Setelah berbulan-bulan mengamati perubahan suhu laut dan atmosfer di Samudra Pasifik, para ilmuwan kini semakin yakin bahwa fenomena El Niño akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bahkan memperkirakan peluang terjadinya El Niño mencapai sekitar 80 persen pada pertengahan tahun ini dan meningkat hingga mendekati atau melampaui 90 persen untuk bertahan setidaknya sampai November.
Dengan kata lain, pertanyaan tentang apakah El Niño akan datang hampir tidak lagi diperdebatkan. Yang kini menjadi perhatian para ilmuwan, pemerintah, dan sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan iklim adalah pertanyaan tentang seberapa kuat El Niño kali ini akan berkembang.
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah dunia hanya menghadapi gangguan cuaca musiman atau justru memasuki salah satu peristiwa iklim paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.
El Niño merupakan fenomena alami yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Meski berlangsung di wilayah Pasifik, dampaknya dapat menjalar ke seluruh dunia melalui perubahan pola angin, curah hujan, dan suhu udara.
Dalam banyak kasus, El Niño memicu kekeringan di sebagian wilayah dunia, banjir di wilayah lain, mengganggu produksi pangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan, dan mendorong kenaikan suhu global. “Kita perlu bersiap untuk potensi peristiwa El Niño yang kuat, yang akan memperburuk kekeringan dan curah hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di darat maupun di laut,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
Menurut pengamatan WMO, suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur terus meningkat sejak April. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi di bawah permukaan laut.
Di sejumlah wilayah Pasifik tropis, suhu bawah permukaan tercatat lebih dari 6 derajat celsius di atas rata-rata. Air hangat dalam jumlah sangat besar menumpuk di bawah permukaan dan menjadi cadangan energi yang dapat memperkuat El Niño dalam beberapa bulan mendatang.
Para ilmuwan kerap menyebut cadangan panas bawah laut ini sebagai bahan bakar utama El Niño. Ketika panas tersebut naik ke permukaan, interaksi antara lautan dan atmosfer menjadi semakin kuat. Tekanan udara berubah, arah angin bergeser, pembentukan awan berpindah, dan seluruh sistem iklim tropis mulai menyesuaikan diri.
WMO juga mencatat bahwa Indeks Osilasi Selatan (Southern Oscillation Index/SOI), salah satu indikator atmosfer utama El Niño, kini menunjukkan pola yang konsisten dengan berkembangnya fenomena tersebut. Gabungan sinyal dari lautan dan atmosfer inilah yang membuat keyakinan para ilmuwan meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Namun hingga beberapa waktu lalu, masih ada ketidakpastian besar mengenai seberapa kuat El Niño akan berkembang. Sebagian model memprediksi El Niño moderat, sementara model lain memperkirakan kemungkinan munculnya peristiwa yang jauh lebih kuat.
Belakangan, ketidakpastian itu mulai mengerucut.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, pada Rabu (10/6/2026) melaporkan bahwa hampir seluruh model iklim global yang mereka pantau telah menaikkan prediksi kekuatan El Niño. Analisis Copernicus menggabungkan prakiraan dari sembilan pusat meteorologi utama dunia, termasuk dari Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang.
Hasilnya menunjukkan sekitar 75 persen model kini memprediksi suhu laut di wilayah utama pemantauan El Niño akan mencapai sedikitnya 2,5 derajat celsius di atas normal pada November mendatang. Sebulan sebelumnya, tingkat keyakinan terhadap skenario tersebut masih sekitar 50 persen.
“Dari 1 Mei hingga 1 Juni, semua model secara efektif menggeser prediksi mereka ke atas,” kata Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus Carlo Buontempo.
Menurut Buontempo, median prakiraan kini bahkan sedikit melampaui 3 derajat celsius pada November. “Kemungkinan besar akan terjadi peristiwa El Niño yang moderat hingga kuat, atau mungkin kuat hingga memecahkan rekor, pada tahap ini,” ujarnya.
Angka tersebut penting karena dalam sejarah modern hanya sedikit El Niño yang mampu mencapai tingkat pemanasan seperti itu. Sejak pencatatan modern dimulai pada akhir abad ke-19, hanya beberapa El Niño yang tergolong sangat kuat, terutama pada 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016. Ketiga peristiwa itu memicu kekeringan besar, kebakaran hutan, gangguan produksi pangan, dan kerugian ekonomi yang sangat besar di berbagai negara.
Karena itu, semakin banyak ilmuwan yang mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa dunia sedang menyaksikan terbentuknya salah satu El Niño terkuat dalam sejarah pengamatan modern.
Ada satu faktor yang membuat El Niño kali ini berbeda dari banyak peristiwa sebelumnya. Fenomena ini berkembang ketika suhu bumi sudah berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah manusia modern.
Pada masa lalu, El Niño besar terjadi ketika rata-rata suhu global masih lebih rendah. Kini El Niño berkembang di atas latar belakang pemanasan global yang disebabkan oleh akumulasi emisi gas rumah kaca selama puluhan tahun.
Artinya, tambahan panas dari El Niño tidak lagi bekerja pada sistem iklim yang normal, melainkan pada sistem yang sudah memanas. Inilah yang membuat banyak ilmuwan khawatir.
El Niño biasanya mencapai puncaknya menjelang akhir tahun, tetapi dampak pemanasannya terhadap atmosfer global sering kali baru terasa penuh pada tahun berikutnya. Karena itu sejumlah ilmuwan memperkirakan suhu global dapat kembali mencetak rekor baru apabila El Niño berkembang sesuai prediksi.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyebut perkembangan ini sebagai peringatan iklim yang harus ditanggapi secara serius. “Ilmu pengetahuan telah jelas: El Niño akan tiba di depan pintu kita dalam beberapa bulan mendatang dengan kepastian 90 persen. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim mendesak. Kondisi El Niño akan memperparah pemanasan global,” kata Guterres.
Menurutnya, dampak El Niño dapat terasa lebih keras, menjangkau lebih jauh, dan melintasi batas-batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan. Karena itu, Guterres menyerukan percepatan transisi energi, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta penguatan sistem peringatan dini di seluruh dunia.
Bagi Indonesia, ancaman El Niño bukan sekadar persoalan global. Dampaknya mulai terlihat dalam prakiraan musim kemarau tahun ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Hingga akhir Mei, sekitar 200 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut akan terus bertambah sebelum mencapai puncaknya pada Juli hingga September, dengan Agustus menjadi periode paling kritis.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pada Agustus sekitar 369 Zona Musim atau hampir separuh wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, hingga sebagian besar Papua.
Yang membuat situasi ini semakin penting adalah kemungkinan pertemuan antara musim kemarau dan El Niño. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan fenomena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
“BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” kata Ardhasena.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menghadapi kepastian datangnya El Niño, tetapi juga kemungkinan yang cukup besar bahwa fenomena itu berkembang menjadi El Niño kuat. Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya dapat dirasakan di banyak sektor sekaligus.
Curah hujan yang berkurang berpotensi menurunkan produksi pertanian dan meningkatkan ancaman kekeringan. Ketersediaan air baku untuk rumah tangga dan irigasi dapat berkurang. Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di wilayah yang memiliki sejarah karhutla. Kualitas udara juga berpotensi memburuk akibat asap kebakaran, yang dapat memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut.
BMKG merekomendasikan berbagai langkah antisipasi, mulai dari penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, penguatan pengelolaan sumber daya air, hingga peningkatan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Meski berbagai indikator menunjukkan arah yang semakin jelas, para ilmuwan masih berhati-hati. Belum ada kepastian apakah El Niño tahun ini akan melampaui peristiwa besar 1997–1998 atau 2015–2016. Prakiraan iklim tetap mengandung ketidakpastian, terutama ketika memproyeksikan kondisi beberapa bulan ke depan.
Mayoritas model iklim global bergerak ke arah yang sama. Lautan menunjukkan sinyal yang konsisten. Atmosfer mulai merespons. Organisasi Meteorologi Dunia meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peringatan dini.
Dengan kata lain, dunia tidak lagi menunggu kedatangan El Niño. Dunia sedang menunggu jawaban atas pertanyaan yang lebih menentukan, apakah fenomena yang sedang tumbuh di Pasifik itu akan menjadi El Niño biasa, atau salah satu yang paling kuat dalam sejarah modern.
Jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan akan mulai terlihat dalam beberapa bulan mendatang. Namun bagi banyak negara, termasuk Indonesia, waktu untuk bersiap sudah dimulai sekarang.




