MAKASSAR, FAJAR — Bayangkan sebuah struktur buatan yang ditenggelamkan ke dasar laut. Bukan untuk merusak, justru sebaliknya — untuk mengundang kehidupan kembali datang. Itulah atraktor cumi, salah satu inovasi yang kini mulai diterapkan warga Kepulauan Spermonde, Makassar.
Sederhana tapi berdampak. Atraktor cumi bekerja seperti “rumah singgah” bagi cumi-cumi untuk bertelur. Ketika cumi-cumi datang bertelur, ekosistem di sekitarnya pun ikut pulih — ikan-ikan kecil berdatangan, lalu predatornya, lalu nelayan pun ikut diuntungkan.
Apa Itu Atraktor Cumi dan Kenapa Penting?
Atraktor cumi adalah struktur buatan yang biasanya terbuat dari bahan-bahan sederhana, dipasang di dasar laut sebagai tempat cumi-cumi bertelur. Dalam dunia perikanan, metode ini dikenal sebagai artificial spawning habitat, cara manusia membantu alam memulihkan dirinya sendiri.
Di Pulau Barrang Caddi dan Pulau Bonetambu, instalasi atraktor cumi dilakukan bersama masyarakat setempat. Bukan sekadar dipasang oleh tim ahli lalu ditinggal — warga dilibatkan sejak menentukan lokasi pemasangan, karena pengetahuan lokal mereka soal arus dan kebiasaan cumi di perairan sekitar tidak ternilai harganya.
“Pengetahuan lokal menjadi dasar bagi tim, terutama untuk menentukan lokasi,” ujar Muhammad Imran Lapong dari Yayasan Kitaji Pinisi Indonesi, Kamis, 11 Juni. Hasilnya pun dirancang untuk langsung dirasakan warga. Cumi hasil tangkapan dari sekitar atraktor bisa dijual langsung ke rumah makan atau restoran di Makassar.
Pohon Karang di Bawah Laut
Inovasi atraktor cumi bukan satu-satunya yang sedang dikerjakan di perairan Spermonde. Sejak beberapa tahun terakhir, Kitaji Pinisi juga menjalankan program transplantasi terumbu karang dengan metode yang mereka sebut coral tree nursery — atau pohon karang.
Konsepnya bisa dibayangkan begini: di bawah laut, ada struktur vertikal seperti pohon. Di “dahan-dahannya” digantungkan fragmen-fragmen karang muda. Posisi tegak dipilih bukan tanpa alasan — arus laut yang mengalir bebas ke fragmen karang membantu pertumbuhan lebih cepat, sekaligus mengurangi sedimentasi yang kerap jadi musuh bibit karang.
Angkanya cukup meyakinkan. Tingkat keberhasilan tumbuh bibit karang mencapai 97 persen, dengan laju pertumbuhan 2,7 mm per pekan. Hingga kini, sekitar 4.500 fragmen telah dipanen dan area rehabilitasi mencapai 0,49 hektare dari target 1 hektare. Yang lebih penting, teknik ini sengaja dibuat agar bisa direplikasi. Bahan mudah didapat, biaya terjangkau, dan prosesnya bisa dipelajari oleh siapa saja.
Kebiasaan Sehari-hari yang Ternyata Merusak Laut
Di sinilah tantangan terbesar konservasi laut bukan soal teknologi, melainkan soal kebiasaan. Warga pesisir kerap tidak menyadari bahwa aktivitas sehari-hari mereka perlahan merusak ekosistem tempat mereka bergantung. Membuang sampah ke laut terasa biasa. Menangkap ikan dengan alat bantu kompresor dianggap lebih praktis. Mengonsumsi telur penyu sudah menjadi tradisi turun-temurun.
Untuk mengubah pola pikir ini, Kitaji Pinisi menjalankan program Sekolah Cinta Pulau (SEKOCI) , membawa pelajar dan mahasiswa langsung ke Pulau Barrang Caddi, bukan untuk sekadar melihat-lihat, tapi untuk mengidentifikasi masalah nyata dan mencari solusinya bersama warga.
Peduli Lingkungan. Warga dan stakeholder dalam Diseminasi Kegiatan Instalasi Atraktor Cumi.Pendekatan ini pelan-pelan membuahkan hasil. Warga kini mulai menyerahkan telur penyu yang mereka temukan kepada kelompok konservasi untuk ditetaskan. Sejumlah alumni SEKOCI memilih melanjutkan studi di jurusan kelautan dan perikanan. Ada yang bahkan mendapat hadiah umroh atas keaktifan mereka dalam kegiatan konservasi.
“Keberhasilan bagi kami bukan hanya diukur dari berapa hektare karang yang tumbuh, tapi bagaimana dampak langsungnya terhadap masyarakat,” kata Rahmat J. Noor, Program Manager Kitaji Pinisi.
Pada peringatan Hari Laut Sedunia 10 Juni 2026, hasil kerja ini didiseminasikan di hadapan berbagai pihak . Indonesia menyandang predikat negara dengan mega biodiversitas laut terbesar di dunia. Tapi data LIPI mencatat, sekitar 25 persen terumbu karang Indonesia sudah dalam kondisi buruk. (*Nin)





