Uji Klinis Terapi Peremajaan Sel Manusia, Membuka Jalan Awet Muda

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS-Sebuah eksperimen yang selama bertahun-tahun hanya hidup di laboratorium kini memasuki tahap paling menentukan. Untuk pertama kalinya, seorang pasien glaukoma menerima terapi gen yang dirancang untuk menjadikan sel-sel tua kembali ke kondisi yang lebih muda.

Jika berhasil, pendekatan ini bukan sekadar membuka jalan baru untuk mengobati penyakit mata. Ia bisa mengubah cara manusia memandang penuaan itu sendiri.

Uji klinis yang dimulai oleh perusahaan bioteknologi Life Biosciences di Boston, Amerika Serikat, seperti dilaporkan Nature pada Rabu (10/6/2026). Perusahaan ini menguji teknik yang dikenal sebagai partial cellular reprogramming atau pemrograman ulang parsial sel. Metode ini bekerja dengan mengaktifkan tiga gen tertentu yang diyakini mampu mengembalikan sebagian karakteristik muda pada sel-sel yang telah menua.

Baca JugaTransplantasi Rambut untuk Mengatasi Kerontokan
Baca JugaCegah Penuaan Dini dengan Aneka Hidangan Segar

Para ilmuwan telah lama berspekulasi bahwa teknik tersebut dapat meremajakan organ-organ yang rusak akibat usia. Namun, kali ini tujuannya lebih spesifik, yaitu mengobati glaukoma, penyakit yang merusak saraf optik dan menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di dunia.

Harapannya, protein yang dihasilkan oleh ketiga gen itu mampu memicu regenerasi neuron pada saraf optik, yaitu jaringan yang menghubungkan mata dengan otak. Pada manusia dewasa, neuron-neuron ini hampir tidak memiliki kemampuan untuk tumbuh kembali setelah rusak.

Pengumuman bahwa pasien pertama telah menerima terapi tersebut menandai dimulainya salah satu eksperimen paling ambisius dalam dunia biologi penuaan.

Harapan besar, risiko besar

Jalan menuju peremajaan sel manusia tidak bebas dari bahaya. Selama bertahun-tahun, para peneliti menunjukkan bahwa pemrograman ulang parsial dapat dilakukan dengan aman pada tikus dan hewan percobaan lainnya. Meski demikian, kekhawatiran masih membayangi, apakah manipulasi genetik ini dapat mendorong sebagian sel berubah menjadi kanker.

“Pemrograman ulang memiliki potensi besar jika dapat digunakan dengan aman pada manusia,” kata Matt Kaeberlein, salah satu pendiri perusahaan kesehatan umur panjang Optispan di Seattle, seperti dilaporkan Nature.

Namun ia mengingatkan bahwa teknologi ini masih berada pada tahap yang sangat awal. “Teknologi ini masih sangat awal, dan potensi efek samping yang fatal sangat tinggi,” kata Kaeberlein.

Tujuan utama pemrograman ulang parsial adalah mendorong sel-sel yang menua bergerak mundur ke fase yang lebih muda tanpa menghapus identitas biologisnya.

Baca JugaTelomer, Usia, dan Kesehatan
Baca JugaSel Punca Hambat Proses Penuaan

Karena itu, mata dianggap sebagai lokasi yang relatif aman untuk uji coba pertama. Risiko yang mungkin muncul dinilai lebih terbatas dibandingkan jika teknologi serupa langsung diterapkan pada organ-organ vital lain seperti hati, jantung, atau otak.

Tujuan utama pemrograman ulang parsial adalah mendorong sel-sel yang menua bergerak mundur ke fase yang lebih muda tanpa menghapus identitas biologisnya. Para ilmuwan ingin mengembalikan kemampuan regeneratif sel tanpa membuatnya kembali menjadi sel punca (stem cell) yang kehilangan fungsi khususnya.

Untuk mencapai hal itu, Life Biosciences menggunakan tiga dari empat gen yang dikenal mampu mengubah sel dewasa menjadi sel mirip punca di laboratorium. Pendekatan ini memperoleh perhatian besar setelah penelitian yang dipimpin ahli genetika David Sinclair dari Harvard Medical School pada 2020. Dalam studi tersebut, aktivasi tiga gen tersebut berhasil merangsang regenerasi saraf optik pada tikus yang mengalami kerusakan mata, sekaligus memulihkan penglihatan pada tikus tua dan tikus dengan glaukoma.

Sejak saat itu, Life Biosciences melanjutkan penelitian pada tikus dan monyet. Menurut kepala ilmuwan perusahaan, Sharon Rosenzweig-Lipson, hingga kini mereka belum menemukan efek samping serius.

Kini teknologi yang selama ini hanya diuji pada hewan akhirnya memasuki tahap pengujian pada manusia. Dalam fase awal uji klinis, perusahaan berencana merawat hingga 12 pasien glaukoma. Sebagian peserta juga akan berasal dari penderita non-arteritic anterior ischemic optic neuropathy (NAION), kondisi akut yang menyebabkan kerusakan saraf mata dan kehilangan penglihatan mendadak.

Untuk mengirimkan gen ke dalam sel retina, para peneliti menggunakan virus yang telah lama dipakai dalam terapi gen. Sebagai lapisan keamanan tambahan, gen-gen tersebut hanya aktif ketika pasien mengonsumsi antibiotik doksisiklin. Jika obat dihentikan, gen akan otomatis mati.

Strategi ini, menurut Rosenzweig-Lipson, memberikan fleksibilitas yang sangat penting. “Memberi kita banyak kendali,” katanya. Sistem tersebut memungkinkan para ilmuwan “mengaktifkan dan menonaktifkan gen” serta memastikan ekspresi gen tidak berlangsung lebih lama daripada yang diperlukan untuk meremajakan sel.

Baca JugaPenuaan, Bisa Ditunda atau Dibalik?
Baca JugaPerlambat Penuaan dengan Konsumsi Rutin Omega-3
Implikasi uji klinis

Keberhasilan terapi ini dinilai akan berdampak besar, meskipun belum tentu berarti manusia telah menemukan jalan menuju awet muda. Bagi pasien glaukoma dan NAION, manfaatnya bisa sangat nyata, peluang memulihkan saraf yang selama ini dianggap tidak dapat diperbaiki.

Namun apakah sel yang telah diprogram ulang benar-benar menjadi lebih muda, masih sulit dipastikan. Demikian halnya, apakah teknologi serupa suatu hari dapat memperpanjang umur manusia secara keseluruhan juga masih belum jelas.

Menurut ahli neurobiologi translasi Pete Williams dari Centre for Eye Research Australia di Melbourne, jawaban atas pertanyaan itu masih jauh dari pasti. Untuk saat ini, Life Biosciences memilih langkah yang lebih hati-hati.

“Saat ini kami belum mengupayakan peremajaan seluruh tubuh,” ujar Rosenzweig-Lipson. “Kami berharap bisa sampai ke sana suatu hari nanti, tetapi kami belum sampai di sana sekarang.”

Bagi pasien glaukoma dan NAION, manfaatnya bisa sangat nyata, peluang memulihkan saraf yang selama ini dianggap tidak dapat diperbaiki.

Meski demikian, perusahaan telah mulai mengeksplorasi pendekatan serupa pada model penyakit hati, sebuah sinyal bahwa cakupan teknologi ini bisa meluas di masa depan.

Williams menyambut baik munculnya terapi baru untuk kerusakan saraf retina, bidang penelitian yang menurutnya selama ini kurang mendapat perhatian dan pendanaan. Namun ia juga mengingatkan bahwa ekspektasi publik yang terlalu tinggi bisa menjadi pedang bermata dua. “Ini telah mendapat banyak perhatian. Jika ini gagal total, itu mungkin akan merugikan kita semua di masa depan,” kata dia.

Karena itulah, uji klinis ini bukan sekadar percobaan untuk mengobati kebutaan. Ia juga menjadi ujian pertama bagi gagasan yang lebih besar: apakah penuaan benar-benar dapat dibalik, ataukah manusia masih terlalu dini untuk menantang jam biologis yang selama ini dianggap tak bisa dielakkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG: 23 Kota Berpotensi Diguyur Hujan Hari Ini Kamis 11 Juni 2026, 4 Wilayah Hujan Petir
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Setelah 70 Tahun, Toyota Akhirnya Masuk Ajang Balap Bergengsi Eropa
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Prabowo Sebut Ekonomi AS, Jepang, hingga Eropa Bisa Maju karena Nasionalisme
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Dony Oskaria Memaparkan Tiga Pilar Transformasi Ekonomi untuk Mendukung Visi Indonesia Emas 2045
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Industri Aset Digital Dorong Peningkatan Ekosistem Hospitality Bandara
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.