Serang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mencatat tren pertumbuhan ekonomi yang positif berkat komitmen pembangunan infrastruktur jalan di kawasan perdesaan yang berhasil membuka akses dan memperkuat konektivitas antarwilayah.
Gubernur Banten, Andra Soni, di Serang, Sabtu, menyatakan bahwa pembukaan akses desa melalui program jalan desa sejahtera (Bang Andra) merupakan langkah intervensi strategis pemerintah daerah, mengingat tingginya mobilitas warga kerap tidak dapat sepenuhnya ditangani jika hanya mengandalkan Dana Desa.
"Kebijakan ini juga selaras dengan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto yang fokus membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi," katanya.
Sepanjang tahun 2025, Pemprov Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) telah menuntaskan pembangunan 62 ruas jalan dan satu jembatan sepanjang total 71 kilometer dengan anggaran Rp184 miliar.
Pembangunan tersebut berlanjut pada tahun 2026 dengan alokasi Rp164 miliar untuk menangani 33 ruas jalan desa sepanjang 46,71 kilometer yang tersebar di enam kabupaten dan kota.
Baca juga: Pemprov Banten anggarkan Rp60 miliar untuk bangun jalan desa 12 km
Baca juga: Pemprov Banten siapkan Rp6,9 miliar bangun jalan rusak Desa Karyajaya
Terkait sasaran lokasi, Kepala DPUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, menjelaskan bahwa pengerjaan puluhan ruas jalan tersebut merupakan usulan langsung dari pemerintah desa dan kelurahan yang telah melalui tahap survei kelayakan.
"Kami memastikan jalan tersebut tepat sasaran. Kriteria utamanya adalah jalan itu menunjang aktivitas vital masyarakat, seperti kemudahan akses ke sekolah, pelayanan kesehatan, pasar, hingga akses penunjang sektor pertanian," ujar Arlan.
Ketersediaan infrastruktur perdesaan yang mulus dan memadai tersebut terbukti memberikan efek berganda yang signifikan pada makroekonomi daerah. Berdasarkan catatan statistik, pada triwulan I 2026, laju pertumbuhan ekonomi Banten tercatat tumbuh positif sebesar 5,64 persen secara tahunan (year-on-year).
Lebih lanjut, kelancaran logistik dan distribusi hasil tani berkat akses jalan baru tersebut turut memicu lonjakan produksi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hingga menyentuh angka 17,88 persen.
Dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat desa juga tercermin dari daya beli petani. Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Banten pada akhir 2025 sukses menembus level 111,81 persen, sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) berada di angka 117,43 persen yang menunjukkan peningkatan kemampuan usaha petani.
"Jalan yang terbangun hari ini harus menjadi penghubung bagi tumbuhnya ekonomi, meningkatnya investasi, dan terbuka nya kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat desa. Tentu membangun Banten tidak bisa dilakukan sendiri, diperlukan kolaborasi semua pihak," paparnya.
Baca juga: Wapres Gibran tinjau proyek pengaspalan jalan desa di Sragen
Baca juga: Kotawaringin Timur tingkatkan jalan pertanian dukung ketahanan pangan
Baca juga: Pemprov Lampung jadikan perbaikkan jalan pertanian jadi fokus utama
Gubernur Banten, Andra Soni, di Serang, Sabtu, menyatakan bahwa pembukaan akses desa melalui program jalan desa sejahtera (Bang Andra) merupakan langkah intervensi strategis pemerintah daerah, mengingat tingginya mobilitas warga kerap tidak dapat sepenuhnya ditangani jika hanya mengandalkan Dana Desa.
"Kebijakan ini juga selaras dengan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto yang fokus membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi," katanya.
Sepanjang tahun 2025, Pemprov Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) telah menuntaskan pembangunan 62 ruas jalan dan satu jembatan sepanjang total 71 kilometer dengan anggaran Rp184 miliar.
Pembangunan tersebut berlanjut pada tahun 2026 dengan alokasi Rp164 miliar untuk menangani 33 ruas jalan desa sepanjang 46,71 kilometer yang tersebar di enam kabupaten dan kota.
Baca juga: Pemprov Banten anggarkan Rp60 miliar untuk bangun jalan desa 12 km
Baca juga: Pemprov Banten siapkan Rp6,9 miliar bangun jalan rusak Desa Karyajaya
Terkait sasaran lokasi, Kepala DPUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, menjelaskan bahwa pengerjaan puluhan ruas jalan tersebut merupakan usulan langsung dari pemerintah desa dan kelurahan yang telah melalui tahap survei kelayakan.
"Kami memastikan jalan tersebut tepat sasaran. Kriteria utamanya adalah jalan itu menunjang aktivitas vital masyarakat, seperti kemudahan akses ke sekolah, pelayanan kesehatan, pasar, hingga akses penunjang sektor pertanian," ujar Arlan.
Ketersediaan infrastruktur perdesaan yang mulus dan memadai tersebut terbukti memberikan efek berganda yang signifikan pada makroekonomi daerah. Berdasarkan catatan statistik, pada triwulan I 2026, laju pertumbuhan ekonomi Banten tercatat tumbuh positif sebesar 5,64 persen secara tahunan (year-on-year).
Lebih lanjut, kelancaran logistik dan distribusi hasil tani berkat akses jalan baru tersebut turut memicu lonjakan produksi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hingga menyentuh angka 17,88 persen.
Dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat desa juga tercermin dari daya beli petani. Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Banten pada akhir 2025 sukses menembus level 111,81 persen, sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) berada di angka 117,43 persen yang menunjukkan peningkatan kemampuan usaha petani.
"Jalan yang terbangun hari ini harus menjadi penghubung bagi tumbuhnya ekonomi, meningkatnya investasi, dan terbuka nya kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat desa. Tentu membangun Banten tidak bisa dilakukan sendiri, diperlukan kolaborasi semua pihak," paparnya.
Baca juga: Wapres Gibran tinjau proyek pengaspalan jalan desa di Sragen
Baca juga: Kotawaringin Timur tingkatkan jalan pertanian dukung ketahanan pangan
Baca juga: Pemprov Lampung jadikan perbaikkan jalan pertanian jadi fokus utama





