Fakta-fakta Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia usai SpaceX IPO

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Elon Musk resmi menjadi triliuner pertama di muka bumi usai perusahaannya, Space Exploration Technologies Corp atau SpaceX melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) senilai USD 75 miliar atau setara Rp 1.333 triliun (kurs Rp 17.775 per dolar AS).

Dikutip dari Bloomberg, Minggu (14/6), saham SpaceX dibuka pada harga USD 150 per lembar di Nasdaq pada pukul 11.46 waktu New York, atau 11 persen di atas harga penawaran IPO sebesar USD 135.

Saham tersebut kemudian melonjak hingga mencapai USD 168,75. Kenaikan itu membuat Musk menjadi triliuner pertama di dunia sekaligus mendorong kapitalisasi pasar SpaceX melampaui USD 2 triliun.

Harga saham yang melejit ini menjadikan Musk sebagai triliuner pertama di dunia. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Musk tercatat sekitar USD 970 miliar pada Kamis (11/6).

Perusahaan Terbuka Terbesar di Dunia

IPO di Nasdaq mendorong valuasi perusahaan tersebut menembus USD 2 triliun pada Jumat (12/6), melampaui kapitalisasi pasar Tesla yang berada di kisaran USD 1,5 triliun. Nilai IPO tersebut langsung menjadikan perusahaan yang bergerak di bidang roket dan satelit itu sebagai salah satu perusahaan publik terbesar di dunia.

“Sulit dipercaya bahwa perusahaan kecil yang dimulai di sebuah gudang di El Segundo kini akan melakukan penawaran umum perdana (IPO) terbesar yang pernah ada,” kata Musk dalam siaran langsung di X, dikutip Minggu (14/6).

IPO SpaceX menarik permintaan lebih dari USD 350 miliar dari investor institusional maupun ritel, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut. Sekitar 70 persen saham yang dialokasikan kepada investor institusional diberikan kepada investor jangka panjang (long-only investors) dan dana kekayaan negara (sovereign wealth funds).

BlackRock Inc. disebut berupaya membeli saham senilai sekitar USD 5 miliar dalam IPO tersebut, sementara Dana Investasi Publik Arab Saudi dan Otoritas Investasi Kuwait memesan saham senilai antara USD 1 miliar hingga USD 5 miliar.

“Saat ini hanya ada sekitar 15 perusahaan di dunia yang memiliki valuasi mencapai USD 1 triliun,” kata penasihat investasi Guardian Wealth Advisors, Rand Millwood.

Investor Tetap Skeptis

Terlepas dari tingginya antusiasme terhadap pencatatan saham SpaceX, banyak investor tetap skeptis bahwa perusahaan yang belum membukukan keuntungan layak memperoleh valuasi sebesar itu.

Dari segi fundamental, investor terlalu terburu-buru,” kata Kepala Riset di Energy Group Capital Group Amanda Lyons.

Dia menambahkan, valuasi berdasarkan metode penjumlahan bagian-bagian bisnis (sum-of-the-parts) menurutnya hanya sekitar USD 600 miliar, atau sekitar sepertiga dari kapitalisasi pasar saat IPO.

Besarnya skala debut SpaceX yang belum pernah terjadi sebelumnya turut membuat mekanisme pasar menjadi lebih kompleks. Kekhawatiran akan potensi gangguan teknis, seperti yang pernah terjadi pada IPO Facebook pada 2012, diperkirakan akan membuat para eksekutif pasar tetap waspada.

Hari pertama perdagangan tidak hanya akan menentukan sentimen untuk sesi-sesi berikutnya, tetapi juga memengaruhi prospek dua calon IPO besar dari pesaing SpaceX di bidang AI, yakni Anthropic PBC dan OpenAI.

“Ini menandai gelombang IPO yang cukup besar. Pasar modal bersedia membiayai perusahaan-perusahaan luar biasa ini seiring kita membangun infrastruktur AI,” kata Presiden Goldman Sachs Group Inc., John Waldron.

Banyak penggemar Musk berharap SpaceX dapat mencatat pertumbuhan yang setara atau bahkan melampaui Tesla mengingat luasnya ambisi bisnis perusahaan tersebut. Namun, SpaceX juga berpotensi menghadapi kekhawatiran valuasi yang selama bertahun-tahun membayangi Tesla.

Sebagai perbandingan, pada hari pertama perdagangan saham Tesla pada 2010, saham perusahaan itu sempat melonjak sekitar 41 persen.

Sejak saat itu, saham Tesla telah melesat sekitar 25.000 persen, jauh melampaui kenaikan 610 persen indeks S&P 500. Namun pada Jumat (12/6), kenaikan saham Tesla hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan pasar secara keseluruhan.

Analis BNP Paribas James Picariello memperkirakan pada April lalu bahwa investor ritel menguasai sekitar 40 persen saham Tesla. Menjelang IPO, investor ritel bahkan telah memasang pesanan pembelian saham SpaceX senilai USD 100 miliar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
NTT Menerima 3.000 Dosis Semen Beku Sapi untuk Perkuat Populasi dan Mutu Genetik Ternak
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Bakal Diterapkan 1 Juli 2026, Ini Hasil Uji Coba BBM Baru RI B50
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lewat Lomba Mancing Hari Bhayangkara ke-80, Forkopimda Depok Pererat Kekompakan
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Asus NUC 15, Mini PC Pakai Arrow Lake dan Bisa AI
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Naas Nasib Gelandang Ghana Thomas Partey di Piala Dunia 2026: Diizinkan AS tapi Ditolak Kanada
• 16 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.