Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan sengit antara perusahaan kecerdasan buatan (AI) OpenAI dan Anthropic ternyata menjadi faktor yang mempercepat ledakan teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan yang terlalu cepat dan tidak disertai regulasi yang matang untuk menanggulangi dampaknya, telah membawa 'petaka' bagi masyarakat luas.
Salah satunya terkait dunia kerja. Gelombang PHK masih terus berlanjut dan banyak raksasa teknologi menjadikan AI yang efisien dan produktif sebagai kambing hitam.
Kelas pekerja dilanda ketakutan terkait masa depan mereka, jika AI sudah makin cerdas dan bisa menggantikan peran manusia. Belum lagi dampak lingkungan, termasuk krisis air dan listrik, akibat konstruksi infrastruktur data center AI yang kian membludak.
Dampak lainnya terkait modus penipuan yang kian mudah dan canggih gara-gara AI dan bisa mengakibatkan kerugian keuangan dan reputasi bagi korban. Penyebaran disinformasi yang memicu polarisasi dan dampak sosial juga dimudahkan oleh AI yang kian canggih.
- Perintah Trump Tak Terduga, Semua Warga AS Bisa Kaya Raya
- Bos Besar Sinarmas Jawab Soal Rencana RI Bikin AI Saingan Deepseek
- Kanada Ikut Aturan Indonesia, Gebrakan RI Menjamur ke Seluruh Dunia
Kini, rivalitas dua raja teknologi, OpenAI dan Anthropic, mulai meluas ke pasar modal. Keduanya berlomba menjadi perusahaan AI pertama yang melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
Pada akhir 2022, OpenAI mengetahui bahwa Anthropic tengah mengembangkan chatbot berbasis AI. Menanggapi hal tersebut, CEO OpenAI, Sam Altman, langsung meminta timnya mempercepat peluncuran produk pesaing.
Hanya dua pekan kemudian, OpenAI merilis ChatGPT yang kemudian memicu revolusi teknologi dan mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi, sekaligus membuka peluang perubahan besar terhadap perekonomian global.
Kini, urgensi yang sama terlihat dalam rencana IPO kedua perusahaan. OpenAI dan Anthropic sama-sama berusaha lebih dulu masuk ke pasar saham karena menilai status sebagai perusahaan publik pertama akan membantu membentuk persepsi investor terhadap nilai perusahaan sekaligus mengukuhkan posisi CEO mereka sebagai tokoh utama dalam industri AI.
Hingga Mei lalu, banyak penasihat keuangan memperkirakan OpenAI akan menjadi yang pertama memulai proses IPO. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, OpenAI bahkan telah memberi tahu sejumlah investor bahwa perusahaan menargetkan IPO paling cepat pada September tahun ini.
Namun, Anthropic bergerak lebih cepat. Pada 1 Juni lalu, perusahaan tersebut mengumumkan telah mengajukan dokumen rahasia kepada regulator Amerika Serikat untuk proses IPO. OpenAI kemudian menyusul seminggu setelahnya.
Persaingan ini tidak hanya melibatkan Altman dan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang sebelumnya merupakan peneliti di OpenAI dan berperan dalam pengembangan teknologi inti yang memungkinkan lahirnya ChatGPT.
Persaingan tersebut kini merambah ke Wall Street. Sebab, jarang terjadi dua pesaing langsung dengan skala sebesar ini menggalang dana publik pada waktu yang hampir bersamaan. Kedua perusahaan bahkan menggunakan sejumlah bank investasi yang sama untuk membantu proses IPO mereka.
OpenAI disebut membidik valuasi sekitar US$1 triliun saat melantai di bursa. Di sisi lain, para bankir dan penasihat keuangan menghadapi hubungan yang semakin rumit karena harus menangani kedua perusahaan sekaligus.
Menurut sejumlah sumber, eksekutif OpenAI dan Anthropic sama-sama menekan penasihat IPO mereka untuk memperoleh informasi mengenai rencana pesaing. Situasi tersebut membuat beberapa bank membangun sekat internal antara tim yang menangani masing-masing perusahaan guna mencegah kebocoran informasi.
Perang di Industri AICEO Arena, perusahaan yang bergerak di bidang evaluasi dan pengukuran AI, Anastasios Angelopoulos, menggambarkan rivalitas kedua perusahaan sebagai persaingan yang sangat agresif.
"Ini perang habis-habisan antara mereka," kata Angelopoulos, dikutip dari Reuters, Jumat (12/6/2026).
"Setiap kali ada rilis baru dari Anthropic, taruhannya adalah OpenAI akan segera menyusul dan sebaliknya," lanjutnya.
Baik OpenAI maupun Anthropic menolak memberikan komentar terkait rivalitas para CEO tersebut.
Persaingan kedua perusahaan juga mencakup cara mereka menyajikan kinerja keuangan kepada investor.
Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, OpenAI telah memberi tahu investor dan karyawan bahwa metode akuntansi yang digunakan Anthropic membuat pendapatan perusahaan terlihat lebih besar hingga miliaran dolar AS.
Pada April lalu, Chief Revenue Officer OpenAI, Denise Dresser, menyampaikan kepada karyawan bahwa OpenAI menilai laporan keuangan Anthropic terlalu tinggi nilainya.
Anthropic mencatat seluruh pembayaran pelanggan atas layanan AI sebagai pendapatan. Namun, sebagian dana tersebut kemudian disalurkan kepada mitra seperti Amazon dan Google.
Sementara itu, OpenAI menggunakan metode berbeda dengan hanya melaporkan pendapatan bersih setelah membayar mitranya, yakni Microsoft.
Anthropic membela praktik tersebut dengan menyatakan bahwa perusahaan mengikuti standar akuntansi yang berlaku dan berhak mengakui pendapatan bruto karena bertindak sebagai pihak utama dalam transaksi, sedangkan mitra cloud hanya berfungsi sebagai saluran distribusi.
Analis D.A. Davidson, Gil Luria, menilai keinginan Anthropic menjadi perusahaan publik lebih dulu berkaitan dengan upaya membentuk standar pelaporan keuangan industri AI.
"Keuntungan Anthropic mengalahkan OpenAI di pasar publik adalah mereka akan dapat menetapkan agenda tentang bagaimana model mutakhir melaporkan keuangan dan melakukannya dengan cara yang menguntungkan model keuangan mereka," ujar Luria.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google




