BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa nasionalisme merupakan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau Hipmi yang lahir dari semangat nasionalisme memiliki peran strategis dalam mencetak pengusaha muda yang berkontribusi membangun perekonomian sekaligus memperkuat kedaulatan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) 2026 di Kota Bandar Lampung, Lampung, Rabu (10/6/2026). Presiden hadir didampingi sejumlah menteri, antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Luar Negeri Sugiono, serta Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait.
Selain itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta sejumlah bupati dan wali kota turut hadir dalam acara tersebut.
Di hadapan ribuan pengusaha muda, Presiden Prabowo mengatakan bahwa lahirnya Hipmi sejak awal dilandasi wawasan dan semangat nasionalisme untuk membangun perekonomian nasional. Menurut dia, tidak ada negara yang mampu mencapai kemajuan ekonomi secara berkelanjutan tanpa didukung semangat nasionalisme.
"Sesungguhnya tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme. Bahkan guru-guru kapitalisme sekalipun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme," katanya.
Presiden Prabowo mengutip pandangan Liah Greenfeld dalam buku The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi modern tidak berlangsung dengan sendirinya, melainkan didorong dan dipertahankan oleh nasionalisme.
Berbagai negara maju yang kini menjadi kekuatan ekonomi dunia, seperti Jepang, Amerika Serikat, hingga China, mampu mencapai kemajuan karena memiliki semangat nasionalisme yang kuat. Karena itulah, Hipmi sebagai wadah pengusaha muda yang lahir dari wawasan nasionalisme memiliki peran strategis dalam memajukan ekonomi bangsa.
Selama ini, Hipmi telah melahirkan banyak tokoh nasional, baik di bidang ekonomi maupun pemerintahan. Presiden berharap organisasi tersebut terus menjadi wadah lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang memiliki jiwa nasionalisme dan komitmen membangun perekonomian Indonesia.
"Sebagai wadah pengusaha muda, Hipmi adalah organisasi yang sangat penting karena telah melahirkan banyak pemimpin, baik pemimpin masyarakat maupun pemimpin ekonomi," kata Presiden Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan sistem ekonomi yang benar-benar berlandaskan nasionalisme. Ia mengajak seluruh elite bangsa untuk menilai secara jujur apakah arah pembangunan ekonomi saat ini telah sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
"Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa benar sistem ekonomi kita sudah berdasarkan nasionalisme? Marilah kita melihat dengan mata dan hati yang terbuka," ujarnya di hadapan ribuan pengusaha muda yang hadir dalam acara tersebut.
Presiden menyoroti masih adanya ketimpangan dalam sistem ekonomi, termasuk akses pembiayaan yang lebih berat bagi masyarakat kecil dibandingkan pelaku usaha besar. Sebagai contoh, program kredit supermikro untuk pelaku UMKM dikenakan bunga yang relatif tinggi, bahkan mencapai 24 persen. Sementara itu, pengusaha besar memperoleh pinjaman perbankan dengan bunga yang jauh lebih rendah.
"Bagaimana orang miskin membayar bunga lebih tinggi daripada pengusaha besar? Jadi kejanggalan-kejanggalan ini yang saya coba luruskan. Saya sangat yakin, jika kita melaksanakan Pasal 33 dengan arif dan bijaksana, Indonesia akan bangkit dengan cepat," kata Presiden yang disambut tepuk tangan peserta Munas Hipmi.
Presiden Prabowo menambahkan, Indonesia dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Kekayaan tersebut harus dikelola dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Ia menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus berada dalam kendali negara. "Segala kekayaan kita, tantangannya adalah bagaimana mengelolanya dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh melupakan warisan para pendiri bangsa. Menurut dia, Sumpah Pemuda, Pancasila, dan UUD 1945 merupakan "cetak biru" yang harus menjadi pedoman dalam membangun bangsa dan perekonomian nasional.
Selama ini, kata dia, pembangunan ekonomi Indonesia cenderung menjauh dari semangat ekonomi yang berlandaskan asas kekeluargaan. Karena itu, sebagai Presiden, ia menegaskan kembali bahwa arah pembangunan ekonomi ke depan harus bertumpu pada asas kekeluargaan dan nasionalisme.
Prabowo menambahkan, persatuan bangsa Indonesia merupakan berkah yang luar biasa. Berbagai konflik yang masih terjadi di sejumlah negara, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga konflik di Timur Tengah, menunjukkan betapa berharganya persatuan yang dimiliki Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyoroti kalangan elite yang lebih suka terlibat dalam perselisihan. Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan masyarakat yang lebih mengutamakan kerukunan.
"Rakyat mengerti bahwa untuk dapat hidup dengan baik harus ada kerukunan, keguyuban, kerja sama, dan saling mengisi, bukan saling menghantam," katanya.
Prabowo mengajak para pengusaha muda berperan aktif menjaga arah pembangunan nasional agar tetap sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa. Nasionalisme, menurut dia, harus menjadi landasan dalam setiap kebijakan ekonomi maupun aktivitas dunia usaha.
Selain membahas ekonomi, Prabowo juga menyinggung situasi geopolitik global yang semakin dinamis. Ia menegaskan Indonesia akan terus menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Indonesia tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun dan akan terus menjaga hubungan baik dengan seluruh negara.
Posisi Indonesia yang diterima berbagai negara merupakan modal penting untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus menjaga kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global. "Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak," ujar Presiden Prabowo menegaskan prinsip diplomasi Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi, Akbar Himawan Buchari, mengatakan bahwa selama ini Hipmi telah berupaya melakukan transformasi di tengah tantangan ekonomi global.
Langkah strategis yang dilakukan antara lain digitalisasi keanggotaan, perluasan akses permodalan, serta penguatan program inkubasi bisnis bagi anggota baru di daerah.
"Kami tidak hanya mencetak pengusaha, tetapi juga membangun ekosistem yang berkelanjutan agar UMKM naik kelas dan pengusaha muda mampu bersaing di tingkat global," kata Akbar yang akan mengakhiri masa jabatannya.
Hipmi, lanjut dia, berkomitmen memperkuat peran UMKM di seluruh Indonesia. Saat ini, mayoritas anggota Hipmi merupakan pelaku UMKM dan pengusaha kelas menengah.
Ia menyebut program strategis pemerintahan Presiden Prabowo di sektor ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi, dan Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif terhadap pertumbuhan UMKM serta melahirkan pengusaha baru di daerah.
"Kita tahu bersama bahwa UMKM menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Lebih dari 60 persen PDB disumbangkan oleh UMKM dan lebih dari 93 persen tenaga kerja diserap sektor ini. Karena itu, kami mengapresiasi program-program strategis pemerintah yang mendorong pertumbuhan UMKM di daerah," kata Akbar.
Menurut dia, penyelenggaraan Munas Hipmi menjadi momentum konsolidasi kekuatan ekonomi nasional. "Kita berkumpul di sini untuk menyatukan visi, menyelaraskan langkah, dan memperkuat barisan dalam mendukung agenda besar pemerintahan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi," katanya.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Presiden Prabowo memerintahkan agar arah kebijakan ekonomi yang berbasis pengelolaan sumber daya alam merujuk pada Pasal 33 UUD 1945. Menurut Bahlil, hal tersebut sejalan dengan semangat perjuangan Hipmi.
"Untuk BBM subsidi dan elpiji subsidi tidak ada kenaikan. Itu perintah Presiden," ujar Bahlil. Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk keberpihakan kepada rakyat kecil.
Bahlil juga menyinggung program MBG sebagai program yang mulia. Ia meminta para kader Hipmi mendukung dan ikut menyempurnakan program tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bahlil yang juga menjabat Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi berpesan agar empat calon ketua umum yang berkontestasi dalam pemilihan Ketua Umum Hipmi bertanding secara sehat. Ia juga meminta seluruh anggota Hipmi tetap menjaga semangat keguyuban.
Munas Hipmi 2026 dihadiri lebih dari 2.000 anggota dari seluruh Indonesia. Forum tersebut juga menjadi ajang pemilihan Ketua Umum Hipmi periode 2026-2030 yang diikuti empat kandidat, yakni Reynaldo Bryan, Ade Jona Prasetyo, Afifuddin S. Kalla, dan Anthony Leong.





