Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengklaim kesepakatan untuk mengakhiri secara permanen perang antara AS-Israel dan Iran dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan, bahkan berpeluang terlaksana akhir pekan ini.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Kamis (11/6/2026) waktu setempat, di tengah perkembangan situasi yang berubah cepat dalam konflik AS dan Iran.
“Kami baru saja mencapai penyelesaian besar terkait perang dengan Iran. Sekarang tinggal finalisasi dokumen yang diperkirakan selesai dalam beberapa hari ke depan. Mungkin akan ada penandatanganan, kemungkinan di Eropa,” kata Trump kepada wartawan seperti dikutip kantor berita Anadolu, Jumat (12/6/2026) pagi WIB.
Trump menyebut prosesi penandatanganan bisa berlangsung dalam waktu dekat. Ia mengatakan JD Vance Wakil Presiden AS, Steve Witkoff Utusan Khusus, dan Jared Kushner penasihatnya akan mewakili AS dalam proses tersebut.
Menurut Trump, dirinya kemungkinan tidak dapat menghadiri acara itu karena memiliki sejumlah agenda di Washington DC terkait peringatan 250 tahun Amerika Serikat.
Saat ditanya apakah Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran telah menyetujui kesepakatan tersebut, Trump menjawab, “Sejauh yang saya pahami, jawabannya ya.”
Trump juga mengaku telah berbicara dengan sejumlah mitra regional yang membantu proses perundingan, termasuk Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki, yang menurutnya berperan penting dalam upaya mengakhiri konflik.
Dalam kampanye virtual untuk mendukung Burt Jones Wakil Gubernur Georgia pada Kamis malam, Trump kembali menegaskan bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Itu tujuan utamanya, sekitar 95 persen dari keseluruhan persoalan, dan mereka menyetujuinya dengan cara yang paling kuat,” ujarnya.
Meski optimistis soal perdamaian, situasi di lapangan masih memanas. Pasukan AS pada Rabu (10/6/2026) malam, kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, sehari setelah Iran menembak jatuh helikopter Apache AS di Selat Hormuz.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang 18 target militer AS, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain, serta pangkalan militer AS di Yordania.
Beberapa jam sebelum mengumumkan kemajuan negosiasi, Trump bahkan sempat mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran secara lebih keras.
Ia juga menyinggung kemungkinan mengambil alih Pulau Kharg, terminal ekspor energi utama Iran, langkah yang dinilai berpotensi membutuhkan pengerahan pasukan darat AS.
Namun ketika ditanya kembali mengenai opsi tersebut, Trump menegaskan langkah militer lanjutan tidak akan diperlukan apabila kesepakatan damai berhasil ditandatangani. “Jika kita menandatangani kesepakatan ini, maka itu tidak akan terjadi,” kata Trump. (bil/ipg)




