16 Pejuang Lingkungan Terima Penghargaan Kalpataru 2026

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Sebanyak 16 pejuang lingkungan yang mewakili individu, kelompok, maupun lembaga dari berbagai pelosok Nusantara menerima penghargaan tahunan Kalpataru 2026. Mereka dinilai berjasa karena telah menunjukkan dedikasi dan konsistensi luar biasa dalam menjaga kelestarian bumi di tengah berbagai keterbatasan.

Penganugerahan penghargaan Kalpataru 2026 tersebut diselenggarakan di sela-sela acara Indonesia International Environmental Technology and Innovation Expo and Conference (INVIROTECH) di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan (BPLH) Jumhur Hidayat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 2025 tentang Penghargaan Kalpataru, terdapat tiga klasifikasi penghargaan yang diberikan yakni Kalpataru Adya, Kalpataru Yuvan, dan Kalpataru Lestari.

Kalpataru Adya diberikan dalam empat kategori meliputi Perintis, Penyelamat, Pengabdi, dan Pembina lingkungan. Sementara Kalpataru Yuvan ditujukan khusus bagi generasi muda yang memiliki kontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Adapun Kalpataru Lestari diberikan kepada penerima Kalpataru sebelumnya yang terus menunjukkan konsistensi dan keberlanjutan dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH Rasio Ridho Sani menyampaikan, sebanyak 16 penerima penghargaan Kalpataru 2026 terdiri dari 5 penerima Kalpataru Lestari, 10 penerima Kalpataru Adya, dan 1 penerima Kalpataru Yuvan.

“Kalpataru sudah dilaksanakan sejak zaman Pak Emil Salim (Menteri Lingkungan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup 1978–1993). Beliau melihat kita perlu champion atau tokoh-tokoh yang memperjuangkan lingkungan hidup,” ujarnya.

Penerima Kalpataru Adya yakni Komang Astika dari Bali yang memelopori restorasi terumbu karang melalui teknologi Biorock, Miswanto dari Kepulauan Riau yang mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta Shanty Meta Febrinalisa dari DKI Jakarta yang menggerakkan program pengurangan sampah dan pengolahan kompos.

Baca JugaBeri Panggung kepada Para Penerima Kalpataru

Kalpataru Adya juga diberikan kepada Ananto Isworo dari DI Yogyakarta, Wibi Nugraha dari Sumatera Utara, dan Jamaluddin dari Sulawesi Selatan atas inovasi mereka dalam pengelolaan sampah, rehabilitasi mangrove, serta literasi lingkungan dan aksi sadar iklim

Abdul Hadi dari Aceh dan Taufik Ismail dari Kalimantan Timur juga meraih penghargaan ini atas upaya penyelamatan ekosistem mangrove. Kemudian Pejuang Muda Wija To Cerekang dari Sulawesi Selatan serta Yayasan Pelestarian Flora dan Fauna Bangka Belitung (ALOBI) menerima penghargaan atas perlindungan hutan adat dan penyelamatan satwa liar.

Dalam kategori Kalpataru Lestari, penghargaan diberikan kepada Bening Saguling Foundation dari Jawa Barat yang berfokus pada pemulihan Sungai Citarum, Agus Bei dari Kalimantan Timur yang mengembangkan rehabilitasi mangrove, Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih dari Bali, Wutmaili Romuty dari Maluku untuk pengelolaan sampah, serta Kelompok Tani Sadar Sendiri dari Papua yang mengembangkan konservasi gaharu endemik.

Sementara itu, penghargaan Kalpataru Yuvan diberikan kepada Marsella Wahyu Muntia dari Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Di usia 18 tahun, Marsella dinilai berhasil menjadi penggerak muda dalam restorasi lahan kritis, pengembangan inovasi pupuk bioorganik, serta edukasi lingkungan melalui Komunitas Warsa Kelana.

Pesan kepada bangsa

Menteri LH/Kepala BPLH Jumhur Hidayat mengatakan, penghargaan Kalpataru bukan sekedar untuk penghormatan kepada seorang pribadi yang luar biasa berjasa. Namun, penghargaan ini merupakan pesan kepada bangsa bahwa kerja menjaga lingkungan harus terus dilanjutkan, diwariskan, dan diperkuat dari generasi ke generasi.

Jumhur menegaskan bahwa masa depan lingkungan hidup Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh budaya baru yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Budaya itu harus menghormati alam, bersikap santun terhadap lingkungan, tidak merusak, serta bertanggung jawab dalam setiap aktivitas pembangunan.

“Membangun Indonesia bukan berarti kita harus mengabaikan lingkungan. Sebaliknya, memelihara lingkungan bukan berarti mengabaikan pembangunan. Jangan mempertentangkan pembangunan dengan lingkungan,” tuturnya.

Menurut Jumhur, Indonesia tidak menganut paham ekstrem yang anti-pertumbuhan, tetapi juga tidak akan mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan kerusakan lingkungan. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan menjadi jalan tengah untuk memastikan kemajuan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan hidup.

Baca JugaPenghargaan Kalpataru 2024 untuk Pegiat Isu Iklim, Biodiversitas, dan Pencemaran Lingkungan

“Saat ini perhatian terhadap isu lingkungan jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Oleh karena itu, kita bertanggung jawab memastikan setiap jengkal pembangunan di seluruh wilayah Indonesia tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup,” ucapnya.

Selain itu, Jumhur juga menyoroti peran generasi Z dan Alfa dalam menjaga energi perubahan khususnya di sektor lingkungan. Generasi muda tersebut perlu terus membangun gerakan, perluas edukasi, dan menjadikan lingkungan hidup sebagai bagian dari gaya hidup serta identitas generasi Indonesia masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puslabfor Temukan Alat Bor di TKP Ledakan Galian di Fatmawati
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Buruan Daftar! Beasiswa PPBP dan PPTI Tahun Ajaran 2027 Kembali Dibuka
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Titik Demo di Jakarta Hari Ini
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Saat Tim Ranking Kecil FIFA Menantang Para Unggulan di Piala Dunia 2026
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Tiap Gerai Rekrut 17 Pekerja Lokal, Bisa Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja di Seluruh Indonesia
• 10 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.