Bisnis.com, JAKARTA — Industri furnitur nasional mulai mengakselerasi transformasi digital seiring meningkatnya kebutuhan pelaku usaha untuk menjalankan operasional bisnis yang lebih efisien, terintegrasi, dan adaptif terhadap perkembangan pasar.
Pertumbuhan pasar furnitur yang terus berlanjut mendorong perusahaan-perusahaan di sektor tersebut untuk mengadopsi teknologi sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing usaha.
Di tengah ekspansi bisnis dan tingginya permintaan konsumen, pelaku industri furnitur dihadapkan pada tantangan operasional yang semakin kompleks. Mulai dari pengelolaan bahan baku, penyusunan rencana produksi, pengendalian persediaan, hingga pemenuhan pesanan pelanggan yang memerlukan koordinasi lebih optimal.
Kendati demikian, masih banyak perusahaan yang mengandalkan pencatatan manual maupun sistem yang belum terintegrasi antarfungsi bisnis. Kondisi ini dinilai berisiko menurunkan efisiensi operasional serta memperlambat proses pengambilan keputusan.
Founder & Chief Executive Officer (CEO) Labamu, Emmanuel van de Geer, mengatakan visibilitas dan kontrol terhadap operasional kini menjadi faktor krusial bagi perusahaan yang ingin mengembangkan skala usahanya. Karena itu, pemanfaatan teknologi dinilai semakin penting untuk menopang pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
"Industri furnitur Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, baik di pasar domestik maupun ekspor. Sehingga kami melihat semakin banyak pelaku usaha yang mulai memanfaatkan teknologi untuk membantu mengelola bisnis mereka dengan lebih baik," ujar Emmanuel di Jakarta, dikutip Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
- Pemerintah Ancam Sanksi Marketplace yang Langgar Aturan Baru UMKM
- Aftech: Penyaluran Pindar Tembus Rp1.388 Triliun, 40% ke UMKM
- RI-AS Sepakati Kerja Sama Dagang, Pengusaha Mebel Berharap Tarif Sektoral Turun
Guna menjawab kebutuhan tersebut, Labamu menggandeng Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pengembangan Labamu ERP for Manufacturing yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional industri furnitur di Tanah Air.
Solusi tersebut berupa sistem perencanaan sumber daya manufaktur yang memungkinkan perusahaan mengelola berbagai aktivitas bisnis melalui satu platform yang terintegrasi. Implementasi sistem digital itu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat pengawasan terhadap seluruh proses operasional.
Melalui platform tersebut, pelaku usaha dapat mengatur perencanaan produksi, mengelola persediaan bahan baku, memantau stok barang, hingga memproses pesanan pelanggan secara lebih sistematis. Berbagai aktivitas operasional lainnya juga dapat dipantau dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Emmanuel menekankan bahwa kehadiran teknologi seharusnya mampu menyederhanakan proses bisnis, bukan justru menambah kerumitan dalam operasional perusahaan. Dengan sistem yang lebih tertata, perusahaan diharapkan dapat mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.
"Kami percaya teknologi seharusnya membantu pelaku usaha menyederhanakan proses bisnis, bukan menambah kerumitan. Dengan operasional yang lebih tertata dan visibilitas yang lebih baik, pelaku usaha dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat dan fokus pada pengembangan bisnis," jelas Emmanuel.
Melalui kampanye #GrowthSimplified, Labamu menegaskan komitmennya dalam membantu usaha kecil dan menengah (UKM) mengurangi kompleksitas operasional bisnis. Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha yang lebih efisien, berkelanjutan, serta memiliki daya saing yang semakin kuat.





