Last Match yang Tak Pernah Jadi Terakhir

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

“Satu match lagi deh”, kalimat ini mungkin jadi salah satu kalimat yang sering banget diucapkan oleh para pemain Mobile Game. Tapi lucunya, setelah kalah bukannya berhenti tapi malah terus lanjut lagi. Alasannya sederhana: “masa kalah doang langsung off?”

Akhirnya satu match berubah jadi dua match, dua match berubah jadi empat match, dan begitupun selanjutnya. Hasilnya? Jam tidur jadi berantakan, emosi makin naik turun, dan mood jadi bergantung sama hasil game.

Fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal kebiasaan main game biasa. Dalam psikologi, kondisi seperti ini berkaitan dengan regulasi emosi dan self-control atau kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi serta dirinya sendiri.

Kenapa Harus Menang Dulu Baru Bisa Tenang?

Banyak pemain mobile game merasa belum bisa berhenti kalau belum menang. Walaupun sudah lelah, mengantuk, atau bahkan kesal sendiri, tetap saja muncul pikiran, “harus menang sekali lagi baru off.” Hal ini dapat terjadi karena otak manusia secara alami mencari rasa puas dan penyelesaian. Ketika kalah, apa lagi kalah tipis, muncul perasaan seperti ada sesuatu yang belum selesai. Akibatnya, pemain terdorong untuk mencoba lagi demi mendapatkan rasa lega dari kemenangan tersebut.

Di dalam game kompetitif, kemenangan bukan cuma soal poin atau rank, tetapi juga berkaitan dengan emosi dan harga diri. Menang bisa membuat seseorang merasa lebih mampu, lebih dihargai, dan lebih percaya diri. Sebaliknya, kekalahan sering memicu rasa kecewa, malu, ataupun marah, terutama jika permainan sudah dilakukan berkali-kali. Oleh karena itu, banyak pemain yang akhirnya bermain bukan untuk bersenang-senang lagi, melainkan untuk memperbaiki suasana hati mereka sendiri.

Masalahnya, ketika seseorang bermain dalam kondisi emosional, keputusan yang diambil biasanya jadi kurang rasional. Pemain cenderung terburu-buru, mudah terpancing, dan sulit untuk fokus. Ironisnya, semakin ingin cepat menang demi merasa tenang, semakin besar kemungkinan mereka kembali kalah. Siklus inilah yang membuat banyak orang terjebak dalam pola “last match” yang tidak pernah benar-benar selesai.

Di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bagaimana game dapat mempengaruhi regulasi emosi dan self-control seseorang. Pemain yang mampu menerima kekalahan dengan santai biasanya lebih mudah berhenti dan menjaga mood tetap stabil. Sementara pemain yang terlalu bergantung pada kemenangan untuk merasa puas cenderung lebih sulit mengontrol diri. Pada akhirnya, rasa tenang seharusnya tidak datang hanya karena menang dalam game, tetapi juga karena kemampuan seseorang mengendalikan emosinya sendiri.

Self-Control: Musuh Terbesar Ada di Diri Sendiri

Dalam mobile game, banyak orang berpikir tantangan terbesar adalah lawan yang jago, rank yang sulit naik, atau matchmaking yang sering bikin kesal. Padahal, musuh paling berat seringkali justru ada di dalam diri sendiri, yaitu kemampuan mengontrol keinginan dan emosi saat bermain. Self-control menjadi hal penting karena game modern dirancang agar pemain terus merasa ingin bermain lagi, entah karena penasaran, ingin balas dendam setelah kalah, atau sekadar mengejar kemenangan berikutnya.

Kemampuan mengontrol diri sebenarnya terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, bisa berhenti bermain saat waktu istirahat sudah habis, tidak memaksakan push rank ketika emosi sedang buruk, atau mampu menerima kekalahan tanpa melampiaskannya ke orang lain. Sayangnya, tidak semua pemain mampu melakukan itu. Banyak yang akhirnya bermain terlalu lama sampai lupa waktu, mudah marah saat kalah, bahkan tetap lanjut bermain walaupun tubuh dan pikirannya sudah lelah.

Ketika self-control mulai menurun, game yang awalnya hanya hiburan bisa berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Pemain menjadi lebih impulsif dan cenderung mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat. Contohnya seperti berkata kasar pada teman satu tim, bermain terus demi “balik modal kemenangan”, atau mengorbankan waktu tidur hanya karena belum puas dengan hasil pertandingan terakhir. Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, padahal jika terus dibiarkan dapat memengaruhi keseharian seseorang.

Di sisi lain, self-control juga bisa dilatih melalui pengalaman bermain game itu sendiri. Pemain yang belajar mengatur waktu bermain, menjaga emosi saat kalah, dan tahu kapan harus berhenti biasanya memiliki hubungan yang lebih sehat dengan game. Mereka tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Pada akhirnya, kemampuan mengendalikan diri inilah yang menentukan apakah seseorang bermain game untuk hiburan, atau justru dikendalikan oleh permainannya sendiri.

Game Tidak Selalu Buruk, Asal Tahu Batasnya

Mobile game sering mendapat cap negatif karena dianggap membuat orang malas, lupa waktu, atau terlalu emosional. Padahal, game tidak selalu membawa dampak buruk ke kehidupan kita. Dalam banyak kasus, game justru bisa menjadi sarana hiburan yang membantu seseorang melepas penat setelah aktivitas sehari-hari. Bermain game juga dapat melatih kerja sama tim, kemampuan berpikir cepat, strategi, hingga komunikasi, terutama pada game yang dimainkan secara kompetitif bersama pemain lain.

Selain itu, bagi sebagian orang, game menjadi tempat untuk bersosialisasi dan membangun pertemanan. Tidak sedikit pemain yang merasa lebih dekat dengan teman-temannya karena sering bermain bersama, berdiskusi strategi, atau saling membantu dalam permainan. Bahkan di era sekarang, dunia game juga berkembang menjadi bagian dari industri kreatif dan olahraga elektronik yang membuka banyak peluang baru.

Meski begitu, dampak positif tersebut tetap bergantung pada bagaimana seseorang mengatur kebiasaan bermainnya. Ketika game dimainkan secara berlebihan hingga mengganggu waktu belajar, pekerjaan, tidur, atau hubungan sosial, maka hiburan bisa berubah menjadi masalah. Banyak pemain yang awalnya hanya ingin bermain sebentar, tetapi akhirnya sulit berhenti karena terbawa emosi atau terlalu fokus mengejar kemenangan. Di titik ini, yang bermasalah sebenarnya bukan gamenya, melainkan kurangnya kontrol terhadap diri sendiri.

Karena itu, hal yang paling penting bukanlah menghindari game sepenuhnya, tetapi memahami batas yang sehat saat bermain. Bermain game boleh saja selama tetap bisa membagi waktu, menjaga emosi, dan tidak menjadikan game sebagai pelarian utama dari masalah kehidupan nyata. Dengan begitu, game dapat tetap menjadi hiburan yang menyenangkan tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.

Belajar Mengatur Emosi dari Game

Banyak orang menganggap game hanya tempat mencari hiburan atau melepas stres, padahal tanpa disadari game juga bisa menjadi ruang untuk belajar mengatur emosi. Dalam satu pertandingan, pemain bisa merasakan berbagai emosi sekaligus, mulai dari senang, tegang, kecewa, marah, hingga bangga. Semua emosi itu muncul dengan cepat dan terus berubah mengikuti jalannya permainan. Karena itulah, game sering menjadi “latihan kecil” tentang bagaimana seseorang merespons tekanan dan mengendalikan dirinya sendiri.

Saat mengalami kekalahan, pemain dituntut untuk tetap tenang dan tidak langsung terbawa emosi. Tidak semua pertandingan berjalan sesuai harapan, dan tidak semua kesalahan berasal dari diri sendiri. Ada kalanya strategi gagal, koneksi buruk, atau kerja sama tim tidak berjalan baik. Dalam kondisi seperti ini, pemain yang mampu mengontrol emosinya biasanya akan lebih fokus mencari solusi dibanding melampiaskan kemarahan kepada orang lain. Sikap seperti ini menunjukkan adanya kemampuan regulasi emosi yang baik.

Sebaliknya, pemain yang sulit mengendalikan emosi cenderung lebih mudah terpancing. Hal kecil seperti kalah tipis atau komentar dari teman satu tim bisa memicu rasa kesal berlebihan. Akibatnya, permainan berikutnya justru menjadi lebih buruk karena keputusan diambil berdasarkan emosi, bukan fokus dan strategi. Dari sini terlihat bahwa kemampuan bermain game tidak hanya ditentukan oleh skill mekanik, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kestabilan emosi saat berada di bawah tekanan.

Menariknya, pengalaman-pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Belajar menerima kekalahan, bersabar, bekerja sama, dan tetap tenang dalam situasi tidak menyenangkan merupakan kemampuan yang juga dibutuhkan di dunia nyata. Oleh karena itu, game s

ebenarnya tidak hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang belajar memahami dan mengendalikan emosinya sendiri.

Penulis: Naufal Ali Rabbani Fauzi, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua DPRD Jateng Bantah Terlibat Kasus Dugaan Korupsi MBG, Ngaku tak Kenal Sony Sonjaya
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ini Jadwal Pembayaran Dividen Telkom (TLKM), Nilainya Rp222 per Saham
• 16 menit laluidxchannel.com
thumb
Kapolri Bicara UU Polri Baru: Jadi Payung Hadapi Tantangan Baru
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Tips Memilih Wedding Organizer yang Terpercaya untuk Hari Pernikahan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Berprestasi di Tiga Ajang Sekaligus, Penari Muda Wilujeng Arimbi Yuwono Jadi Sorotan di Panggung Balet Internasional
• 22 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.