jpnn.com - Tumpukan sampah yang menggunung kerap dianggap sebagai masalah. Namun, di sudut Jalan Buntu, Desa Kramatwatu, Kabupaten Serang, sampah justru menjelma menjadi harapan.
Dari tempat sederhana itu, seorang anggota Polri membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui seragam atau tugas kepolisian, tetapi juga lewat aksi nyata menjaga lingkungan serta memberdayakan warga.
BACA JUGA: Kritik Omongan Purbaya, Ichsanuddin Noorsy: Kenaikan Pertamax Bikin Ekonomi Tersendat, Rakyat Melarat
Aiptu Eko Yulianto bersama nasabah Unit Bank Sampah Berkah Bhayangkara dengan program unggulan sampah ditukar emas. Foto: Abdul Malik Fajar/JPNN.com
Dialah Aiptu Eko Yulianto, sekarang mengemban tugas sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) 1 Polsek Waringinkurung, Polresta Serang Kota.
BACA JUGA: Demo Mahasiswa di Jakarta, Polda Metro Jaya dan TNI Kerahkan 4.151 Personel
Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, Aiptu Eko mendirikan Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, sebuah gerakan sosial yang kini menjadi inspirasi bagi banyak pihak.
Perjalanan itu bermula pada masa pandemi Covid-19, tepatnya tahun 2019. Saat itu, Kabupaten Serang tengah menghadapi persoalan serius terkait sampah.
BACA JUGA: Ingin Mendompleng Demo Mahasiswa di Jakarta, 2 Orang Bawa Bom Molotov Ditangkap
Kondisi lingkungan yang memprihatinkan menggugah hati Aiptu Eko untuk mengambil peran.
"Awalnya karena keresahan melihat kondisi darurat sampah. Saya berpikir, sebagai anggota Polri saya juga harus bisa memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat," ucap Aiptu Eko kepada JPNN.com, Jumat (12/6).
Berbekal tekad serta semangat belajar dengan sesama, Aiptu Eko memulai langkah kecil dari lingkungan rukun tetangga (RT) tempat tinggalnya.
Tidak mudah mengedukasi masyarakat itu menjadi tantangan terbesar. Namun, dia memilih untuk tidak menyerah.
Pendiri Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara Aiptu Eko Yulianto sedang memilah sampah. Foto: Abdul Malik Fajar/JPNN.com
"Saya mulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, baru mengajak warga sekitar. Sebelum mengajak masyarakat, saya harus memberi contoh terlebih dahulu," ujarnya.
Mungkin bagi sebagian orang, tumpukan kardus, botol plastik, atau logam bekas hanya dianggap sampah. Namun, di Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, benda-benda itu bernilai ekonomi.
Aiptu Eko Yulianto menjelaskan bahwa harga sampah ditentukan berdasarkan jenisnya. Kertas dihargai mulai Rp 500 hingga Rp 2.000 per kilogram.
Plastik berkisar Rp 1.000 sampai Rp 5.000 per kilogram, sementara logam memiliki nilai lebih tinggi. Besi dihargai sekitar Rp 3.000 per kilogram, sedangkan tembaga dapat mencapai Rp 100.000 per kilogram.
"Melalui sosialisasi, kami mengajarkan masyarakat mengenali jenis-jenis sampah yang memiliki nilai jual. Kami tidak langsung mengenalkan ratusan jenis sampah, tetapi dilakukan secara bertahap agar mudah dipahami," ungkap Aiptu Eko.
Langkah sederhana itu perlahan membuahkan hasil. Bank sampah yang awalnya hanya beroperasi di tingkat RT berkembang menjadi tingkat desa, kecamatan, hingga akhirnya menjadi Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara yang kini membina lebih dari 40 unit mitra.
Mitra-mitra tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai sekolah, perusahaan, lingkungan permukiman hingga instansi pemerintah. Setiap bulan, sedikitnya 40 ton sampah berhasil dikumpulkan dari seluruh jaringan mitra tersebut.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan cerita tentang lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih peduli, dan ekonomi keluarga yang semakin terbantu.
Kesadaran menyebar sampai ke sebuah jalan kecil bernama Gang Resik, Desa Kramatwatu, Kabupaten Serang. Di sana, semangat perubahan itu terasa nyata.
Purwaningtias, Ketua Unit Bank Sampah Berkah Bhayangkara setempat masih mengingat bagaimana persoalan sampah pernah menjadi keluhan warga.
Sampah yang terlambat diangkut sering kali menumpuk berhari-hari hingga mengganggu kenyamanan lingkungan.
Melihat keberadaan Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, dia bersama warga tergerak untuk ikut bergabung pada Juni 2021, unit bank sampah di lingkungannya resmi berdiri.
"Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat baik. Setelah mendapat edukasi dari Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, kami bisa menjalankan program ini sampai sekarang," ucap ibu berusia 48 tahun.
Manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata memiliki nilai ekonomi.
Botol plastik, kardus, tutup botol, kertas, hingga logam kini dikumpulkan dan ditimbang setiap bulan. Hasilnya dapat ditabung, dicairkan menjadi uang, bahkan ditukarkan menjadi emas melalui program unggulan "Sampah Tukar Emas".
"Kami menggunakan sistem tabungan. Kalau nilainya sudah cukup, bisa ditukar menjadi MiniGold. Ini yang membuat masyarakat semakin semangat memilah sampah," jelas Purwaningtias.
Saat ini, terdapat sekitar 38 nasabah aktif yang rutin menyetorkan sampah setiap bulan di unit tersebut. Keberadaan bank sampah lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, perubahan pola pikir menjadi dampak terbesar yang dirasakan.
"Warga sekarang lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Mereka mulai memahami bahwa hampir semua sampah memiliki nilai," tambah dia.
Perubahan itu juga dirasakan Haeriyah (50), salah satu nasabah bank sampah sekaligus Ketua RT di lingkungannya.
Sebelum bergabung pada tahun 2023, dia mengaku tidak pernah memisahkan sampah rumah tangga. Semua dibuang begitu saja. Namun, kini kebiasaan itu berubah total.
"Saya baru sadar ternyata sampah yang biasa dibuang memiliki nilai rupiah," katanya sambil tersenyum.
Botol minuman bekas dari pengajian, gelas plastik, hingga kardus bekas kini selalu dia kumpulkan untuk ditimbang di bank sampah. Hasilnya memang tidak membuat seseorang menjadi kaya mendadak. Namun cukup membantu kebutuhan sehari-hari.
"Alhamdulillah, bisa untuk tambahan belanja dapur atau jajan cucu," ujarnya.
Dia mengungkapkan program sampah tukar emas di Unit Bank Sampah Berkah Bhayangkara menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
"Saya sangat tertarik ketika tahu sampah bisa ditukar emas. Itu membuat warga semakin semangat mengumpulkan sampah," katanya.
Bagi Haeriyah, manfaat terbesar bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat proses edukasi panjang yang terus dilakukan oleh tim Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara.
Muhammad Ilhamsyah, Tim Bidang Edukator, menjelaskan bahwa tujuan utama bank sampah sebenarnya bukan sekadar membersihkan lingkungan.
"Tujuan utamanya adalah mengubah perilaku masyarakat agar sadar terhadap lingkungan. Nilai ekonominya adalah bonus," ujarnya.
Menurutnya, perubahan karakter paling nyata terlihat di kalangan pelajar. Melalui program sosialisasi di sekolah-sekolah, anak-anak diajarkan mengenali jenis sampah dan cara memilahnya dengan hasilnya sangat menggembirakan.
Banyak orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah di rumah. Bahkan ada siswa yang ketika melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya berharap sekolah barunya juga memiliki program bank sampah.
"Itulah pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Anak-anak yang sadar lingkungan akan menularkan kebiasaan baik kepada keluarganya," jelas Ilham.
Kini Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara telah bermitra dengan sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi.
Bagi Ilhamsyah, sosok Aiptu Eko menjadi teladan yang menginspirasi banyak orang terutama berkaitan dengan lingkungan.
"Orang mungkin membayangkan polisi hanya identik dengan disiplin dan penegakan hukum. Tetapi Pak Eko menunjukkan bahwa polisi juga bisa menjadi penggerak lingkungan serta pemberdayaan masyarakat," katanya.
Delapan puluh tahun perjalanan Bhayangkara bukan hanya tentang menjaga keamanan maupun ketertiban masyarakat. Lebih dari itu, Bhayangkara hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang mampu menjawab berbagai persoalan sosial di tengah kehidupan warga.
Apa yang dilakukan Aiptu Eko Yulianto menjadi potret nyata pengabdian tersebut. Melalui Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, dia tidak hanya membantu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang sebelumnya menganggur.
"Momentum Hari Bhayangkara seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap anggota Polri harus mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Minimal tidak melakukan pelanggaran, dan lebih baik lagi jika mampu memberdayakan masyarakat," ungkapnya.
Harapan itu kini tumbuh bersama ribuan kilogram sampah yang berhasil diselamatkan setiap bulan. Dari tangan-tangan warga yang mulai sadar memilah sampah.
Dari anak-anak sekolah yang belajar mencintai lingkungan hingga dari sebuah gerakan kecil yang lahir dari kepedulian seorang polisi.
Di Tanah Jawara, pengabdian Bhayangkara tidak hanya terlihat saat menjaga keamanan. Dia juga hadir dalam upaya menjaga bumi, memberdayakan masyarakat hingga menanamkan harapan.
Dari Kramatwatu untuk Indonesia, kisah Aiptu Eko Yulianto membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas tugas. Sebab bagi Bhayangkara, melayani masyarakat berarti menghadirkan manfaat di mana pun dibutuhkan.
Selama 80 tahun Bhayangkara mengabdi, semangat itu tetap hidup menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang membawa perubahan nyata bagi negeri.(mcr34/jpnn)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Abdul Malik Fajar




