EtIndonesia.com Perkembangan terbaru di Timur Tengah pada Jumat (12/6/2026) menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengeluarkan peringatan keras akan melancarkan serangan besar terhadap Iran. Namun, pada sore hari waktu Pantai Timur AS, ia mengumumkan secara mendadak melalui media sosial bahwa Iran telah menerima kesepakatan yang diajukan Amerika Serikat, sehingga serangan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung malam itu dibatalkan.
Menurut unggahan terbarunya, dalam beberapa hari mendatang Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan menyelesaikan dokumen-dokumen terkait, yang kemudian kemungkinan akan ditandatangani dalam sebuah upacara di Eropa.
Trump Membatalkan Rencana SeranganDalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menulis bahwa hasil perundingan dengan Iran telah diajukan kepada pimpinan tertinggi Iran dan memperoleh persetujuan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membatalkan operasi pengeboman yang sebelumnya direncanakan berlangsung malam itu.
Ia juga menyatakan bahwa konsep keseluruhan, rincian, dan ketentuan akhir perjanjian tersebut telah mendapat persetujuan dari semua pihak terkait, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Pakistan, Bahrain, Kuwait, dan sejumlah negara lainnya.
Meski demikian, Trump memperingatkan bahwa hingga perjanjian benar-benar diselesaikan, blokade maritim akan tetap diberlakukan secara ketat. Waktu dan lokasi penandatanganan akan diumumkan kemudian.
Sebelumnya Mengancam Akan Menguasai Fasilitas Energi IranSebelum membatalkan gelombang serangan ketiga, Trump sempat mengunggah peringatan bahwa Amerika Serikat akan “menghantam Iran dengan keras malam ini” dan dalam waktu dekat akan “mengambil alih sepenuhnya” industri minyak dan gas Iran, termasuk fasilitas penting di Pulau Kharg.
Ia juga mengklaim bahwa: “Angkatan laut, angkatan udara, radar, sistem pertahanan udara, serta hampir seluruh kemampuan pertahanan dan sebagian besar kemampuan ofensif Iran sudah tidak lagi ada.”
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga sempat mengisyaratkan kemungkinan operasi darat.
Ia mengatakan: “Mereka (Iran) sudah selesai. Besok kami bisa saja langsung masuk dan mengerahkan pasukan. Meskipun saya tidak ingin perang darat, jika saya mau, hanya dengan pasukan kecil kami bisa mengambil alih seluruh Iran. Mereka benar-benar sudah habis.”
Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat berencana menerapkan model serupa dengan yang diterapkan di Venezuela untuk memperoleh kendali penuh atas pasar Iran, yang menurutnya dapat menghasilkan situasi saling menguntungkan bagi kedua negara.
Ia menambahkan: “Dibandingkan tiga atau empat minggu lalu, sekarang saya jauh lebih ingin segera mencapai kesepakatan. Setelah mengambil langkah pertama, kita bisa melangkah lebih jauh. Namun saya tidak tahu apakah masyarakat Amerika akan menerima apa yang sebenarnya lebih saya inginkan.”
Kontak Langsung dengan Pejabat IranMenurut laporan Fox News yang dikutip dalam artikel ini, Trump mengungkapkan bahwa pejabat tinggi Iran pernah meneleponnya secara langsung untuk meminta agar Amerika Serikat menghentikan operasi pengeboman.
Kontak tersebut disebut sebagai salah satu komunikasi langsung yang jarang terjadi namun penting antara Trump dan kepemimpinan di Teheran.
Operasi Militer SebelumnyaArtikel tersebut menyebutkan bahwa dalam operasi militer malam sebelumnya, Amerika Serikat mengerahkan 49 rudal jelajah Tomahawk serta pesawat tempur untuk menyerang radar dan sistem pertahanan udara Iran.
Serangan itu diklaim menghantam sejumlah sasaran di sekitar 40 mil dari Teheran dan beberapa lokasi di pesisir Teluk Persia di Iran barat daya.
Sebelumnya, Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan yang menargetkan 18 sasaran militer utama Amerika Serikat dan berdampak pada negara-negara Teluk di sekitarnya. Disebutkan pula bahwa Kuwait sempat menutup wilayah udaranya dan Yordania mencegat 20 rudal Iran yang diarahkan ke sekitar pangkalan militer AS.
Menurut artikel tersebut, tindakan permusuhan Iran dinilai dapat mempercepat perubahan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Militer AS Membantah Penutupan Selat HormuzKomando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran dan tidak berada di bawah blokade Iran.
Pada saat yang sama, militer AS menyatakan telah menempatkan pasukannya dalam posisi siap untuk menghadapi kemungkinan agresi dari Iran.
Artikel ini juga menyebut bahwa militer AS mengambil tindakan terhadap sebuah kapal tanker berbendera Guinea-Bissau, M/T Jalveer, yang mengangkut minyak Iran melalui Teluk Oman. Menurut pernyataan tersebut, kapal itu berulang kali mengabaikan instruksi militer AS sehingga pasukan Amerika menembakkan dua rudal Hellfire yang melumpuhkan ruang mesinnya.
Menteri Keuangan AS: Iran Akan Menghadapi Konsekuensi FinansialMenteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa tindakan bermusuhan Iran pada akhirnya akan gagal.
Ia menegaskan bahwa setiap serangan yang dilakukan Iran hanya akan memperburuk konsekuensi ekonomi dan finansial yang harus ditanggung negara tersebut, termasuk kemungkinan dikenakannya sanksi keuangan yang lebih berat.
Laporan disusun oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Wang Ziyi.





