Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) di tengah melemahnya nilai tukar rupiah, dinilai memberikan dampak ganda terhadap kinerja PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA).
Direktur Summarecon, Agung Lydia Tjio menerangkan bahwa kenaikan suku bunga acuan akan mempengaruhi berbagai biaya pendanaan, seperti suku bunga KPR, pinjaman, hingga bahan baku. Terlebih, kondisi ini terjadi di tengah konflik geopolitik yang memanas dan rupiah yang masih melemah.
Kendati demikian, pihaknya masih menanti kebijakan hingga strategi lanjutan dari pemerintah di tengah kondisi lesunya nilai tukar mata uang belakangan.
“Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, akan cukup mengelola dengan prudent. Segala pengeluaran, efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang,” katanya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026).
Senada, Presiden Direktur Summarecon, Agung Adrianto Pitojo Adi mengatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan, meskipun berisiko menaikkan suku bunga pinjaman hingga KPR, tetapi memberikan tenaga tambahan bagi rupiah yang belakangan lesu.
Pihaknya cukup optimistis pemerintah bakal kembali menggelontorkan insentif untuk dapat mengatasi risiko dari naiknya suku bunga. “Sehingga ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Sumamrecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” katanya.
Manajemen mengungkapkan bahwa selama periode Januari—Mei 2026, pihaknya masih berfokus melakukan penjualan untuk kelas menengah dan menengah ke atas. Kedua kelas masyarakat itu dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik.
Adapun, sepanjang kuartal I/2026 SMRA mencatat pendapatan senilai Rp2,23 triliun atau naik 6,1% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp2,10 triliun.
SMRA membukukan penurunan laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk menjadi Rp189,76 miliar pada kuartal I/2026. Laba bersih ini melemah 20,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp238,22 miliar.
Adhi mengemukakan perseroan masih berfokus mengembangkan sebanyak sembilan township yang dimiliki pada tahun ini. Dia berharap agar tantangan daya beli masyarakat perlahan mulai pulih.
“Kami berharap pada tahun ini akan adanya pemulihan daya beli di segmen kelas menengah yang sebelumnya menghadapi tantangan,” ujarnya.





