Jakarta (ANTARA) - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Pegadaian melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS), yang menandai penerapan electronic gold receipt (EGR) dan exchange traded fund (ETF) emas pada semester II 2026 di pasar modal Indonesia.
Selain itu, kerja sama kedua pihak juga menandai bahwa Pegadaian secara resmi bergabung sebagai pemegang rekening KSEI.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, mengatakan KSEI memberikan dukungan penuh terhadap kemajuan pasar modal Indonesia, termasuk untuk pengembangan infrastruktur maupun jalinan kolaborasi strategis dengan berbagai pihak.
Ia menyebut bergabungnya Pegadaian sebagai pemegang rekening KSEI menjadi salah satu langkah relevan untuk menyambut pengembangan EGR dan ETF emas sebagai bagian dari upaya perluasan pilihan produk investasi pasar modal Indonesia.
"Produk inovatif ini diharapkan dapat menjadi alternatif investasi yang menghubungkan karakteristik emas sebagai aset yang telah dikenal luas oleh masyarakat, dengan mekanisme investasi yang transparan dan teradministrasi dengan baik melalui infrastruktur yang telah dimiliki KSEI," ujar Samsul.
Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian Selfie Dewiyanti mengatakan kerja sama ini merupakan respons nyata untuk mendukung penguatan ekosistem bullion bank di Indonesia melalui inovasi investasi terbaru berupa ETF emas.
"Meskipun instrumen keuangan berbasis emas ini tergolong baru di tanah air, skema serupa telah berkembang pesat dan terbukti maju di bursa global, salah satunya di Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan diri sebagai pemegang porsi ETF emas terbesar di dunia," ujar Selfie.
Melalui ETF emas di pasar domestik, ia menyebut para investor kini memiliki alternatif instrumen yang memungkinkan mereka melakukan investasi emas secara mudah, aman, dan langsung melalui mekanisme perdagangan di bursa efek layaknya bertransaksi saham.
Ia melanjutkan sinergi antara kedua pihak merupakan langkah strategis yang tidak hanya memperkuat tata kelola keamanan pencatatan aset investasi, namun juga menyiapkan infrastruktur kokoh bagi ekosistem bullion Indonesia untuk melebur ke dalam pasar modal global.
"Kami berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan peran kami sebagai penyedia dan penyimpan emas terpercaya, memberikan jaminan transparansi penuh bagi para investor bahwa setiap gram emas digital yang mereka transaksikan didukung penuh oleh fisik emas yang nyata di brankas kami," ujar Selfie.
Pada 27 April 2026, OJK telah memberikan persetujuan atas permohonan PT Pegadaian untuk menjadi pemegang rekening KSEI.
Persetujuan ini menjadi landasan formal yang membuka jalan hadirnya milestone penting di pasar modal Indonesia, yaitu terbentuknya infrastruktur penyimpanan dan penyelesaian untuk efek EGR yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia sebagai efek yang mendasari produk investasi ETF emas.
Setelah bergabung sebagai pemegang rekening KSEI, maka Pegadaian memperoleh wewenang untuk langsung mencatat EGR ke dalam sistem KSEI, yaitu The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST).
EGR emas merupakan bukti kepemilikan emas digital yang dijamin oleh emas fisik dan dicatat secara elektronik di sistem KSEI yang didasari oleh emas fisik yang disimpan dan diadministrasikan oleh PT Pegadaian yang berperan sebagai institusi penyimpan emas yang telah mendapatkan izin sebagai penyelenggara kegiatan usaha bullion dari OJK.
Adapun transformasi EGR menjadi efek yang dapat diperdagangkan di pasar modal merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem investasi emas yang modern dan terintegrasi.
Bergabungnya PT Pegadaian sebagai pemegang rekening KSEI pada 2026 menambah total pemegang rekening KSEI menjadi 124, yang berdampak positif pada pendalaman pasar modal dan penguatan ekosistem keuangan nasional, termasuk potensi peningkatan total aset yang dikelola serta likuiditas di pasar modal Indonesia.
Seiring dengan itu, KSEI terus mengembangkan kapasitas sistem digitalnya guna memastikan infrastruktur yang andal dan adaptif dalam mengakomodasi dinamika pasar modal Indonesia ke depan.
Sebagai pemegang rekening KSEI dan bullion bank, Pegadaian juga memiliki peluang untuk mengoptimalkan perannya di pasar modal Indonesia melalui aktivitas pinjam meminjam efek, sehingga tidak hanya mendukung pengembangan ETF emas, tetapi juga meningkatkan likuiditas, efisiensi transaksi, dan pendalaman pasar modal Indonesia.
Sebagai pemegang rekening KSEI, Pegadaian juga menjadi enabler fitur produk ETF emas yang dapat dijadikan sebagai agunan melalui produk Pegadaian Gadai Efek yang telah melayani segmen investor ritel dan institusi sejak 2019.
Adapun produk Pegadaian Gadai Efek merupakan produk pembiayaan atas dasar hukum gadai dengan agunan saham dan obligasi yang diperdagangkan di BEI, sehingga masyarakat dapat tetap dapat mengoptimalkan momentum melalui pemenuhan kebutuhan jangka pendeknya dengan ETF emas maupun saham dan obligasi yang dimiliki sebagai agunan produk Pegadaian Gadai Efek.
Baca juga: KSEI: Perbankan sumbang dividen terbesar Rp80,34 triliun pada 2025
Baca juga: KSEI catat investor pasar modal RI capai 20,13 juta SID
Baca juga: Langkah Pegadaian lebih dekat dengan hati nasabah
Selain itu, kerja sama kedua pihak juga menandai bahwa Pegadaian secara resmi bergabung sebagai pemegang rekening KSEI.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, mengatakan KSEI memberikan dukungan penuh terhadap kemajuan pasar modal Indonesia, termasuk untuk pengembangan infrastruktur maupun jalinan kolaborasi strategis dengan berbagai pihak.
Ia menyebut bergabungnya Pegadaian sebagai pemegang rekening KSEI menjadi salah satu langkah relevan untuk menyambut pengembangan EGR dan ETF emas sebagai bagian dari upaya perluasan pilihan produk investasi pasar modal Indonesia.
"Produk inovatif ini diharapkan dapat menjadi alternatif investasi yang menghubungkan karakteristik emas sebagai aset yang telah dikenal luas oleh masyarakat, dengan mekanisme investasi yang transparan dan teradministrasi dengan baik melalui infrastruktur yang telah dimiliki KSEI," ujar Samsul.
Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian Selfie Dewiyanti mengatakan kerja sama ini merupakan respons nyata untuk mendukung penguatan ekosistem bullion bank di Indonesia melalui inovasi investasi terbaru berupa ETF emas.
"Meskipun instrumen keuangan berbasis emas ini tergolong baru di tanah air, skema serupa telah berkembang pesat dan terbukti maju di bursa global, salah satunya di Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan diri sebagai pemegang porsi ETF emas terbesar di dunia," ujar Selfie.
Melalui ETF emas di pasar domestik, ia menyebut para investor kini memiliki alternatif instrumen yang memungkinkan mereka melakukan investasi emas secara mudah, aman, dan langsung melalui mekanisme perdagangan di bursa efek layaknya bertransaksi saham.
Ia melanjutkan sinergi antara kedua pihak merupakan langkah strategis yang tidak hanya memperkuat tata kelola keamanan pencatatan aset investasi, namun juga menyiapkan infrastruktur kokoh bagi ekosistem bullion Indonesia untuk melebur ke dalam pasar modal global.
"Kami berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan peran kami sebagai penyedia dan penyimpan emas terpercaya, memberikan jaminan transparansi penuh bagi para investor bahwa setiap gram emas digital yang mereka transaksikan didukung penuh oleh fisik emas yang nyata di brankas kami," ujar Selfie.
Pada 27 April 2026, OJK telah memberikan persetujuan atas permohonan PT Pegadaian untuk menjadi pemegang rekening KSEI.
Persetujuan ini menjadi landasan formal yang membuka jalan hadirnya milestone penting di pasar modal Indonesia, yaitu terbentuknya infrastruktur penyimpanan dan penyelesaian untuk efek EGR yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia sebagai efek yang mendasari produk investasi ETF emas.
Setelah bergabung sebagai pemegang rekening KSEI, maka Pegadaian memperoleh wewenang untuk langsung mencatat EGR ke dalam sistem KSEI, yaitu The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST).
EGR emas merupakan bukti kepemilikan emas digital yang dijamin oleh emas fisik dan dicatat secara elektronik di sistem KSEI yang didasari oleh emas fisik yang disimpan dan diadministrasikan oleh PT Pegadaian yang berperan sebagai institusi penyimpan emas yang telah mendapatkan izin sebagai penyelenggara kegiatan usaha bullion dari OJK.
Adapun transformasi EGR menjadi efek yang dapat diperdagangkan di pasar modal merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem investasi emas yang modern dan terintegrasi.
Bergabungnya PT Pegadaian sebagai pemegang rekening KSEI pada 2026 menambah total pemegang rekening KSEI menjadi 124, yang berdampak positif pada pendalaman pasar modal dan penguatan ekosistem keuangan nasional, termasuk potensi peningkatan total aset yang dikelola serta likuiditas di pasar modal Indonesia.
Seiring dengan itu, KSEI terus mengembangkan kapasitas sistem digitalnya guna memastikan infrastruktur yang andal dan adaptif dalam mengakomodasi dinamika pasar modal Indonesia ke depan.
Sebagai pemegang rekening KSEI dan bullion bank, Pegadaian juga memiliki peluang untuk mengoptimalkan perannya di pasar modal Indonesia melalui aktivitas pinjam meminjam efek, sehingga tidak hanya mendukung pengembangan ETF emas, tetapi juga meningkatkan likuiditas, efisiensi transaksi, dan pendalaman pasar modal Indonesia.
Sebagai pemegang rekening KSEI, Pegadaian juga menjadi enabler fitur produk ETF emas yang dapat dijadikan sebagai agunan melalui produk Pegadaian Gadai Efek yang telah melayani segmen investor ritel dan institusi sejak 2019.
Adapun produk Pegadaian Gadai Efek merupakan produk pembiayaan atas dasar hukum gadai dengan agunan saham dan obligasi yang diperdagangkan di BEI, sehingga masyarakat dapat tetap dapat mengoptimalkan momentum melalui pemenuhan kebutuhan jangka pendeknya dengan ETF emas maupun saham dan obligasi yang dimiliki sebagai agunan produk Pegadaian Gadai Efek.
Baca juga: KSEI: Perbankan sumbang dividen terbesar Rp80,34 triliun pada 2025
Baca juga: KSEI catat investor pasar modal RI capai 20,13 juta SID
Baca juga: Langkah Pegadaian lebih dekat dengan hati nasabah





