BANDUNG, KOMPAS—Pemerintah Kota Bandung resmi menetapkan PT Fauna Land Ancol sebagai pengelola baru Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo, Rabu (10/6/2026) sore. Para pekerja bersyukur konflik di dalam manajemen Bandung Zoo yang membuatnya sempat ditutup 10 bulan kini berakhir.
Pemkot Bandung menetapkan PT Fauna Land Ancol sebagai pengelola baru Bandung Zoo. Penetapan itu seusai rangkaian proses seleksi terbuka.
Penetapan ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan Bandung Zoo sebagai lembaga konservasi, sarana edukasi lingkungan, ruang rekreasi keluarga, serta salah satu aset publik yang memiliki nilai historis dan sosial bagi masyarakat Kota Bandung.
Sulhan Syafi’i dari Humas Serikat Pekerja Bandung Zoo pada Kamis (11/6/2026) mengatakan, pihaknya menyambut baik penetapan Fauna Land sebagai pengelola baru Bandung Zoo. Ia pun meminta polemik serupa tak terulang lagi dan masyarakat kembali mendapatkan fasilitas publik sebagai wahana rekreasi dan edukasi.
“Kami bersyukur polemik ini segera berakhir. Tak ada lagi penutupan Bandung Zoo,” kata Sulhan.
Masalah di Bandung Zoo muncul setelah adanya konflik di antara manajemen pada Agustus 2025. Penyebabnya adalah dualisme kepemimpinan Yayasan Margasatwa Tamansari.
Akibat konflik, Bandung Zoo ditutup. Pekerja kebun binatang itu sampai harus mengamen dan membuka donasi untuk mengumpulkan biaya operasional dan memberi makan satwa-satwa.
Kami bersyukur polemik ini segera berakhir. Tak ada lagi penutupan Bandung Zoo.
Sejak 5 Februari 2026, pengawasan dan operasionalisasi kebun binatang diserahkan kepada Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar.
Ia pun berharap Fauna Land menjalankan syarat utama yang ditetapkan Pemkot Bandung sebagai pengelola Bandung Zoo. Syarat itu adalah tetap mempertahankan seluruh pekerja Bandung Zoo.
“Total sebanyak 121 pekerja Bandung yang tetap bertahan selama polemik ini untuk menjaga kesejahteraan para satwa. Kami siap bekerja sama dengan pengelola yang baru,” tuturnya.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, berpendapat, calon pengelola Bandung Zoo harus memahami bahwa pengelolaan sebuah lembaga konservasi satwa semestinya tidak bersifat proyek dan komersial saja. Pengelola harus kompeten melaksanakan biosekuriti dan menjaga kesejahteraan satwa.
“Calon pengelola harus memiliki sumber daya yang memadai, baik dalam keuangan maupun pakan. Hal ini untuk memastikan kesejahteraan satwa tak lagi bermasalah,” tuturnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengapresiasi Panitia Seleksi yang telah menjalankan seluruh tahapan secara cermat dan profesional. Farhan juga menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Kehutanan yang terus memberikan dukungan, pendampingan dan perhatian terhadap keberlangsungan fungsi konservasi Bandung Zoo selama proses penataan pengelolaan berlangsung.
"Terima kasih Kementerian Kehutanan yang terus memberikan dukungan dan pendampingan sehingga proses ini dapat berjalan dengan baik dan tetap menempatkan fungsi konservasi sebagai prioritas utama," kata Farhan.
Menurut Farhan, Pemkot Bandung menempatkan fungsi konservasi, kesejahteraan satwa dan kepentingan publik sebagai pertimbangan utama dalam proses seleksi. Ia berharap pengelola baru menghadirkan standar pengelolaan yang semakin baik dan bertanggung jawab.
“Keberhasilan pengelolaan Bandung Zoo tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari kualitas konservasi, kesejahteraan satwa, kualitas edukasi dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat,” ucapnya.





