Kabar cukup mengejutkan datang dari industri otomotif Jepang. Sejumlah manufaktur diketahui tengah menyiapkan kebijakan baru soal penggunaan suku cadang dalam proses produksi kendaraan mereka.
Disitat Topgear Philippines, dalam laporan Nikkei Asia itu menyatut juga beberapa raksasa otomotif Negeri Sakura seperti Toyota, Honda, hingga Nissan yang disebutkan telah mengambil keputusan yang cukup berani.
Pasalnya, ketiganya termasuk delapan perusahaan lainnya sepakat untuk tetap menggunakan komponen kendaraan yang memiliki cacat (defect) estetika ringan dalam proses perakitan. Dikatakan juga, manuver tersebut telah disetujui oleh organisasi dan asosiasi.
Kebijakan ini diambil setelah berkolaborasi dengan sekitar 450 pemasok suku cadang di bawah naungan JAMA (Japan Automobile Manufacturers Association) dan JAFA (Japan Automotive Parts Industries Association).
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan mendasar, industri otomotif Jepang sedang dilanda tekanan berat pada rantai pasok global, khususnya konflik yang terus memanas di wilayah Timur Tengah. Mengganggu distribusi material krusial.
Sebut saja seperti aluminium olahan dan nafta, padahal industri otomotif Jepang sangat bergantung pada pasokan dari wilayah tersebut. Pelonggaran standar demi menghindari penundaan produksi massal dinilai menjadi keputusan paling logis saat ini.
Kendati demikian, konsumen diimbau untuk tidak serta merta khawatir perihal tersebut. Komponen yang tidak sempurna itu sengaja dipilih yang tidak memiliki hubungan atau tidak berdampak langsung pada keselamatan dan performa kendaraan.
Artinya, komponen yang sifatnya untuk aspek kosmetika. Misalnya cacat ringan berupa bintik hitam kecil, goresan halus, atau sisa potong cetakan (burrs and flash) yang tidak kasat mata setelah mobil selesai dirakit.
Contoh yang sudah diaplikasikan, komponen konektor plastik yang biasa digunakan pada rangkaian kabel kelistrikan kendaraan atau wiring harness sebelumnya sering kali ditolak. Misal hanya karena adanya bintik hitam pada permukaannya.
Melalui standardisasi baru yang lebih longgar ini, pabrikan mampu menekan limbah komponen hingga 10 ribu unit per bulan di pasar domestik Jepang. Selain mampu mengurangi pembuangan material secara signifikan.
Kebijakan baru ini juga diklaim bakal mempercepat waktu inspeksi kualitas di lantai pabrik. Proses produksi menjadi jauh lebih efisien karena tim quality control tak perlu lagi membuang waktu debat soal cacat visual yang nihil pada fungsi teknis komponen.
Toyota sendiri dikabarkan bergerak cepat dengan membentuk tim khusus yang bertugas mengevaluasi komponen bersama para pemasok berdasarkan kriteria baru tersebut. Mereka juga rutin menggelar pertemuan peninjauan bersama dengan pabrikan rekanan serta produsen suku cadang lainnya di Jepang.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pelonggaran standar tetap berjalan koridor aturan nasional yang berlaku tanpa mengorbankan kualitas mekanis kendaraan. Sekaligus menjadi fenomena unik bagi industri Jepang yang dikenal ketat soal mutu.





