Grup Triputra (ASSA) Masuk Bisnis Teknologi, Garap Solusi IoT Logistik

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten transportasi dan logistik Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), berencana memperluas lini usaha ke sektor teknologi informasi melalui pengembangan solusi digital untuk industri transportasi dan logistik.

Manajemen ASSA akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 17 Juni 2026 untuk menambah empat kegiatan usaha baru yang berkaitan dengan teknologi informasi dan digitalisasi operasional.

Keempat bidang usaha tersebut meliputi Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya (KBLI 62199), Aktivitas Penerbitan Perangkat Lunak atau software (KBLI 58290), Aktivitas Konsultasi dan Perancangan Internet of Things (IoT) (KBLI 62204), serta Aktivitas Jasa Sistem Komunikasi Data (KBLI 61105).

Corporate Secretary Adi Sarana Armada Jerry Fandy Tunjungan menjelaskan penambahan kegiatan usaha dilakukan untuk mendukung pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution yang tengah disiapkan perseroan.

"Perseroan merencanakan pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution, yaitu suatu solusi berbasis teknologi yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penyelesaian administrasi transportasi dalam satu sistem terpadu," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Minggu (14/6/2026).

Menurut manajemen ASSA industri transportasi dan logistik nasional tengah mengalami transformasi seiring pertumbuhan e-commerce, meningkatnya kompleksitas rantai pasok, serta tuntutan efisiensi biaya dan transparansi operasional.

Baca Juga

  • Harga BBM Naik, Adi Sarana (ASSA) Eksekusi Penyesuaian Tarif hingga Utilisasi Armada
  • Adi Sarana Armada (ASSA) Raup Laba Bersih Rp98,47 Miliar Kuartal I/2026
  • Jurus Adi Sarana (ASSA) Optimalkan Momentum Cuan Ramadan

Perseroan menilai tantangan industri saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan ketersediaan armada dan infrastruktur fisik, melainkan kemampuan mengelola informasi operasional secara terintegrasi dan berbasis data.

Dalam praktiknya, proses perencanaan rute, pemantauan pengiriman, pengendalian tingkat layanan (service level agreement atau SLA), rekonsiliasi biaya transportasi hingga pelaporan kinerja masih banyak dilakukan secara terpisah dan dengan tingkat otomatisasi yang terbatas.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan inefisiensi operasional serta menghambat pengambilan keputusan bisnis.

Melalui TMS, ASSA ingin menghadirkan sistem yang mengintegrasikan seluruh proses logistik mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penyelesaian administrasi dalam satu platform.

Selain menjual perangkat lunak, ASSA juga akan menyediakan layanan business process outsourcing (BPO) yang mencakup pengelolaan pesanan, penugasan pengiriman (dispatching), pemantauan distribusi, proses penagihan hingga penyelesaian administrasi pelanggan.

Perseroan juga mengembangkan layanan control tower sebagai pusat kendali operasional yang berfungsi memantau pengiriman secara real-time, mengendalikan SLA, serta menangani potensi gangguan operasional secara proaktif.

Untuk memperkuat visibilitas operasional, ASSA akan mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) ke dalam platform TMS.

Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh data lapangan secara langsung, mulai dari lokasi kendaraan berbasis GPS, suhu dan kelembapan untuk distribusi rantai dingin (cold chain), perilaku pengemudi hingga data telematika kendaraan.

Seluruh data tersebut akan terhubung dengan sistem TMS untuk mendukung pelacakan pengiriman, perhitungan estimasi waktu tiba (estimated time of arrival/ETA), pengendalian kepatuhan layanan, hingga analisis kinerja berbasis data.

Perseroan menjelaskan TMS awalnya akan digunakan sebagai sistem inti (core system) untuk mendukung operasional internal ASSA dan melayani kebutuhan pelanggan eksisting. Namun, platform tersebut juga dirancang untuk dipasarkan kepada perusahaan eksternal dari berbagai sektor industri.

Melalui ekspansi ke bisnis teknologi, ASSA berharap dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperluas portofolio layanan bernilai tambah, serta menciptakan sumber pendapatan berulang (recurring income) dengan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Berdasarkan studi kelayakan yang disusun Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) RSR, pengembangan bisnis TMS dinilai layak untuk dijalankan.

Proyek tersebut diperkirakan menghasilkan net present value (NPV) sebesar Rp12,62 miliar, internal rate of return (IRR) mencapai 41,93%, serta periode pengembalian investasi (payback period) sekitar 4 tahun 8 bulan.

Manajemen menilai penambahan kegiatan usaha tersebut telah diperhitungkan dalam rencana bisnis perseroan dan berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan pada masa mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pernah Dibuat Repot Suporter Timnas Indonesia di SUGBK, Penyerang Australia Kini Bikin Heboh di Piala Dunia 2026
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Menuju Akhir Konflik? Iran Sebut Nota Kesepahaman dengan AS Segera Tercapai
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
7 Cara Sederhana Agar Kamu Bisa Terlihat Awet Muda
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Timnas Indonesia U-19 Raih Peringkat Ketiga ASEAN Boys Championships 2026, Nova Arianto Fokus Benahi Kekompakan Tim
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Bangkit dari Keterpurukan, Alwi Farhan Persembahkan Gelar Australian Open 2026 untuk Indonesia
• 5 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.