Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen air minum PT Akasha Wira International Tbk. (ADES) berencana memperluas portofolio bisnis dengan masuk ke industri kembang gula melalui peluncuran produk gummy atau permen jeli.
Langkah tersebut dilakukan untuk menangkap peluang pasar gummy nasional yang diperkirakan mencapai Rp15,2 triliun pada 2026.
Perseroan berencana menambahkan kegiatan usaha Industri Kembang Gula (KBLI 10734) ke dalam anggaran dasar sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis. Penambahan KBLI tersebut diperlukan untuk mendukung proses registrasi dan perizinan produk gummy yang akan diproduksi dan dipasarkan perusahaan.
Manajemen ADES menjelaskan produk baru yang akan dikembangkan mengusung konsep indulgent gummy, yakni permen jeli yang menitikberatkan pada pengalaman rasa dan tekstur yang menarik bagi konsumen.
"Penambahan kegiatan usaha berupa Industri Kembang Gula dilakukan sehubungan dengan rencana Perseroan untuk memproduksi dan memasarkan produk permen gummy sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan diversifikasi portofolio produk Perseroan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Minggu (14/6/2026).
Meski saat ini Akasha Wira Interantional telah memiliki KBLI Industri Makanan dari Cokelat dan Kembang Gula (10732) serta Industri Kembang Gula Lainnya (10739), produk gummy memerlukan klasifikasi khusus KBLI 10734 dalam proses registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Baca Juga
- ADES Siap Produksi Permen Jelly, Tantang Dominasi Mayora dan YUPI
- IPO Inaco (JELI) Rp392 Miliar, Siapkan Rencana Ekspansi
- IPO Produsen Inaco (JELI), Harga Awal Rp900-Rp1.120 per Saham
Perseroan menilai pasar gummy menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan paling menjanjikan di industri makanan dan minuman. Nilai pasar gummy Indonesia diperkirakan mencapai US$850 juta hingga US$950 juta atau setara Rp13,6 triliun hingga Rp15,2 triliun pada 2026.
Dari total pasar tersebut, segmen permen jeli konvensional diperkirakan bernilai US$400 juta hingga US$450 juta, sementara segmen functional gummies mencapai sekitar US$422,7 juta.
Pertumbuhan pasar juga dinilai menarik. Segmen permen jeli biasa diperkirakan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 4,5%-5,2% per tahun. Adapun segmen functional gummies menjadi kategori dengan pertumbuhan tercepat dengan CAGR mencapai 8,54%.
Melihat tren tersebut, ADES menargetkan penetrasi produk baru untuk menyerap pertumbuhan pasar yang masih terbuka lebar.
Perseroan menilai tingginya minat masyarakat terhadap produk gummy terlihat dari semakin banyaknya produk impor yang masuk dan diterima pasar domestik. Produk tersebut dinilai memiliki daya tarik luas karena dikonsumsi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Selain itu, kategori gummy memiliki ruang inovasi yang besar, baik dari sisi formulasi, variasi rasa, maupun pengembangan produk rendah gula yang mengikuti tren gaya hidup sehat.
Dalam strategi pemasarannya, ADES membidik konsumen usia 6 hingga 35 tahun yang tinggal di wilayah perkotaan dan memiliki perhatian terhadap rasa, desain kemasan, serta gaya hidup.
Saluran distribusi yang disasar meliputi platform e-commerce, minimarket, jaringan ritel modern, hingga toko kelontong dan kanal perdagangan tradisional.
Untuk memperkuat penetrasi pasar, Perseroan menyiapkan sejumlah strategi pemasaran, antara lain pengembangan kemasan modern, aktivasi digital marketing, kampanye media sosial, kolaborasi dengan influencer dan key opinion leader (KOL), program sampling, serta integrasi penjualan online dan offline.
Strategi tersebut juga diarahkan untuk memastikan distribusi produk merata baik di pasar modern maupun general trade.
Masuknya ADES ke bisnis gummy akan membuat perusahaan bersaing dengan sejumlah pemain yang telah lebih dulu menguasai pasar, seperti PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk, PT Ranjani Jaya Lestari, Amos Food Group, serta PT Mayora Indah Tbk.
Meski demikian, Perseroan menilai prospek industri makanan dan minuman nasional masih sangat menjanjikan seiring meningkatnya konsumsi masyarakat kelas menengah dan semakin terbukanya konsumen Indonesia terhadap produk serta cita rasa baru.





