JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah riuh lalu lintas Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, deru mesin pemotong besi terdengar bersahut-sahutan dengan klakson kendaraan yang tak pernah berhenti.
Di atas trotoar yang sempit, deretan gerobak sederhana berdiri rapat, masing-masing memajang papan bertuliskan “Duplikat Kunci”.
Jarak antarlapak hanya sekitar lima hingga sepuluh meter. Dari ujung ke ujung, kawasan ini seperti berubah menjadi sentra tak resmi jasa duplikat kunci di ruang publik Jakarta.
Baca juga: Kronologi Tabung Oksigen Terpental hingga Timpa Warung di Jakut
Di balik kesederhanaan itu, tersimpan aktivitas ekonomi yang tak sedikit. Para pelaku usaha mengaku bisa mengantongi hingga sekitar Rp 9 juta per bulan, tergantung ramainya pelanggan dan jenis layanan yang dikerjakan.
Setiap kali kendaraan besar melintas, gantungan itu bergetar pelan, menghasilkan bunyi kecil yang menyatu dengan kebisingan jalanan.
Di dalam ruang kerja sempit berukuran sekitar satu meter, dua mesin utama menjadi andalan. Mesin potong manual dengan tuas engkol digunakan untuk mengikis kuningan kunci.
Di sisi lain, mesin bor vertikal bermerek WENXING dipakai untuk membuat pola kunci modern seperti dimple key yang lebih kompleks.
Ketika proses duplikasi berlangsung, suasana berubah pekak. Gesekan logam berkecepatan tinggi menghasilkan suara nyaring yang memantul ke trotoar.
Serbuk kuningan halus beterbangan di atas meja kayu yang mulai lapuk, bercampur dengan kaleng biskuit bekas berisi oli mesin.
Namun di balik bisingnya suara mesin itu, aktivitas berjalan tenang. Para pekerja duduk santai di kursi plastik atau di pembatas jalan, sesekali menatap ponsel sambil menunggu pelanggan datang.
Salah satu tukang duplikat kunci, Eko (55), mengaku telah menjalankan pekerjaan tersebut sejak awal 1990-an. Ia sudah lebih dari 30 tahun bergelut dengan kunci dan mesin duplikasi.
“Dari dulu memang di sini sudah banyak yang jualan seperti ini,” ujar Eko saat ditemui Kompas.com di lapaknya, Selasa (9/6/2026).
Eko baru dua bulan menempati lokasi tersebut setelah sebelumnya berjualan di wilayah Kalibata, Jakarta Selatan. Ia pindah mengikuti rekan sesama tukang kunci yang lebih dulu membuka lapak di Ragunan.
Baca juga: TNI Penyiram Andrie Yunus Divonis hingga 3 Tahun, TAUD: Tak Berpihak ke Korban
Menurut dia, usaha duplikat kunci tidak memerlukan modal besar, tetapi membutuhkan ketelatenan dan pengalaman.
“Belajar sendiri saja, lihat orang, coba-coba. Tidak ada sekolahnya,” kata dia mengenang masa awal-awal menjadi penduplikat kunci.
Meski teknologi kunci digital mulai berkembang, ia menilai permintaan kunci konvensional masih stabil. Kunci rumah, motor, hingga kendaraan lama masih menjadi pasar utama.
Rp 9 Juta per Bulan dari TrotoarDalam kondisi normal, Eko mengaku penghasilan kotor dari usaha ini bisa hampir mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Angka itu naik turun tergantung keramaian pelanggan.
“Kadang ramai, kadang sepi. Kalau kotor bisa sampai Rp 9 juta,” ujar dia.
Harga jasa duplikat kunci bervariasi. Untuk kunci rumah berkisar Rp 15.000 hingga Rp 20.000, kunci motor Rp 30.000 hingga Rp 40.000, sedangkan kunci mobil bisa mencapai Rp 70.000.
Untuk kunci tertentu yang lebih rumit, tarifnya bisa menembus ratusan ribu rupiah.
Namun, Eko menuturkan bahwa kondisi usahanya beberapa tahun lalu jauh lebih ramai dibanding kini, ketika jumlah pelaku usaha belum sebanyak saat ini. Pada masa itu, pendapatan para pedagang bisa jauh lebih tinggi.
“Dulu waktu belum banyak yang dagang, bisa Rp 15 juta sampai Rp 30 juta sebulan. Sekarang sudah banyak yang buka, jadi pelanggan terbagi,” ujar dia.
Eko juga menyebut, dari pengamatannya selama bertahun-tahun, banyak rekan sesama pedagang di wilayah tersebut yang berhasil meningkatkan taraf hidup dari usaha duplikat kunci.
Baca juga: Pertamax Rp 16.250 per Liter, Kelas Menengah Jadi Kelompok Paling Terjepit
Bahkan, tidak sedikit yang mampu membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi, serta membangun rumah dari hasil usaha tersebut.





