Pantau - Fenomena digital nomad dinilai membawa peluang ekonomi sekaligus tantangan bagi daerah wisata di Indonesia sehingga diperlukan penataan kebijakan agar pertumbuhan ekonomi tidak memicu kenaikan biaya hidup masyarakat lokal.
Arus Pekerja Digital Berpotensi Tekan Harga HunianPerkembangan teknologi telah melahirkan kelompok pekerja global yang bekerja secara daring dari berbagai lokasi atau dikenal sebagai digital nomad.
Menurut telaah yang ditulis Dr. M. Lucky Akbar, kehadiran pekerja asing berpendapatan tinggi dapat meningkatkan konsumsi dan menggerakkan sektor jasa, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga hunian, ruang kerja, transportasi, dan layanan lainnya.
Ia mengungkapkan, “Pertanyaan yang kemudian muncul, bukan lagi apakah Indonesia perlu menerima digital nomad, melainkan bagaimana memastikan manfaat ekonomi yang mereka bawa tidak berubah menjadi tekanan biaya hidup bagi masyarakat setempat.”
Dalam kajian tersebut disebutkan Bali menjadi salah satu contoh daerah yang menghadapi tekanan harga seiring meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis pariwisata.
Kebijakan Fiskal Dinilai Penting Jaga KeseimbanganTelaah tersebut menjelaskan bahwa kelompok pendatang dengan daya beli lebih tinggi dapat memengaruhi mekanisme pasar sehingga harga menyesuaikan kemampuan belanja mereka dan berdampak pada masyarakat lokal.
Tekanan paling nyata disebut terjadi pada sektor properti ketika permintaan vila, apartemen, atau hunian jangka panjang meningkat sehingga harga sewa ikut terdorong naik.
Fenomena tersebut dikenal sebagai gentrifikasi, yakni kondisi ketika penduduk asli perlahan tersingkir akibat meningkatnya nilai ekonomi suatu kawasan.
Penulis menegaskan, “Ketika masyarakat lokal tetap memiliki akses terhadap hunian, pekerjaan, dan kesempatan usaha yang layak, pertumbuhan akan berlangsung lebih berkelanjutan dan minim konflik sosial.”




