Wakili Indonesia di Forum Global, Katarina Rambu Bicara Harmoni Dalam Keberagaman

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Polpum) Kemendagri Katarina Rambu Babang menghadiri Seminar on Ethnic Policy and Practice in Belt and Road Countries yang diselenggarakan oleh International Business Officials Training Institute (IBOTI), Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok di Beijing, belum lama ini.

Katarina Rambu Babang yang merupakan perempuan asal Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tampil mewakili para peserta internasional untuk menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pengelolaan keberagaman dalam kehidupan berbangsa.

BACA JUGA: DPP PATRIA PMKRI Bertemu Jusuf Kalla, Gustaf Tegaskan Pentingnya Menjaga Persatuan, Merawat Keberagaman

PAda kesempatan itu, Katarina Rambu memperkenalkan Indonesia sebagai negara besar yang dibangun di atas fondasi kemajemukan.

Di hadapan pejabat dan peserta dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Ekuador, Malaysia, Sudan Selatan, Nigeria, Laos, dan Gambia, Rambu menegaskan keberagaman merupakan kekuatan utama yang menyatukan Indonesia.

BACA JUGA: Kembangkan Wisata Keberagaman, PIK Hadirkan Destinasi Religi Lintas Iman

"Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang terdiri dari 17 ribu pulau, 700 bahasa dan 1.300 suku dengan jumlah penduduk 287 juta jiwa serta luas wilayah 1.800.000 kilometer persegi. Namun, kami disatukan oleh satu prinsip dasar yakni Pancasila sebagai nilai dasar yang menyatukan kami dalam berbangsa dan bernegara,” ujar Rambu saat membuka pidatonya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Indonesia mampu menjaga persatuan di tengah keragaman etnis, bahasa, agama, dan budaya yang membentang dari Sabang hingga Merauke.

BACA JUGA: Harmoni di Riverwalk Island PIK, Satu Semangat Kebajikan dari Doa yang Berbeda

Menurutnya, keberagaman bukanlah tantangan yang memecah belah, melainkan modal sosial yang telah memperkuat Indonesia selama puluhan tahun.

Dalam kesempatan itu, Rambu juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya seminar yang mempertemukan peserta dari berbagai negara dalam satu forum dialog dan pembelajaran bersama.

"Puji syukur kepada Tuhan sehingga kita dapat hadir dan berkumpul pada kegiatan hari ini, Seminar on Ethnic Policy and Practice in Belt and Road Countries,” kata Rambu.

Kesempatan Berharga untuk Belajar

Menurutnya, forum tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mempelajari berbagai pendekatan yang diterapkan Tiongkok dalam membangun persatuan nasional di tengah masyarakat yang terdiri dari beragam kelompok etnis.

Negara-negara peserta yang tergabung dalam jejaring Belt and Road Initiative (BRI) memiliki kepentingan untuk saling berbagi pengalaman pembangunan yang dapat menjadi referensi bagi kebijakan di negara masing-masing.

Berbagai materi yang disampaikan mencakup teori pemerintahan etnis Tiongkok, praktik kelembagaan, hingga strategi membangun rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Pertukaran Pengalaman Jadi Kekuatan Utama

Rambu menilai kekuatan utama program terletak pada kombinasi antara kuliah akademik, kunjungan lapangan, dan pertukaran pengalaman antarnegara.

Program ini secara sistematis menyajikan filosofi pemerintahan Tiongkok, jalur modernisasi, teori kerja etnis, pembangunan hukum untuk kesatuan etnis, pemerintahan etnis di tingkat komunitas, pembinaan talenta, serta pengembangan terpadu antara revitalisasi pedesaan dan pelestarian budaya etnis,” ujarnya.

Bagi Indonesia yang memiliki ratusan kelompok etnis, konsep pemerintahan etnis di tingkat komunitas menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dipelajari lebih mendalam.

"Pemerintahan etnis di komunitas tentu menarik bagi kami untuk mengetahui lebih lanjut mengingat Indonesia adalah negara dengan multietnis atau banyak suku,” kata Rambu.

Selain membahas kebijakan etnis, program pelatihan juga memperkenalkan peserta pada berbagai aspek budaya tradisional Tiongkok.

Peserta memperoleh pemahaman mengenai sejumlah inisiatif global yang digagas pemerintah Tiongkok, termasuk Global Development Initiative serta konsep pembangunan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.

Seluruh materi diperkuat melalui kunjungan langsung ke sejumlah lokasi di Beijing dan Wuhan.

Membangun Jembatan Antarbangsa

Sebagai perempuan Sumba—pulau yang sejak lama dikenal sebagai Pulau Sandelwood karena kekayaan kayu cendananya—Rambu memandang forum internasional tersebut sebagai ruang strategis untuk memperluas wawasan sekaligus membangun pemahaman lintas budaya.

“Semoga kegiatan ini akan menambah pengetahuan dan informasi bagi kami peserta, mengenal nilai-nilai yang dijalankan masyarakat Tiongkok dalam menjalankan kebijakan pemerintah,” tuturnya.

Lebih jauh, Rambu berharap seminar tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi para peserta secara individu, tetapi juga memperkuat hubungan antarnegara yang tergabung dalam jejaring Jalur Sutra Baru.

Menurutnya, kolaborasi yang semakin erat di masa depan akan memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi, sosial, budaya, maupun politik, sekaligus memperkuat semangat saling belajar di tengah dunia yang semakin terhubung.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 ke Level Terendah Sejak Pandemi
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Sama Pilih Honda BeAT Deluxe atau BeAT Street?
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil Pertandingan Timnas Indonesia U-19 Vs Kamboja U-19: Pemain Pengganti Jadi Penyelemat
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pertamax Naik, Seskab Teddy: BBM Non-subsidi Harus Ikuti Harga Minyak Dunia
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
BTN JAKIM 2026 Digelar Besok, KAI Lakukan Penyesuaian 8 KA Gambir
• 1 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.