BRI Perketat Stress Testing untuk Hadapi Ketidakpastian Ekonomi

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memperketat pelaksanaan stress testing di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko untuk menjaga ketahanan bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha di tengah tingginya volatilitas ekonomi.

Group Head Enterprise & Market Risk BRI, Wita Adriawati, mengatakan perseroan secara rutin melakukan stress testingdengan berbagai skenario guna mengukur kemampuan perusahaan menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Hasil simulasi tersebut kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi agar kinerja perusahaan tetap berada dalam koridor target yang telah ditetapkan.

"Pastinya kita lakukan stress testing dengan multiple scenario. Terus dari multiple scenario itu, kita harus sudah menyediakan bagaimana langkah yang harus dilakukan agar kembali biasanya targetnya sesuai dengan RKAP atau mendekati RKAP," ujar Wita dalam iLearn Thematic Webinar bertajuk Risk Intelligence and Sovereignty, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, peningkatan frekuensi stress testing dilakukan karena dinamika ekonomi saat ini berbeda dibandingkan kondisi normal. Jika sebelumnya pengujian dilakukan secara berkala dalam rentang waktu yang lebih panjang, kini BRI mempercepat pelaksanaannya untuk memperoleh gambaran risiko yang lebih aktual.

"Kita ada regular stress test. Yang tadinya mungkin every three months, ini mungkin every two weeks atau every month. Memang variasi makroekonominya juga agak berbeda dibandingkan kondisi normal sebelumnya," katanya.

Selain itu, hasil stress testing menjadi dasar dalam menentukan respons terhadap potensi peningkatan risiko kredit. Jika rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) menunjukkan tren kenaikan, BRI akan mempercepat langkah restrukturisasi maupun melakukan penyesuaian strategi pengelolaan portofolio kredit.

Tidak hanya memperkuat pemantauan risiko, BRI juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif melalui recovery plan yang menjadi kewajiban industri perbankan sesuai ketentuan regulator.

Perseroan bahkan memiliki contingency plan yang disusun berdasarkan arahan Kementerian BUMN untuk menghadapi berbagai skenario tekanan ekonomi.

"Jadi, itu sebenarnya bagian dari kita sudah menyiapkan, sudah antisipatif terhadap risiko ke depan, di mana di sana sudah tercantum kondisi-kondisi yang akan menyebabkan kondisi kita itu berpengaruh, terutama bukan hanya terhadap RKAP, tetapi lebih kepada keberlanjutan usaha," ujarnya.

Baca Juga: BRI Tegaskan Fundamental Perbankan Kuat Usai BI Rate Naik Jadi 5,50%

Baca Juga: BRI Hadirkan Akses Kredit Cair Cepat Tanpa Agunan, Ini Syarat dan Cara Pengajuannya

Wita menambahkan, dalam industri perbankan, aspek likuiditas dan permodalan menjadi fokus utama dalam setiap skenario pemulihan. Karena itu, berbagai rencana aksi telah disiapkan secara rinci untuk memastikan kemampuan bank menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.

"Kalau misalnya bank itu biasanya yang dilihat adalah likuiditas dan juga permodalan. Di dokumen itu juga sudah termasuk langkah-langkah yang akan kita lakukan," kata Wita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bapanas Minta Tambahan Anggaran Jadi Rp 17,7 Triliun untuk Program Pangan 2027
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda
• 14 jam laluerabaru.net
thumb
Prabowo Terbang ke Lampung, Resmikan RSUD Muhammad Thohir Krui dan Buka Munas HIPMI
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Desa Didorong Jadi Lokomotif Ekonomi dan Ketahanan Pangan Nasional
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
New Look by Dr. Song Luncurkan Perawatan Rejuvenasi Kewanitaan, Gandeng V-Sport Studio
• 12 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.