REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Prospek pasar mesin perkakas di Indonesia semakin cerah seiring pertumbuhan sektor manufaktur nasional dan meningkatnya kebutuhan industri terhadap teknologi produksi yang lebih modern, efisien, dan presisi. Momentum tersebut turut mendorong minat pelaku industri global untuk memperluas investasi serta memperkenalkan inovasi teknologi manufaktur di pasar domestik.
Potensi pasar yang besar itu menjadi momentum bagi edisi perdana CMES Indonesia International Machine Tool Exhibition yang akan digelar pada 3-5 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran. Pameran ini akan menghadirkan pelaku industri mesin perkakas, manufaktur, dan otomatisasi dari berbagai negara untuk menjajaki peluang bisnis sekaligus mempercepat adopsi teknologi industri di Indonesia.
- Merajut Mimpi Butter Baby, Bongkar Batas Kuliner dan Hiburan Lewat Talenta Lokal
- IRGC Kirim 12 Rudal Balistik ke Yordania, Klaim Hancurkan F-16, F-15, F35 Milik AS
- Ma'had UIN Malang siapkan pioner untuk menjawab tantangan Di Era Digitalisasi
Perwakilan Penyelenggara CMES Indonesia, Sun Xiao Li, mengatakan industri pengolahan logam kini beralih dari teknik casting konvensional menuju manufaktur komponen berpresisi tinggi.
"Tren ini didorong oleh permintaan dari sektor otomotif, elektronika, infrastruktur, dan energi baru. Namun, perkembangan industri mesin perkakas di Indonesia masih berada dalam tahap awal," kata Sun Xiao Li dalam keterangan, Kamis (11/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Sejalan dengan tekad pemerintah memperkuat daya saing industri nasional, sektor manufaktur tetap menjadi salah satu fokus utama pembangunan ekonomi nasional pada 2026. Kementerian Perindustrian menargetkan industri manufaktur tumbuh 5,51 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah sektor strategis, antara lain industri logam dasar yang diproyeksikan tumbuh hingga 14 persen, industri barang logam, komputer, elektronik, dan optik sebesar 4,81 persen, serta industri mesin dan perlengkapan sebesar 4,78 persen. Target tersebut mencerminkan komitmen pemerintah mempercepat hilirisasi, meningkatkan investasi industri, dan mendorong modernisasi fasilitas produksi di berbagai sektor.
Target pemerintah tersebut turut membuka peluang bagi industri mesin perkakas yang memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas manufaktur. Seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap teknologi produksi yang lebih modern, presisi, dan terotomatisasi, lembaga riset Ken Research memproyeksikan nilai pasar mesin perkakas Indonesia mencapai 4 miliar dolar AS.
CMES Indonesia 2026 akan menampilkan berbagai inovasi terbaru di bidang mesin perkakas, pemrosesan logam, peralatan manufaktur presisi, otomatisasi pabrik, robotika, hingga teknologi industri pintar. Ajang ini juga menjadi wadah bagi pelaku industri untuk memperluas jaringan bisnis, menjalin kemitraan strategis, serta mempercepat transfer teknologi guna mendukung modernisasi industri nasional.
"Setelah sukses menggelar pameran perdana di Vietnam pada 2025, CMES kini merambah Indonesia dan siap menangkap peluang pertumbuhan sektor manufaktur yang terus meningkat. Kami ingin memperkuat ekosistem industri manufaktur nasional dan mendukung agenda transformasi industri melalui program Making Indonesia 4.0," ujar Sun Xiao Li.




