Kehadiran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Muhammad Thohir di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, memberi harapan bagi peningkatan layanan kesehatan di wilayah terpencil. Selama bertahun-tahun, masyarakat di kabupaten itu harus berobat ke luar daerah karena keterbatasan fasilitas rumah sakit di wilayah tersebut.
Rikawati (34), warga Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, masih ingat betul saat anaknya menjadi korban tabrakan mobil di Jalan Lintas Barat Sumatera, tepatnya di Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, pada tahun 2025. Saat itu, dia cepat-cepat membawa buah hatinya ke puskesmas terdekat.
Petugas kesehatan yang memeriksa menyebut tak ada luka serius dan meminta Rika membawa anaknya pulang ke rumah. Namun, sesampainya di rumah, anaknya muntah berulang kali.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada buah hatinya, Rika langsung membawa anaknya berobat ke rumah sakit swasta di Kota Bandar Lampung. Keluarganya harus menempuh perjalanan 6 jam dari tempat tinggalnya ke Bandar Lampung. Jaraknya memang relatif jauh, yakni sekitar 200 kilometer.
“Saat itu, kejadiannya hari Sabtu. Puskesmas sudah libur dan tidak ada rumah sakit di kabupaten ini. Saya langsung saya bawa ke rumah sakit di Bandar Lampung, berobat lewat jalur umum,” ujar Rikawati saat dihubungi dari Bandar Lampung, Jumat (12/6/2026).
Rikawati mengatakan, hasil pemeriksaan rumah sakit menunjukkan ada penyumbatan pada bagian otak anaknya. Beruntung, penyumbatan itu bisa segera ditangani sehingga tidak perlu ada tindakan operasi. Selama sepekan dirawat di rumah sakit, Rikawati menghabiskan biaya belasan juta rupiah untuk pengobatan anaknya dan biaya transportasi.
Rikawati hanyalah satu dari sekitar 178.000 jiwa penduduk Kabupaten Pesisir Barat yang membutuhkan layanan rumah sakit. Selama ini, masyarakat di daerah itu memang sangat mengandalkan layanan puskesmas untuk berobat.
Jika harus dirujuk, mereka harus berobat jalan atau rawat inap ke luar kabupaten. Rumah sakit yang biasanya menjadi rujukan berada di Kabupaten Pringsewu atau Bandar Lampung karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Untuk sampai ke sana, warga Pesisir Barat harus menempuh 4-7 jam perjalanan lewat jalur darat, bergantung lokasi rumah sakit yang menjadi rujukan.
Akses jalan yang dilewati juga cukup menantang karena harus melewati jalanan yang curam dan menanjak. Lintas Barat Sumatera yang membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menjadi satu-satu-satunya jalur darat dari dan menuju kabupaten tersebut. Jika terjadi banjir atau longsor, akses jalan bisa saja terputus sehingga warga harus memutar lebih jauh melalui Jalan Lintas Tengah Sumatera.
Karena itu, kehadiran RSUD KH Muhammad Thohir yang diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, pada Rabu (10/6/2026), memberikan harapan besar bagi peningkatan layanan kesehatan di wilayah itu.
Untuk sampai ke lokasi itu, Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal harus naik helikopter. Keterbatasan akses transportasi ke Pesisir Barat memang menjadi tantangan terbesar bagi wilayah itu.
“Setidaknya, sudah ada fasilitas rumah sakit yang lebih memadai. Ke depan, harapannya rumah sakit itu bisa semakin maju sehingga masyarakat di sini tidak harus beroobat ke luar kabupaten yang jaraknya jauh,” kata Rikawati penuh harap.
Merujuk informasi dari laman pesisirbaratkab.go.id, RSUD KH Muhammad Thohir dibangun pada tahun 2015 dengan APBD Lampung sebesar Rp 15 miliar. Pada tahun 2016, rumah sakit itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat yang saat itu diberi nama Rumah Sakit Komunitas Krui. Nama rumah sakit itu lalu diubah menjadi RSUD KH Muhammad Thohir yang diambil dari seroang nama tokoh agama dan tokoh masyarakat di kabupaten tersebut.
Sebelum dibangun oleh pemerintah pusat, RSUD itu hanya memiliki 19 ruang rawat dan berbagai layanan kesehatan, seperti ruang rawat jalan, ruang gizi, rontgen, kebidanan, dan Unit Gawat Darurat (UGD). Jumlah tenaga kesehatan yang bekerja mencapai 131 orang, termasuk dokter spesialis penyakit dalam, kandungan, radiologi, bedah, dan anak.
Pembangunan RSUD KH Muhammad Thohir merupakan bagian dari program percepatan pembangunan rumah sakit pemerintah pusat. Sebelumnya, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga mengusulkan pembangunan RSUD tersebut agar masyarakat Pesisir Barat dan wilayah sekitarnya memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih dekat, cepat, dan berkualitas.
Dari sisi kapasitas, RSUD KH Muhammad Thohir mengalami peningkatan signifikan dari sebelumnya. Saar ini, ada sekitar 137 tempat tidur untuk kebutuhan rawat inap. Rumah sakit ini juga telah dilengkapi berbagai fasilitas modern seperti Intensive Care Unit (ICU), Intensive Cardiovascular Care Unit (ICVCU), layanan hemodialisa, kamar operasi, radiologi, laboratorium, layanan rawat jalan, serta ruang Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).
Selain gedung dan fasilitas pelayanan yang telah selesai dibangun, pemerintah juga melengkapi kebutuhan alat kesehatan modern dan tenaga medis spesialis guna memastikan layanan kesehatan dapat berjalan optimal.
Saat tiba di RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Presiden Prabowo terlebih dulu meninjau sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, antara lain Instalasi Gawat Darurat (IGD), poli anak, poli gigi, poli umum, poli THT, poli kandungan dan kebidanan, serta poli penyakit dalam. Presiden juga menyapa para tenaga kesehatan yang bertugas dan masyarakat yang tengah berobat.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan syukur dan bahagia karena masyarakat Pesisir Barat kini mendapat akses layanan kesehatan yang lebih dekat dan memadai. “Saya menyambut baik dan dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan saya bisa hadir di sini. Dan saya bergembira bahwa Kabupaten Pesisir Barat ini di Kota Krui ini sekarang bisa mendapat akses layanan kesehatan yang memadai,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya pengelolaan rumah sakit yang profesional dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. Seluruh jajaran rumah sakit diminta menjaga kualitas layanan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Rumah sakit itu juga diharapkan bisa berkembang menjadi pusat layanan kesehatan andalan bagi masyarakat di Pesisir Barat dan sekitarnya.
“Saya berpesan agar rumah sakit ini dikelola dengan baik, dijaga kebersihannya, dilaksanakan manajemen yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan kepada rakyat dan masyarakat. Rakyat masyarakat harus merasakan manfaat nyata dari kehadiran rumah sakit ini,” tegas Presiden.
RSUD KH Muhammad Thohir Krui merupakan salah satu proyek strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan daerah. Rumah sakit itu dibangun melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dengan dukungan anggaran APBN sebesar Rp152,99 miliar. Pembangunan fisiknya telah mencapai 100 persen pada akhir 2025 dan kini siap memberikan pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa RSUD KH Muhammad Thohir merupakan satu dari 66 rumah sakit yang dibangun pemerintah pusat untuk memperkuat layanan kesehatan rujukan daerah. Rumah sakit itu diproyeksikan mampu menangani lima kelompok penyakit penyebab kematian tertinggi, yakni stroke, jantung, kanker, gangguan ginjal, serta layanan kesehatan ibu dan anak.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, kehadiran RSUD KH Muhammad Thohir menjadi langkah penting dalam memperkuat pemerataan pembangunan kesehatan di Lampung, khususnya bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap rumah sakit rujukan. Beroperasinya rumah sakit itu membuat masyarakat bisa menjangkau pelayanan kesehatan rujukan yang lebih dekat. Selain itu, keberadaannya mengurangi kebutuhan rujukan pasien ke Bandar Lampung maupun ke luar daerah.
Dia menambahkan, Pemprov Lampung berupaya mendorong pembangunan bidang kesehatan dengan dukungan pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga mendorong pengaktifan pelayanan BPJS Kesehatan serta pemenuhan tenaga dokter spesialis untuk layanan prioritas.
Kehadiran rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat menjadi upaya pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan kesehatan. Harapannya, masyarakat di daerah terpencil mendapatkan hak yang sama atas pelayanan kesehatan yang berkualitas seperti banyak masyarakat di hidup di wilayah perkotaan.





