Ramayana di Prambanan: Pertunjukan Budaya atau Budaya yang Dipertunjukkan?

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bayangkan kamu duduk di tribun terbuka. Di depanmu, Candi Prambanan berdiri megah diterangi cahaya keemasan. Di panggung, ratusan penari bergerak dalam diam — tanpa satu kata pun terucap, tapi cerita mengalir lewat setiap lekukan tangan, setiap hentakan kaki. Rama. Sinta. Rahwana. Hanuman.

Indah? Sangat. Tapi di kursi sebelahmu, seorang turis mancanegara sibuk mengatur angle foto untuk Instagram. Di baris depan, rombongan wisatawan berbisik-bisik menanyakan "ini ceritanya tentang apa sih?" kepada pemandu wisata. Dan di backstage, para penari yang baru saja membawakan gerakan sakral warisan leluhur, antre untuk foto bersama tamu VIP.

Pertanyaannya: pada titik itu, kita sedang menyaksikan budaya — atau sedang mengonsumsinya?

Lahir dari Mimpi, Tumbuh Jadi Industri

Sendratari Ramayana Prambanan pertama kali dipentaskan pada 1961. Idenya muncul setelah GPH Djatikoesoemo menyaksikan pertunjukan Royal Ballet Kamboja di depan Angkor Wat — dan terinspirasi untuk melakukan hal serupa di Indonesia: menghidupkan epos besar di depan candi bersejarah.

Sejak awal, tujuannya memang ganda — melestarikan seni tari klasik Jawa sekaligus menarik wisatawan. Tidak ada yang salah dengan niat itu. Dan untuk waktu yang lama, dua tujuan itu berjalan beriringan dengan cukup baik.

Tapi sesuatu mulai bergeser seiring waktu.

Awalnya, pertunjukan ini hanya digelar setiap musim kemarau — April hingga Oktober — mengikuti ritme alam dan kalender budaya. Kini ia berlangsung sepanjang tahun, hampir setiap malam, untuk memenuhi permintaan pasar wisata yang tidak mengenal musim. Durasi pementasan pun dipangkas: dari enam episode bersambung di awal pementasannya, kini menjadi satu episode utuh yang bisa dinikmati dalam satu malam — cukup singkat untuk masuk dalam itinerary wisata dua hari satu malam di Yogyakarta.

Efisien? Ya. Tapi ada yang hilang dalam proses itu.

Ketika Budaya Mengikuti Selera Pasar

Ada konsep dalam kajian antropologi yang disebut komodifikasi budaya — ketika sesuatu yang tadinya punya nilai sakral, spiritual, atau komunal diubah menjadi produk yang bisa dibeli, dikemas, dan dijual. Ini bukan tuduhan, melainkan sebuah proses yang hampir tidak terhindarkan ketika budaya bertemu industri pariwisata.

Dalam kasus Ramayana Prambanan, tanda-tandanya bisa dibaca dari hal-hal kecil: tiket VIP seharga Rp450.000 yang memberimu kursi terdepan sekaligus suvenir eksklusif. Paket wisata "Dinner + Ramayana Show" yang menjadikan pertunjukan sebagai pelengkap makan malam. Atau fakta bahwa jadwal pertunjukan kini ditentukan bukan oleh kalender adat, tapi oleh kalender booking wisatawan.

Ini bukan berarti pertunjukannya jadi jelek — secara visual dan artistik, Sendratari Ramayana Prambanan tetap salah satu yang paling memukau di Indonesia. Tapi ada perbedaan mendasar antara pertunjukan yang lahir dari kebutuhan komunitas untuk merayakan warisannya, dan pertunjukan yang dikemas untuk konsumsi orang luar yang ingin pulang dengan foto bagus dan cerita untuk diunggah.

Siapa yang Sebenarnya Jadi Tuan Rumah?

Ini yang jarang dibicarakan: dalam geliat pariwisata budaya, siapa yang paling diuntungkan?

Kajian pendidikan multikultural — yang sebetulnya relevan juga untuk pariwisata — mengingatkan kita tentang bahaya perspektif yang terlalu mainstream-centric: ketika budaya suatu komunitas dinilai, dikemas, dan dipresentasikan bukan oleh komunitas itu sendiri, tapi oleh kepentingan dari luar. Hasilnya, yang tampil di permukaan adalah versi yang "aman," "mudah dicerna," dan "instagrammable" — bukan versi yang utuh dan kompleks.

Para penari Ramayana, yang bisa menghabiskan bertahun-tahun berlatih untuk menguasai gerakan sakral wayang orang gaya Yogyakarta, tampil di hadapan penonton yang mungkin tidak tahu bahwa setiap gerakan tangan punya nama dan makna tersendiri. Penonton yang mungkin tidak tahu bahwa kisah Ramayana bukan sekadar dongeng percintaan, tapi adalah teks filsafat yang berbicara tentang dharma, kesetiaan, dan keadilan kosmis.

Bukan salah penonton. Tapi ada sesuatu yang hilang ketika makna itu tidak pernah sampai — karena tidak ada yang menganggap itu perlu disampaikan.

Tapi Tunggu Dulu — Pariwisata Juga yang Menghidupinya

Ini bagian yang perlu jujur diakui: tanpa pariwisata, ada kemungkinan besar Sendratari Ramayana Prambanan tidak akan bertahan seperti sekarang.

Industri ini melibatkan ratusan penari, musisi gamelan, pembuat kostum, dan pekerja seni dari sanggar-sanggar di sekitar Prambanan. Pariwisata memberi mereka penghidupan, dan dengan demikian memberi seni itu alasan untuk terus ada. Banyak tradisi budaya yang mati bukan karena dieksploitasi, tapi karena tidak ada yang peduli dan tidak ada yang menontonnya.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan "pariwisata atau pelestarian?" — karena keduanya tidak harus bertentangan. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana pariwisata bisa hadir tanpa menghapus kedalaman dari budaya yang ia tampilkan?

Menonton dengan Cara yang Berbeda

Ada hal sederhana yang sebetulnya bisa mengubah banyak hal: konteks.

Bayangkan kalau sebelum pertunjukan, ada sesi singkat — bukan ceramah panjang, tapi mungkin animasi lima menit, atau leaflet yang dicetak indah — yang menjelaskan bukan cuma "ini cerita tentang Rama dan Sinta," tapi juga: mengapa cerita ini penting bagi masyarakat Jawa, apa yang dimaksud oleh setiap gerakan tari, dan siapa para penari itu sebenarnya — manusia dengan dedikasi dan cerita, bukan sekadar bagian dari dekorasi malam.

Wisatawan yang datang dengan pemahaman itu akan menonton dengan cara yang berbeda. Bukan hanya mengonsumsi, tapi sungguh-sungguh menyaksikan. Dan perbedaan itu, meskipun terlihat kecil, adalah perbedaan antara pariwisata yang menguras budaya dan pariwisata yang merayakannya.

Ramayana di Prambanan tetap salah satu pertunjukan paling luar biasa yang bisa kamu saksikan di Indonesia. Pergi dan tontonlah — itu sungguh pengalaman yang tidak akan kamu sesali.

Tapi sambil duduk di tribun itu, sesekali letakkan kameramu. Perhatikan penarinya. Tanya ke dirimu sendiri: apa yang sedang terjadi di depanku ini? Dari mana asalnya, dan apa yang ia coba katakan?

Karena budaya bukan cuma untuk dilihat. Ia untuk dipahami.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Para Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Duduk di Singgasana
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Prediksi Australia vs Turki: Ay-Yildizlilar Kembali ke Piala Dunia, Socceroos Siap Menjegal
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Usai Gebuk Oman dan Mozambik, Timnas Indonesia Diharapkan Berani Tantang Tim Top asal Afrika
• 11 jam lalubola.com
thumb
Kenaikan IHSG Diwarnai Net Sell Rp6 Triliun, Ini Deretan Saham yang Dilepas Investor Asing
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Ancol Gratis untuk Warga Jakarta, Ini Syarat dan Jadwalnya
• 11 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.