Pengemudi Ojol Itu, Pahlawan di Balik Aspirasi dan Kegelisahan Kita

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

KITA menyaksikan bagaimana mahasiswa menggelar demonstrasi di Jalan Sudirman, Jakarta.

Mereka tertahan ketika aparat gabungan kepolisian dan TNI memblokade pergerakan massa di kawasan Tosari saat hendak menuju Bundaran HI.

Aparat membentuk barikade berlapis, sementara mahasiswa yang datang secara berkelompok berusaha bertahan dan mendesak maju untuk melanjutkan aksi mereka. 

Di tengah situasi itu, sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan puluhan pengemudi ojek online (Ojol) mengendarai sepeda motor menuju lokasi blokade aparat di Jalan MH Thamrin.

Mereka membunyikan klakson secara serempak sembari menyuarakan dukungan kepada mahasiswa yang hendak melanjutkan aksi ke Bundaran HI. (Kompas.com, 12/6/2026)

Namun, ada satu momen yang paling membekas dalam ingatan saya.

Momen itu bahkan membuat air mata saya bercucuran. Seorang bapak berjaket hijau dengan rambut yang mulai memutih berdiri di hadapan barisan aparat TNI-Polri.

Di balik jaket lusuh yang menahan panas siang hari, ia menyampaikan kegelisahan yang selama ini mungkin hanya dipendam dalam hati.

Dengan suara yang bergetar, ia menggambarkan betapa berat hidup yang sedang dijalaninya.

Di antara kalimat yang masih saya ingat, ia berkata, “Saya sudah hidup susah, bayar kontrakan saja tidak bisa. Pemerintah mana? Anda aparat dibayar sama rakyat.”  

Baca juga: Mentalitas Mohon Izin

Kalimat itu sederhana, bukan bahasa yang mewah, tidak pula dibalut retorika politik yang rumit.

Namun, justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa begitu jujur dan menyentuh.

Pernyatan itu lahir dari pengalaman hidup yang nyata, dari seseorang yang setiap hari berjibaku di jalanan demi mempertahankan hidup keluarganya. 

Dia sendiri adalah seorang driver Ojol yang terdampak kenaikan harga BBM. Dia pula yang setiap hari menembus kemacetan, panas terik, hujan deras, bahkan risiko kecelakaan di jalan raya.

Semua itu dilakukan bukan untuk menjadi “kaya raya”, melainkan sekadar agar keluarganya dapat makan hari ini dan esok. 

Saat menyaksikan video tersebut, saya tidak hanya melihat seorang pengemudi Ojol yang sedang berorasi.

Saya melihat wajah jutaan rakyat kecil yang selama ini bekerja keras dalam diam. Mereka tidak memiliki panggung.

Mereka tidak memiliki akses terhadap kekuasaan. Namun, merekalah yang sesungguhnya paling merasakan dampak dari setiap kebijakan yang diambil negara.

Solidaritas para pengemudi Ojol sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Kalau kita lihat dari berbagai peristiwa viral, mereka kerap hadir lebih dulu dibanding siapa pun.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Saat terjadi kecelakaan, mereka sering menjadi orang pertama yang berhenti untuk menolong.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cetak 2 Rekor Sejarah Sekaligus, Inilah Fakta di Balik Gol Pertama Piala Dunia 2026 oleh Julian Quinones
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Polda Metro Jaya Bocorkan Alasan Utama Sterilisasi Bundaran HI dari Unjuk Rasa
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
540.771 Metrik Ton Semen dan Klinker Diekspor ke Empat Negara
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Sejarah Piala Dunia 2002: Dongeng Korsel, Skandal Wasit dan Rambut Viral Ronaldo
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Duet Mo Salah dan Brahim Diaz Siap Mengguncang Turki
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.