Pantau - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa berharap jumlah kunjungan selama Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 dapat melampaui 1,6 juta orang dalam penyelenggaraan yang berlangsung pada 13 Juni hingga 11 Juli 2026, dengan target mencakup wisatawan lokal, domestik, dan internasional.
Wamenpar Optimistis Target Kunjungan TerlampauiPernyataan tersebut disampaikan Ni Luh Puspa di Denpasar pada Sabtu, 13 Juni 2026, setelah menghadiri pawai pembukaan PKB 2026.
Ia mengungkapkan, "Mudah-mudahan ada peningkatan, kalau target targetnya 1,6 juta wisatawan bisa lebih dari itu."
Ni Luh Puspa menyatakan optimistis tingginya antusiasme masyarakat terhadap pawai pembukaan akan membuat rangkaian PKB ramai dikunjungi sepanjang pelaksanaan festival.
Menurut Kementerian Pariwisata, atraksi seni menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya Bali.
Wamenpar juga menilai jadwal penyelenggaraan PKB yang bertepatan dengan libur sekolah dan musim liburan musim panas berpotensi mendorong peningkatan jumlah kunjungan.
Dukungan Pemerintah dan Capaian PKB SebelumnyaNi Luh Puspa mengapresiasi konsistensi Pemerintah Provinsi Bali yang telah menyelenggarakan PKB selama 48 tahun sebagai ajang pelestarian budaya dan promosi pariwisata.
Dukungan Kementerian Pariwisata terhadap PKB diwujudkan melalui masuknya agenda tersebut ke dalam Karisma Event Nusantara selama enam tahun berturut-turut sehingga pemerintah pusat turut berperan dalam mempromosikan penyelenggaraannya.
Ia mengungkapkan, "Luar biasa PKB ini, tahun lalu ada 1,6 juta yang menyaksikan PKB dengan perputaran sampai Rp17 miliar."
Data Pemerintah Provinsi Bali mencatat jumlah pengunjung PKB 2025 mencapai 1.639.543 orang di Taman Budaya Art Center dengan rata-rata kunjungan harian sebanyak 56.536 orang.
Pada penyelenggaraan 2025, omzet penjualan stan kuliner tercatat mencapai Rp5,1 miliar, sedangkan omzet stan kerajinan mencapai Rp12 miliar.
PKB 2026 mengusung tema Atma Kerthi: Jiwa Siddha Parishudha yang bermakna penyucian jiwa dan penguatan kesadaran diri sebagai landasan membangun kehidupan yang harmonis.
Pemerintah Provinsi Bali memilih tema tersebut untuk mengajak masyarakat memperkuat nilai-nilai warisan leluhur, termasuk gotong royong, saling menghormati, serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.




