Jakarta, CNBC Indonesia - Perundingan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlanjut meski kedua negara masih terlibat dalam aksi saling serang. Sejumlah sumber menyebut upaya mencapai kesepakatan awal justru makin intens di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
"Iran menginginkan US$6 miliar hingga US$12 miliar dari dana bekunya dilepaskan ke Teheran, sementara Washington ingin melepaskan dana secara bertahap untuk barang-barang kemanusiaan dan menolak pengembalian dana ke Iran secara langsung," kata salah satu sumber Iran, seperti dikutip Reuters, Kamis (11/6/2026).
Menurut tiga sumber Iran dan seorang pejabat Eropa, kedua negara masih aktif bertukar pesan terkait rincian mekanisme pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional. Komunikasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun kesepahaman politik antara kedua pihak.
- Omongan Trump Pepesan Kosong, Rezim Iran Tak Runtuh Digempur AS
- Rakyat Arab Saudi Terbelah soal Perang Iran, Ini Pandangannya
- 9 Pernyataan "Asbun" Trump terkait Perang Iran dan Ekonomi AS
Sumber-sumber Iran mengungkapkan bahwa secara prinsip telah tercapai pemahaman politik awal antara Teheran dan Washington. Namun, sejumlah isu teknis masih menjadi pembahasan, terutama terkait mekanisme pelepasan dana hasil penjualan minyak Iran yang dibekukan di berbagai bank asing.
Nilai dana yang menjadi perdebatan cukup besar. Iran meminta pencairan dana sebesar US$6 miliar hingga US$12 miliar, setara sekitar Rp108,57 triliun hingga Rp217,14 triliun. Sementara itu, AS menginginkan pencairan dilakukan secara bertahap dan terbatas untuk kebutuhan kemanusiaan.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa prioritas utama pemerintahan Iran saat ini bukanlah mencapai penyelesaian komprehensif dengan AS. Teheran lebih mengutamakan pelonggaran ekonomi melalui pencairan sebagian aset yang dibekukan serta penghentian konflik.
(luc/luc) Add as a preferred
source on Google




