah anak – anak (seperti Bobo, Mentari dan Kuncup), novel karya Enid Blyton dan buku cerita lainnya, memang bisa menjadi inspirasi tentang bacaan anak. Tapi memang tidak semudah itu menulis fiksi. Apalagi jika inspirasinya adalah warisan budaya.
***
Bacaan untuk anak di Indonesia dewasa ini memang sedang mengalami krisis. Khususnya di bagian middle grade. Bacaan untuk anak praremaja, sekitar usia 8 – 13 tahunan. Bacaan yang menjembatani antara cerita bergambar ke novel untuk remaja.
Kita yang menjalani masa praremaja pada akhir 90-an hingga awal 2000 sebenarnya sudah mengalaminya. Jarang ada bacaan yang berasal dari sastrawan Indonesia saat itu. Tidak heran jika banyak yang beralih ke novel terjemahan, seperti karya Enid Blyton. Secara kebetulan karya tersebut diterjemahkan dengan apik oleh Agus Setiadi (Ayah dari Hilmar Farid, mantan Dirjen Kebudayaan (2015-2024). Meski berlatar Inggris pertengahan abad 20, novel ini menjadi bacaan favorit penulis, bahkan hingga kini. Ada banyak lagi karya yang mengisi masa itu, termasuk komik komik dari penulis Jepang seperti Detektif Conan dan Kung Fu Boy.
Sementara majalah yang saya sebut di atas tadi sejumlah karya penulis lokal yang menemani masa kecil hingga praremaja sebagian anak Indonesia. Dari majalah Bobo, ada cerpenis Widya Suwarna yang karyanya sangat menarik. Dari majalah Mentari ada cerita bergambar Hamindalid yang lucu.
***
Belajar dari penugasan dari kantor itu, saya semakin memahami, bahwa bukan perkara mudah untuk menulis cerita anak. Menulis alur cerita yang menarik, bisa diterima dan sesuai untuk anak, ternyata sulit. Apalagi memberi pesan yang positif dalam sebuah cerita. Saya sendiri lebih suka jika pesan positif yang diberikan kepada pembaca itu disampaikan secara tersirat dan tidak dipaksakan. Pesan positif yang disampaikan secara tersurat, terkadang bisa merusak alur cerita.
Lihat saja tulisan dari Enid Blyton, semuanya selalu menceritakan sisi nakalnya anak anak praremaja tersebut. Meski di akhir cerita pasti ada pesan yang disampaikan. Namun itu tidak pernah merusak alur cerita.
Kehadiran bacaan untuk anak, khususnya untuk kelas middle grade di Indonesia memang sangat diperlukan. Ini adalah salah satu upaya untuk mendukung momen tumbuh kembang dari anak. Agar tidak ada fase yang hilang dari masa tumbuh kembang. Dari fase membaca cerita bergambar, novel / bacaan middle grade dan barulah novel teenlit.





