Sempat Menguat, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.988 per USD

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Mata uang Garuda ditutup turun 44,5 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.988 per USD.

Sempat Menguat, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.988 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 44,5 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.988 per USD. 

Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen internal hingga eksternal masih cukup kuat dalam memberikan tekanan pada pelemahan rupiah hari ini setelah sebelumnya sempat menguat pada dua hari perdagangan sebelumnya. 

Baca Juga:
Dasco Ungkap Jurus Perkuat Rupiah Lagi Disiapkan, Sarankan Segera Lepas Dolar AS

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 Indonesia akan melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal, yaitu 3 persen berdasarkan produk domestik bruto (PDB). 

“Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah. Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB. Angka proyeksi defisit 3 persen pada 2026 ini juga tercatat meningkat dibandingkan dengan realisasi defisit pada 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB. Adapun pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh tekanan harga komoditas global,” kata Ibrahim dalam risetnya. 

Baca Juga:
SBY Sebut Pemerintah Berhasil Hentikan Pelemahan Sistematis IHSG dan Rupiah

Harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB melalui peningkatan belanja subsidi BBM. Meskki demikian, pemerintah Indonesia telah memberi sinyal kuat untuk mempertahankan defisit tetap berada di bawah pagu aman 3 persen dari PDB.

Untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah diyakini harus mengambil langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB. Langkah tersebut termasuk pemangkasan pengeluaran di sektor lain serta potensi pengenaan pajak “durian runtuh” (windfall taxes) kepada eksportir komoditas unggulan Tanah Air.

Baca Juga:
BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018

Laju PDB Indonesia 2026 diproyeksikan melambat ke level 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali pulih ke level 5,0 persen pada 2027. Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi, di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja.

Sementara itu, laju inflasi diproyeksikan akan merangkak naik ke posisi 3,4 persen pada 2026. Kenaikan ini dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi. 

Dari eksternal, komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, dengan mengatakan bahwa setiap kapal yang mencoba melewatinya akan ditembak. Blokade Iran selama berbulan-bulan terhadap selat tersebut, yang biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas global, telah membuat harga minyak tetap tinggi.

Namun, militer AS mengatakan kapal komersial terus melintas masuk dan keluar dari selat tersebut. Mereka juga mengatakan tidak ada kapal perang AS yang terkena serangan di selat tersebut, setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal-kapal AS di dekat jalur air tersebut menjadi sasaran rudal dan drone.

Pasukan AS mulai melancarkan serangan tambahan terhadap beberapa target di Iran,  dan serangan terbaru dalam serangkaian serangan yang semakin meningkat mengancam akan menyulut kembali perang skala penuh, yang sempat terhenti pada awal April ketika kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang rapuh.

Selain itu, rilis data tadi malam menunjukkan harga konsumen AS naik 4,2 perse pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, laju tercepat dalam tiga tahun, sebagian besar didorong oleh biaya energi yang lebih tinggi. Laporan inflasi memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dan bahkan dapat melanjutkan pengetatan kebijakan moneter akhir tahun ini jika tekanan harga terus berlanjut.

Kontrak berjangka suku bunga sekarang menunjukkan peningkatan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga Fed sebelum akhir tahun, sebuah perubahan tajam dari ekspektasi awal tahun ini. Investor sekarang menunggu data harga produsen AS yang akan dirilis Kamis untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek inflasi dan jalur kebijakan Fed.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eks Striker Timnas Kroasia U-19 Dirumorkan Gabung PSM Makassar, sang Agen Beri Bantahan
• 11 jam lalubola.com
thumb
Tanggapi Keresahan soal Penyusutan Skor Pendaftar PCMB Jabar, Dedi Mulyadi Minta Orang Tua Siswa Tidak Panik
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Editorial MI: Lindungi Generasi dari Jeratan Judol
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BBM Nonsubsidi Mahal, Warga Mulai Pertimbangkan Berpaling ke Pertalite Demi Irit Pengeluaran
• 21 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.