REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemilahan sampah dari sumbernya dinilai menjadi faktor penting untuk mencapai target penurunan emisi sektor limbah dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Tanpa pemilahan yang baik, berbagai fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi berisiko tidak beroperasi secara optimal.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono mengatakan, pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir harus berjalan secara terintegrasi agar target pengurangan emisi dapat tercapai.
- Bekasi, Bogor, dan Denpasar Jadi Lokasi Awal Proyek Sampah Jadi Listrik
- Tiga Proyek Pengolahan Sampah Gelombang Pertama Resmi Berstatus PSN
- Sampah Organik Bisa Jadi Produk Bernilai Ekonomi
"Yang ingin saya soroti adalah pengelolaan sampah seperti WTE, RDF Plant, berisiko tidak berjalan kalau tidak ada pemilahan yang baik, sehingga apa yang dilakukan di hulu, seperti pemilahan kelihatannya sepele, tapi pengaruhnya signifikan, termasuk pada capaian NDC kami," tegas Diaz dalam Ministerial Dialogue on Climate Change: Akselerasi Pencapaian NDC melalui Nilai Ekonomi Karbon, Kamis (11/6/2026).
Diaz menjelaskan, Kementerian Lingkungan Hidup menjadi instansi yang bertanggung jawab terhadap pencapaian target penurunan emisi dari sektor limbah. Dalam dokumen NDC, sektor limbah ditargetkan mampu menurunkan emisi hingga 40 juta ton.
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Untuk sektor limbah, pengampunya di Kementerian Lingkungan Hidup dan ada target untuk menurunkan 40 juta ton dari sektor limbah, hal ini dilakukan dengan berbagai cara dari hulu hingga hilir," jelas Diaz.
Menurut Diaz, salah satu langkah utama yang dilakukan di tingkat hulu adalah memperkuat praktik pengomposan yang didukung pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Sampah organik yang telah dipilah kemudian dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
"Pertama, kita lakukan dengan pengomposan dan melakukan pemilahan, di daerah Rorotan ada RDF Plant dan kita mulai memberlakukan program pemilahan di Jakarta Utara, setelah pemilahan bisa dijadikan bubur yang nanti dibawa ke peternak maggot," tambahnya.
Kementerian Lingkungan Hidup juga mendorong penerapan pengelolaan sampah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Sekolah Rakyat. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah sekaligus mendukung pengendalian emisi.
"Untuk SPPG dan Sekolah Rakyat, kita mempromosikan composting di sana untuk meningkatkan metode pengomposan," katanya.
Sementara untuk menangani timbulan sampah dalam jumlah besar, pemerintah menyiapkan fasilitas pengolahan berbasis teknologi seperti waste-to-energy (WTE) dan refuse derived fuel (RDF). Teknologi tersebut diproyeksikan mampu mengolah sampah antara 1.000 hingga 2.500 ton per hari.
"WTE sudah banyak dibahas dan batch 1 sudah selesai, batch 2 sedang proses lelang di Danantara, ini termasuk Jogja, Bogor Raya dan sebagainya, kalau RDF di Rorotan, mereka sudah mulai operasional lagi untuk 800 ton per hari, saya rasa tinggal ditingkatkan saja," kata Diaz.
Diaz menegaskan, keberhasilan fasilitas pengolahan sampah modern tetap bergantung pada kualitas pemilahan sampah di tingkat sumber. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah menjadi salah satu kunci untuk mencapai target penurunan emisi sektor limbah sekaligus mendukung komitmen iklim Indonesia.




