Jakarta, CNBC Indonesia- Harga perak dunia belum mampu keluar dari tekanan. Berdasarkan data Refinitiv, harga perak di pasar spot berada di US$67,55 per troy ons pada perdagangan Kamis (12/6/2026), nyaris tidak berubah dibandingkan sehari sebelumnya. Posisi tersebut masih jauh di bawah level awal bulan yang sempat berada di atas US$74 per troy ons.
Dalam sepekan, harga perak turun 8,6% dari US$73,87 per troy ons pada 4 Juni menjadi US$67,55 per troy ons pada 12 Juni. Koreksi tersebut memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama lima pekan berturut-turut. Dari puncaknya pada Januari lalu, harga perak juga sudah terkoreksi cukup dalam setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$121,64 per troy ons.
Tekanan utama datang dari perubahan pandangan pasar terhadap arah suku bunga global. Konflik Iran yang berlangsung sejak Februari mendorong harga energi tetap tinggi dan menambah tekanan inflasi di berbagai negara. Kondisi itu membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.
Bank Sentral Eropa (ECB) pekan ini menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. ECB juga merevisi naik proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027. Di Amerika Serikat, inflasi di tingkat produsen naik 6,5% secara tahunan pada Mei. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan harga belum mereda.
Perubahan ekspektasi itu membuat pasar semakin berhati-hati menjelang rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni mendatang. Peluang kenaikan suku bunga kembali masuk dalam perhitungan investor setelah beberapa bulan sebelumnya pasar lebih banyak membahas peluang pelonggaran kebijakan. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya mengurangi minat terhadap logam mulia karena instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik.
Sentimen lain datang dari perkembangan geopolitik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan damai dengan Iran berpotensi tercapai dalam waktu dekat. Harapan meredanya konflik membuat sebagian kebutuhan lindung nilai di pasar berkurang. Meski Teheran belum memberikan keputusan final, kabar tersebut cukup untuk meredakan sebagian kekhawatiran investor.
Perak berada dalam posisi yang unik dibanding emas. Logam ini memiliki fungsi sebagai aset lindung nilai sekaligus bahan baku industri. Saat ini pasar lebih banyak berfokus pada isu suku bunga dan inflasi dibanding prospek konsumsi industri. Aliran dana yang masuk ke aset logam mulia pun masih terbatas.
Pergerakan perak dalam beberapa pekan ke depan kemungkinan masih akan sangat dipengaruhi keputusan bank sentral utama dunia. Selama inflasi bertahan tinggi dan ekspektasi suku bunga bergerak naik, ruang pemulihan harga perak diperkirakan masih sempit meski volatilitas pasar tetap tinggi.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Add as a preferredsource on Google




