BYD dan Nio Masuk Dalam Daftar Perusahaan Terafiliasi Militer di Amerika!

medcom.id
13 jam lalu
Cover Berita
Washington DC: Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD) memperbarui daftar perusahaan yang dikategorikan sebagai "Chinese Military Companies" atau perusahaan yang diduga memiliki keterkaitan dengan militer China.
 
Dalam pembaruan terbaru daftar Section 1260H tersebut, sejumlah perusahaan kendaraan listrik, baterai, hingga teknologi masuk ke dalam daftar pengawasan Washington.
 
Beberapa nama besar yang masuk dalam daftar terbaru antara lain BYD, Nio, CALB, Alibaba, Baidu, EVE Energy, Hesai Technology, RoboSense, TP-Link, Unitree Robotics, hingga perusahaan farmasi WuXi AppTec.

Langkah Pentagon ini menandai semakin luasnya pengawasan pemerintah Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan teknologi asal China yang dinilai memiliki keterkaitan dengan strategi military-civil fusion atau integrasi sipil dan militer yang diterapkan Beijing, seperti diberikan Carnewschina.
 
Meski demikian, masuknya sebuah perusahaan ke dalam daftar Section 1260H tidak otomatis membuat perusahaan tersebut terkena sanksi atau larangan beroperasi di Amerika Serikat. Namun, status tersebut dapat mempersulit hubungan bisnis dengan mitra asal AS, membatasi peluang dalam pengadaan pemerintah, serta meningkatkan risiko hukum dan reputasi perusahaan. Baca Juga:
'Mobil Tiktok' Bantah Akan Diluncurkan Bersama Seres BYD dan Nio Jadi Sorotan Dalam dokumen Departemen Pertahanan AS, BYD disebut memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan State-owned Assets Supervision and Administration Commission (SASAC) serta keterkaitan dengan Ministry of Industry and Information Technology (MIIT) China. Pentagon menilai BYD sebagai kontributor military-civil fusion karena afiliasinya dengan MIIT dan keterkaitannya dengan kawasan industri yang berhubungan dengan program integrasi sipil dan militer China.
 
Sementara itu, Nio juga disebut memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan SASAC serta dianggap sebagai kontributor military-civil fusion melalui afiliasinya dengan MIIT.
 
Masuknya BYD dalam daftar tersebut menarik perhatian karena produsen kendaraan listrik terbesar di dunia itu telah memiliki fasilitas manufaktur di Amerika Serikat. Perusahaan tersebut membuka pabrik bus listrik di Lancaster, California, pada 2013 dan mulai berproduksi setahun kemudian. Fasilitas tersebut kemudian diperluas hingga memiliki luas lebih dari 500 ribu kaki persegi. Produsen Baterai dan Teknologi Ikut Masuk Daftar Selain produsen kendaraan listrik, Pentagon juga memasukkan sejumlah perusahaan yang memiliki peran penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global. CALB, salah satu produsen baterai terbesar China, turut masuk dalam daftar tersebut. Perusahaan ini diketahui memasok baterai untuk sejumlah produsen otomotif seperti Xpeng, Leapmotor, GAC, Mazda, Changan, dan Deepal.
 
CALB sudah memperkenalkan sel baterai solid-state berkapasitas 60 Ah yang ditujukan untuk robot humanoid dan pesawat eVTOL, dengan rencana penerapan terbatas pada kendaraan mulai 2027. Baca Juga:
Mengenal Cara Kerja Teknologi MIVEC Mitsubishi
Nama lain yang ikut masuk adalah EVE Energy, pemasok baterai untuk Tesla, BMW, dan Mercedes-Benz. Pentagon menyebut perusahaan tersebut memiliki keterkaitan dengan SASAC serta menerima dukungan pemerintah China melalui program industri tertentu.
 
Di sektor teknologi otomotif, dua perusahaan lidar terkemuka China, Hesai dan RoboSense, juga masuk dalam daftar. Keduanya merupakan pemasok teknologi sensor penting bagi kendaraan otonom dan sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS). Bagian dari Pengawasan Teknologi China Daftar Section 1260H merupakan instrumen berbeda dari Entity List milik Departemen Perdagangan AS maupun daftar sanksi yang dikelola Departemen Keuangan AS.
 
Meski tidak secara langsung melarang aktivitas bisnis perusahaan di Amerika Serikat, masuknya perusahaan ke dalam daftar ini dapat menjadi langkah awal menuju pembatasan yang lebih ketat di masa depan.
 
Pembaruan terbaru menunjukkan bahwa fokus pengawasan Amerika Serikat kini semakin meluas, tidak hanya pada sektor pertahanan dan telekomunikasi, tetapi juga kendaraan listrik, baterai, kecerdasan buatan, robotika, bioteknologi, semikonduktor, energi surya, hingga teknologi lidar.
 
Langkah tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian Washington terhadap perkembangan teknologi China yang dinilai berpotensi mendukung kepentingan militer maupun strategi integrasi sipil dan militer negara tersebut.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkes Apresiasi Program Dokter Spesialis Keliling di Jateng
• 12 jam laludetik.com
thumb
Merawat Kenangan di Makam Anabul Ragunan, Tradisi Tujuh Harian hingga Ziarah Ulang Tahun
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Kementerian HAM Jalani Penilaian Guinness World Records Usai Gelar Pendidikan HAM dengan Ribuan Peserta
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Logis 08 Berdemonstrasi di Kantor KPK, Begini Tuntutannya
• 11 menit lalujpnn.com
thumb
Trump Mengaku Tak Masalah dengan Lonjakan Inflasi AS
• 9 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.