Bisnis.com, JAKARTA – Emiten farmasi Grup Biofarma, PT Phapros Tbk. (PEHA) menyiapkan sederet strategi untuk memastikan kinerja 2026 tetap solid di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir.
Direktur Produksi Phapros Ida Rahmi Kurniasih, menerangkan kenaikan rupiah yang terjadi secara signifikan belakangan, memang memiliki risiko meningkatkan biaya produksi, terutama dari penyediaan bahan baku dan biaya pengiriman.
”Jadi yang kita upayakan kendalikan adalah mitigasi untuk meminimalisasi dampak negatifnya. Kami langsung merespon dengan cepat misalnya menyusun beberapa skenario atas tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS,” katanya dalam paparan publik Phapros, Kamis (11/6/2026).
Beberapa strategi yang diterapkan PEHA antara lain melakukan upaya hedging, pencarian lebih dari satu sumber bahan baku untuk mencari celah efisiensi, transaksi menggunakan mata uang selain dolar AS, hingga mekanisme impor langsung dari negara asal.
Ida menerangkan, sejak awal tahun, Phapros telah mengunci kontrak pengadaan bahan baku, sehingga tidak secara otomatis menaikkan harga ketika rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
”Jadi kita melakukan renegosiasi dengan para supplier bahan baku dari luar negeri agar tidak menaikkan harga produk,” katanya.
Baca Juga
- Phapros (PEHA) Rombak Direksi, Intan Abdams Katoppo Jadi Direktur Utama
- Laba Bersih Phapros (PEHA) Melejit 112,86% di Kuartal I/2026
- Hadapi Tantangan, Phapros (PEHA) Yakin Penjualan Tetap Melejit 20%
Selain itu, Phapros berupaya untuk melakukan kontrak lebih awal dengan jangka waktu yang lebih panjang dengan beberapa penyedia bahan baku. Hal itu dilakukan agar perseroan mampu mengunci harga di level yang lebih murah ketika volatilitas terjadi.
Tidak hanya itu, belakangan PEHA juga disebut telah melakukan transaksi dalam mata uang lain selain dolar AS, seperti Renminbi atau yuan China hingga euro.
”Kemudian efisiensi karena dampaknya ke korporasi, efisiensi tidak hanya dialkukan oleh [divisi] produksi, tapi divisi-divisi lainnya,” katanya.
Melansir laman resminya, Phapros mampu berbalik untung pada tahun lalu. Laba bersih yang mampu dibukukan bahkan mencapai Rp28,03 miliar sepanjang Januari—Desember 2025, berbalik dari rugi yang menghantui senilai Rp285,06 miliar pada 2024.
Dari sisi topline, kinerja solid ini didorong oleh pertumbuhan penjualan sebesar 26,34% year-on-year (YoY) menjadi Rp940,88 miliar pada 2025, dari Rp744,69 miliar dari 2024.
Kenaikan penjualan terjadi di seluruh segmen produk. Pada segmen obat bebas tanpa resep dokter misalnya, telah naik 43,20% YoY; segmen obat generik berlogo tumbuh 13,59% YoY; dan segmen ethical naik 54,94% YoY.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





