Baca beritanya dalam bahasa Inggris
Terlupakan oleh keluarganya dan dunia, seorang pria meninggal dunia.
Kepergiannya sunyi, tanpa perhatian dari siapa pun.
Setelah enam hari, baru ia diketahui telah meninggal dunia. Tidak ada yang menyadari keberadaannya, padahal ribuan pejalan kaki mungkin melewatinya.
Ini bukan terjadi di daerah terpencil, melainkan di pusat Kota Sydney.
Di tengah datangnya musim dingin di Australia, sejumlah organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa kematian seperti ini akan semakin sering terjadi.
Di antara mereka yang hidup di jalanan, ada para ibu yang melarikan diri dari kawin paksa, serta mahasiswa internasional yang lebih memilih menderita dalam diam ketimbang mengakui kegagalan mereka, malu dengan keluarga di kampung halaman.
Mereka adalah para tunawisma, saperti Bikram Lama, asal Nepal, yang pernah jadi mahasiswa internasional asal Nepal menurut laporan The Guardian.
Kematiannya di luar Stasiun St James membuka mata banyak orang soal krisis tunawisma yang tersembunyi di jalanan Australia.
Para tunawisma ini bukan warga negara Australia.
Mereka tidak berstatus penduduk tetap, terjebak di Australia, tidak mampu pulang ke tanah airnya, atau masih menunggu proses visa sementara yang tak pernah selesai, sambil berharap diizinkan tetap tinggal.
Cerita warga Nepal lain yang alami kesulitanShree, adalah warga Nepal lainnya di Australia. Ia mengaku kepada program 7.30 kalau dirinya "ditipu dan dipaksa" datang ke Australia.
"Saat saya berusia 23 tahu, saya dijodohkan dan dipaksa menikah dengan seorang pria Nepal berkewarganegaraan Australia," ujarnya.
"Keluarga saya mengenalnya, jadi mereka melamar saya empat kali. Saya bilang, 'Tidak, tidak, saya tidak mau menikah. Saya tidak mau menikah.'"
Namun tekanan keluarga membuatnya menyerah.
Hanya dua minggu setelah menikah, suaminya mulai melakukan kekerasan fisik dan emosional.
Sebulan kemudian, Shree hamil. Selama masa kehamilan, ia tinggal bersama keluarga besar suaminya di Australia.
"Ibunya selalu menyebutkan kalau satu-satunya alasan putranya menikahi saya adalah karena saya masih di bawah 25 tahun dan akan melahirkan anak," kata Shree kepada 7.30.
"Saya tidak diizinkan meninggalkan rumah. Saya harus meminta izin. Saya bahkan tidak memiliki rekening bank sendiri."
Setelah melahirkan, kehidupannya semakin terisolasi.
Saat kondisi mentalnya memburuk, keluarga suaminya justru mengejeknya sebagai "orang gila" dan bahkan menyuruhnya bunuh diri.
"Mereka berkata tugas saya sudah selesai karena saya sudah melahirkan anak," ujarnya.
Saat itu Shree mengantongi visa jenis "bridgding visa", karena sedang menunggu proses visa pasangan atau "partner visa" yang disponsori oleh suaminya.
Ia mengatakan kepada program ABC 7.30 kalau suaminya mengancam akan menceraikannya, membatalkan visanya, dan mengirimnya kembali ke Nepal.
Ancaman itu benar-benar dilakukan suaminya. Visanya dibatalkan, ia ditinggalkan begitu saja, membuatnya menjadi tunawisma. Proses perceraian mereka masih berlangsung.
Layanan tunawisma kewalahanShree kemudian mendapatkan tempat tinggal darurat sementara melalui organisasi Women's & Girls' Emergency Centre (WAGEC), yang membantu perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tunawisma.
Dari sekitar 200 perempuan yang ditampung setiap malam, hampir setengahnya berstatus bukan penduduk tetap Australia.
"Ketika ada satu kamar kosong, sering kali kami harus memilih di antara tiga, empat, bahkan lima keluarga yang sama-sama membutuhkan tempat di malam itu juga," kata Nicole Yade, CEO dari WAGEC.
Kisah Shree adalah cerita yang biasa dialami oleh para perempuan yang bukan penduduk tetap Australia yang datang ke penampungan.
"Dia dibawa ke Australia oleh pasangannya, dan jika dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga setelah tiba di sini, pasangannya dapat membatalkan permohonannya... yang kemudian membuatnya tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan jaminan sosial apa pun, termasuk Medicare [dan] Centrelink," kata Nicole.
"Terkadang para perempuan berkata kepada kami, 'saya ingin pulang dan bersama keluarga saya', itu pun tidak selalu mungkin, mereka juga tidak diizinkan meninggalkan Australia dengan anaknya karena tidak mendapat izin dari suaminya."
"Saya belum pernah bertemu seorang perempuan yang mau meninggalkan anak-anaknya di negara lain dengan seseorang yang sudah melakukan kekerasan terhadapnya."
Mantan suami dan anak Shree memegang kewarganegaraan Australia.
Shree sedang mengajukan visa pasangan dengan perlindungan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Jika disetujui, ia dapat memperoleh status penduduk tetap tanpa bergantung pada mantan suaminya.
Namun, menurut situs resmi Department of Home Affairs, proses visa pasangan bisa memakan waktu lebih dari 17 bulan.
Nicole mengatakam bahkan untuk beberapa perempuan, prosesnya bisa memakan waktu hingga tahunan.
Sementara saat mereka menunggu, banyak perempuan yang tidak memiliki keterbatasan untuk bisa menghidupi diri mereka, sehingga mendorong mereka jadi tunawisma.
"Seringkali perempuan-perempuan itu tidak memiliki izin bekerja, jadi mereka tidak bisa belajar, tidak berhak mendapatkan bantuan untuk perawatan anak, mereka bahkan tidak bisa menjadi relawan," kata Nicole.
Itulah situasi yang dihadapi Shree yang tak punya pilihan selain tinggal di Australia.
"Saya tidak bisa meninggalkan putri saya dan pergi begitu saja karena itulah yang ia [suaminya] inginkan," kata Shree.
"Jika saya tidak menemukan tempat penampungan, saya mungkin sudah tidur di jalanan, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada saya."
Mimpi yang dibayar terlalu mahalKeluarga Bikram hanya punya sedikit uang untuk membiayai kuliahnya di Australia.
Tapi dengan harapan pendidikannya di Australia akan membuka banyak kesempatan, keluarganya menjual sebagian sawah mereka di sebuah desa terpencil di selatan Kathmandu, Nepal.
Beberapa tahun kemudian Bikram mengalami kesulitan untuk bertahan hidup di Australia karena semakin mahalnya biaya hidup. Ia pun mulai kehilangan kontak dengan keluarganya, seperti dilaporkan The Guardian.
Pada tahun 2023, ia tidak memperpanjang paspornya, kedutaan Nepal menghubungi keluarga Bikram untuk mengidentifikasi jenazahnya, yang ditemukan membusuk hingga diminta sampel DNA, catatan gigi, dan sidik jari.
Pihak keluarga baru tahu bagaimana kehidupan Bikram yang hidup di jalanan di Australia sebelum meninggal.
Hanya beberapa blok dari tempat jenazah Bikram ditemukan, terdapat hostel Matthew Talbot milik St Vincent de Paul Society, yang memiliki 52 tempat tidur untuk para pria lajang tunawisma.
Menurut James Newell dari St Vincent de Paul Society, dalam beberapa tahun terakhir jumlah mahasiswa internasional yang membutuhkan bantuan terus meningkat.
Penyebabnya adalah biaya kuliah yang tinggi, ditambah mahalnya biaya hidup lainnya.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat peningkatan jumlah mahasiswa internasional," kata James.
"Biaya makan, ditambah biaya sewa, dan semua tekanan tambahan yang dialami semua orang, jadi alasan utama mengapa mereka tidak bisa menyelesaikan studi mereka dan akhirnya terlantar di jalanan."
Meskipun hostel terbuka untuk mereka yang memegang visa sementara di Australia, biaya penyediaan tempat tidur untuk mereka yang tidak mendapat tunjangan sosial terpaksa ditanggung oleh pihak hostel.
"Sebagian besar pria yang tinggal di sini menerima tunjangan Centrelink, dan mereka akan membayar biaya akomodasi mereka melalui Centrelink … itu adalah proses yang cukup standar di sebagian besar tempat akomodasi di pusat kota," kata James.
"Bagi mereka yang bukan penduduk tetap, mereka tidak memenuhi syarat untuk mendapat bantuan Centrelink, jadi kami akan memberi mereka akomodasi darurat gratis selama tiga bulan."
Di hostel tersebut, rata-rata mereka dengan visa sementara menempati tempat tidur lebih lama dibanding mereka yang mendapat bantuan dari pemerintah.
Pekerja hostel juga berusaha untuk menyelesaikan masalah visa yang rumit bagi mereka, sambil mencari jalan untuk mendapatkan pekerjaan agar mereka bisa membayar akomodasi.
Jalan keluar dari tunawisma semakin rumit karena perumahan sosial bukanlah pilihan bagi mereka yang tidak berstatus penduduk tetap.
Survei dari NSW Street Count yang dirilis bulan Mei lalu menemukan ada 2.308 orang yang tidur di jalanan di New South Wales, meningkat 5 persen dari setahun sebelumnya.
Kota Sydney memiliki jumlah tunawisma terbesar di negara bagian tersebut, dengan perkiraan satu dari lima orang yang tidur di jalanan adalah mereka dengan visa sementara.
Mohammad adalah salah satunya. Dia berjalan melewati stasiun St James hampir setiap hari.
"Setiap kali saya berjalan di sini, saya merasa sangat sedih," kata Mohammad kepada program 7.30.
"Saya merasa bisa saja jadi seperti Bikram. Ini bisa menjadi cerita saya. Saya merasa sangat takut soal ini."
Ini adalah pertama kalinya Mohammad menjadi tunawisma dalam hidupnya.
Mohammad menceritakan kalau ia datang ke Australia 10 tahun lalu sebagai mahasiswa internasional dari Bangladesh, kemudian mendapatkan visa jenis 'graduate visa' dengan izin kerja.
Ia tidak dapat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya, tapi mendapatkan pekerjaan di pom bensin dan toko.
Sebagian besar penghasilannya dikirim pulang untuk istri dan kedua anaknya.
Pada bulan Desember, masa berlaku visanya habis, dan ia mulai tidur di jalanan tak lama setelah itu.
Ia sudah mendapatkan visa jenis 'bridging visa' setelah mengajukan permohonan suaka, menyusul perubahan pemerintahan di Bangladesh, di mana ia mengatakan berbahaya bagi dirinya dan keluarganya yang terlibat dalam politik.
Ia diizinkan untuk bekerja lagi, tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Istrinya mulai bertanya mengapa ia berhenti mengirim uang.
Karena malu dengan situasinya, ia belum memberi tahu istri dan keluarganya kalau ia menjadi tunawisma.
"Istrinya saya punya sejumlah keraguan," katanya kepada 7.30.
"Ketika ada yang di luar negeri, orang-orang memiliki harapan lebih besar kalau kita akan melakukan sesuatu yang baik untuk mereka."
"Ayahku, ibuku, jika saya memberi tahu mereka, mungkin saya akan menjadi penyebab kematian mereka."
"Jika saya meninggal ... saya tidak bisa menceritakan cerita ini kepada keluarga saya. Tidak akan pernah."
'Akan banyak seperti Bikram'Mohammad juga sudah berkali-kali ditolak dari tempat penampungan darurat.
"Awalnya, mereka bertanya, 'Apakah kamu punya Medicare? Apakah kamu punya Centrelink?' Kami baru bisa bantu kalau kamu punya. Jika tidak, kamu harus mengantre dan antreannya panjang" kata Mohammad.
Departemen Pelayanan Sosial Australia menolak menjawab pertanyaan dari 7.30, tetapi sejumlah layanan bagi tunawisma mengatakan akan ada lebih banyak kematian di kalangan tunawisma jika dukungan pendapatan tidak diberikan kepada mereka yang tak memiliki status penduduk tetap.
"Tentu saja perlu ada bantuan yang diberikan kepada individu-individu tersebut, jika tidak, kita akan melihat lebih banyak kasus seperti Bikram. Kita akan melihat lebih banyak orang meninggal di jalanan," kata James.
Shree adalah salah satu dari sedikit orang yang beruntung mendapatkan tempat tinggal sementara agar ia tidak tidur di jalanan, tapi ia tetap merasa tak terlihat.
"Orang-orang mengabaikan orang seperti Bikram atau saya karena kami seperti menjadi tabu bagi masyarakat," kata Shree.
"Sangat menyedihkan karena orang-orang tidak diperlakukan sebagai manusia hanya karena status imigrasi mereka."
Baca beritanya dalam bahasa Inggris
Saksikan program 7.30 dari ABC, Senin hingga Kamis pukul 19.30 di ABC iview dan ABC TV
(ita/ita)





