- Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG dan Rupiah menguat sementara SBN kembali melemah
- Wall Street ambruk setelah perang iran kembali memanas
- Penjualan eceran RI, suku bunga Uni Eropa, dan hasil Inflasi AS akan menjadi penggerak utama pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Rabu (10/6/2026). Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup menguat menjadi yang tertinggi di antara seluruh bursa Asia lainnya, namun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tetap kembali melambung tinggi.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi banyak tekanan pada hari ini setelah perang memanas. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melesat pada perdagangan kemarin, Rabu (10/6/2026), melanjutkan reli usai kemarin berhasil bangkit dari tekanan jual yang menghantam pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG sesi pertama melesat 2,71% atau naik 155 poin ke posisi 5.902,37. Sebanyak 571 saham naik, 148 turun dan 96 tidak bergerak.
Kenaikan indeks juga diiringi aktivitas transaksi yang ramai. Tercatat volume perdagangan mencapai sekitar 46,67 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 31,73 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 3,1 juta kali.
Adapun saham yang paling ramai ditransaksikan kemarin termasukPT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA.
Walaupun IHSG mengalami kenaikan lanjutan, pasar saham Indonesia masih ditutup pada net foreign outflow mencapai Rp3,13 triliun
Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin masih sejalan dengan respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang di luar perkiraan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026).
Kenaikan tersebut diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan untuk mengevaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang telah ditetapkan dalam RDG Bulanan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kenaikan BI Rate menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Langkah tersebut juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.
Sementara di pasar SBN, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun Indonesia kembali ditutup melonjak ke level 7,479% atau naik sebesar 1,01% dari hari sebelumnya di mana ditutup pada level 7,404% menjadikannya kenaikan dalam 5 hari beruntun.
Ini mengindikasikan bahwa pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih melakukan tren penjualan oleh investor akibat satu dan lain hal terutama efek domino dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia kemarin pada Selasa (9/6/2026).
(gls/gls) Add as a preferred
source on Google




