Kala Lansia Pilih Obat Warung daripada Faskes Saat Sakit, Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai

kompas.com
2 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena lansia memilih untuk mengobati diri sendiri dibandingkan datang ke fasilitas kesehatan ketika sakit dinilai sebagai bentuk kegagalan sistemik.

"Fenomena lansia yang memilih mengobati sendiri ini bukan hanya fenomena sekadar masalah perilaku individu, ini adalah cerminan sebetulnya kegagalan sistemik dalam tata kelola kesehatan lansia di Indonesia," ungkap Pakar Kesehatan Griffith University Australia dan Yarsi Dicky Budiman, ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (11/6/2026).

Dicky melihat fenomena tersebut sebagai tanda bahaya sunyi yang harus diwaspadai, karena banyak lansia yang tidak datang ke fasilitas kesehatan ketika sakit bukan karena tak mau sembuh, melainkan sistem yang ada tidak dirancang ramah untuk mereka.

Jika dilihat dari perspektif epidemiologi, fenomena itu dinilai sebagai situasi yang sangat mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia merupakan lansia.

Angka itu pun diprediksi meningkat hingga 20 persen pada tahun 2045 mendatang.

"Jadi dengan jumlah (lansia) yang sebesar itu, jika praktik swamedikasi tidak dikendalikan, kita menuju krisis kesehatan geriatri yang masif," sambung Dicky.

Pasalnya, lansia tidak bisa disamakan dengan pasien dewasa, karena mereka memiliki fisiologi berbeda, penyakit ganda, juga kerentanan farmakologis yang sangat spesifik.

Baca juga: Lansia Pilih Obati Diri Sendiri daripada ke Faskes: Tersiksa Antre Panjang dan Rujukan Berbelit

Angka cukup tinggi

Pakar Kesehatan itu juga mengatakan, tren lansia mengobati diri sendiri cukup meningkat di Indonesia belakangan ini.

Data BPS di tahun 2023 menunjukkan bahwa persentase masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri di Indonesia itu mencapai 79,74 persen.

Sementara menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat 35,2 persen rumah tangga di Indonesia menyimpan obat untuk swamedikasi atau pengobatan sendiri dengan angka 27,8 persen di antaranya merupakan obat keras dan 86,1 persen adalah antibiotik yang diperoleh tanpa resep dokter.

"Angka ini sudah mengkhawatirkan satu dekade lalu dan tanpa intervensi struktural yang berarti, kita tidak punya alasan untuk percaya tren ini membaik," ungkap Dicky.

Kondisi swamedikasi sendiri mencakup penggunaan obat over the counter (OTC), obat tradisional, dan obat dari apotek yang dibeli secara mandiri untuk mengobati gejala penyakit tanpa resep dokter.

Namun, persoalannya, batas antara obat yang boleh dan tidak boleh dibeli bebas ini sangat kabur di warung dan apotek kecil, karena tidak ada aturan yang jelas dan diawasi ketat.

Baca juga: Kisah Lansia yang Tak Bisa Pensiun, Tetap Kerja meski Pinggang Sakit dan Tangan Gemetar

FREEPIK Ilustrasi lansia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Faktor pendorong

Dicky menilai, ada sejumlah faktor pendorong yang membuat swamedikasi semakin meningkat di Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jangan Lewatkan! 9 Amalan 1 Muharram yang Diyakini Buka Pintu Keberkahan Setahun Penuh
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Awal
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Profil Asahi TREASURE, Musisi Berbakat Asal Jepang yang Jago Menggambar dan Menulis Lagu
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Taiwan Usulkan Hukuman Lebih Berat bagi Penghindar Wajib Militer
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Panggil Purbaya Sampai Bahlil ke Kertanegara, Ada Apa?
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.