Keluarga MWP (6) yang menjadi korban perundungan di Taman Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, pada Minggu (7/6), menolak berdamai dengan keluarga pelaku.
Keluarga korban sudah bertekad untuk melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Tekad ini tidak goyah meskipun sempat ada mediasi antara keluarga korban dengan keluarga pelaku yang ditengahi pihak kepolisian pada Selasa (9/6).
“Kalau dari pihak polisi sih bilangnya gimana kelanjutannya (setelah mediasi). Terus kalau kata suami aku katanya ini aja, berproses lanjut aja gitu ke hukum,” kata Ibu korban, Vira (26) saat ditemui di wartawan di rumahnya, Kamis (11/6).
Vira menjelaskan, keluarga pelaku sempat meminta maaf kepada keluarga korban saat mediasi tersebut. Namun Vira sekeluarga tetap akan melanjutkan kasus ini di kepolisian.
“Dia (keluarga pelaku) minta maaf dan mohon-mohon sujud kepada bapaknya MWP dan keluarga saya. Keluarga saya pun enggak terima gitu,” sebut Vira.
Vira juga menyebutkan alasan para pelaku melakukan tindakan perundungan tersebut tidak masuk akal. Kata Vira, pelaku marah karena dilecehkan oleh korban.
“Katanya sih pegang-pegang jenis kelamin dia gitu. Soalnya kan dia awalnya katanya nggak terima ya kalau diisengin duluan gitu,” tutur Vira.
Namun, berdasarkan rekaman pengawas, Vira mengaku peristiwa tersebut tak terjadi. Ia pun mendapatkan rekaman pengawas tersebut pada Rabu (10/6) dari Kelurahan Senen.
“Ternyata saya lihat CCTV tuh nggak ada kayak gitu. Ternyata dia cuman halu-halu aja kalau ngomong, pinter ngomong si pelakunya,” sebut Vira.
Vira juga menjelaskan, saat korban masih di RSCM, keluarga pelaku berusaha untuk meminta maaf dengan membawa bingkisan. Namun hal tersebut ditolak keluarga korban.
“Orang tua pelakunya pernah bawa bingkisan cemilan untuk korban. Saya tolak, saya kasih sekuriti. Saya udah kesal habisnya. Minta maaf sama saya, saya nggak terima,” ujar Vira.
Anak Saya ADHD, Bukan Autis
Vira juga membantah informasi yang beredar bahwa anaknya merupakan penyandang disabilitas. Ia menyebut, anak lelakinya tersebut memiliki kondisi ADHD, bukan autis seperti yang beredar.
“Iya, ADHD,” kata Vira.
Vira mengaku sakit hati ada tuduhan bahwa anaknya merupakan seorang autis. Tidak hanya itu, anaknya juga dituduh hal lainnya.
“Kan saya sakit hatinya anak saya kok dikatain anak ini gitu, anak psiko, anak idiot, anak apa namanya, autis, anak stres gitu,” tutur Vira.
“Ini tuh anak saya normal-normal aja gitu,” imbuhnya.
Vira mengatakan tuduhan tersebut tidak terbatas dari anak-anak, tetapi datang juga dari warga sekitar Taman Kramat Pulo.
“Orang situ juga katanya gini, ‘anaknya emang autis ya? Kok dikeluarin dibiarin gitu aja sih?’ gitu,” sebut Vira.
Vira mengatakan, karena faktor ADHDH, anaknya memiliki keaktifan berlebih dan terkadang usil. Namun, kata Vira, hal itu sudah tak terjadi lagi. Bahkan anaknya lebih sering diusilin.
“Kalau di sekolah sih dia masih suka usil ya, suka jahil, suka nangisin temennya juga, cuma nggak begitu parah sih maksudnya. Kalau misalkan di rumah, kalau di sini dia enggak pernah usil sih semenjak saya tinggal di sini gitu. Terus semenjak saya pindah ke sana (kawasan Senen) selalu begitu, diusilin gitu,” tutur Vira.
Adapun kasus ini telah dilaporkan keluarga korban kepada Polres Metro Jakarta Pusat pada Senin (8/6). Hal ini menyusul MWP yang mengalami kondisi kritis akibat perundungan yang dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu R (18) dan L (13).
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra membenarkan adanya laporan polisi terkait kasus tersebut. Penanganan perkara kini dilakukan oleh unit yang menangani perempuan dan anak.
“Ada LP-nya (laporannya), penanganan oleh Sat PPA/PPO,” kata Roby saat dikonfirmasi, Rabu (9/6).
Hingga kini, polisi masih mendalami kronologi lengkap kejadian serta pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan persekusi tersebut.





