JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia unik karena hampir semua dokter ingin menjadi spesialis sehingga tidak ada dokter yang mau bertugas di Puskesmas.
Namun, sejumlah pakar kesehatan menilai fenomena itu tidak bisa dipahami semata sebagai persoalan mentalitas dokter.
Di balik pilihan tersebut, terdapat realitas ekonomi, karir, perlindungan profesi, hingga masa depan keluarga yang membuat layanan primer kurang menarik dibandingkan praktik spesialis.
Realitas KesejahteraanPakar ekonomi kesehatan, Hasbullah Thabrany menuturkan, keinginan dokter untuk melanjutkan pendidikan spesialis bukanlah sesuatu yang muncul tanpa alasan.
Pilihan tersebut berkaitan erat dengan realitas kesejahteraan yang dihadapi dokter umum, terutama mereka yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas.
Ia menilai kurang tepat apabila fenomena tersebut semata-mata dipandang "tak ingin mengabdi".
Baca juga: Cleaning Service Puskesmas di Luwu Timur Tewas di Sawah, Polisi Amankan Remaja 17 Tahun
Di balik setiap keputusan, terdapat pertimbangan yang sangat manusiawi.
Ada keluarga yang rela mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan kedokteran anaknya, dan ada anak yang perlu berjuang untuk hidupnya.
"Sebetulnya agak aneh kalau Pak Menteri seolah menyalahkan dokter. Sejujurnya, kebanyakan orang pingin jadi dokter, berani bayar mahal masuk FK untuk anaknya, karena harapan mudah paling tidak hidup berkecukupan. Itu manusiawi," kata Hasbullah kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Puskesmas Tiron Kediri Segera Direhab Usai Kebakaran, Relokasi Jadi Opsi Jangka Panjang
Persoalannya, kata dia, kesempatan mendapatkan kesejahteraan yang baik sebagai dokter umum tidak merata di seluruh daerah.
Hanya sejumlah pemerintah daerah yang mampu memberikan insentif dan tunjangan dalam jumlah yang mencukupi kepada dokter yang bertugas di puskesmas.
Salah satu di antaranya Provinsi DKI Jakarta—yang memiliki kemampuan fiskal lebih dari cukup untuk menopang pelayanan publik termasuk kesehatan.
Dalam kondisi tertentu, penghasilan kepala puskesmas bahkan mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
Baca juga: Menkes: Indonesia tuh Unik, Semua Ingin Jadi Dokter Spesialis, Tak Ada yang Mau di Puskesmas
Sayangnya, situasi ini tidak berlangsung di semua daerah. Di wilayah lain seperti pedesaan hingga area 3T, dokter yang bekerja di puskesmas masih menerima penghasilan sangat rendah.
"Sedangkan jika jadi dokter spesialis, bisa dapat Rp 50-500 juta sebulan, tergantung tempat dan jenis spesialis. Jangan heran, jika para dokter tentu akan kerja jadi spesialis. Bukankah pegawai profesi dan pedagang juga mencari penghasilan yang lebih tinggi?" tekannya.





