Selama beberapa bulan terakhir, warga Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, kerap merasakan getaran gempa mikro yang terjadi berulang kali. Meski kekuatannya relatif kecil, gempa yang sering terjadi pada malam hingga dini hari sempat memicu kepanikan warga. Lantas, apa pemicu gempa tersebut?
Camat Ulubelu Mansyurin mengatakan, masyarakat di wilayahnya memang cukup sering merasakan getaran gempa mikro. Getaran berlangsung sekitar empat hingga lima detik dan dirasakan di sejumlah desa, antara lain Desa Ngarip dan Desa Pagelaran.
Meski guncangannya relatif kecil, gempa yang terjadi pada malam dan dini hari sempat menimbulkan kekhawatiran warga. "Gempa pernah terjadi tengah malam saat masyarakat sedang beristirahat. Mereka langsung keluar rumah karena panik," kata Mansyurin saat dihubungi Kompas, Sabtu (13/6/2026).
Dalam sepekan terakhir, intensitas gempa mikro di Ulubelu relatif menurun. Warga terakhir kali merasakan getaran pada awal Juni 2026.
Namun, masyarakat masih khawatir karena Ulubelu juga merupakan kawasan pengembangan energi panas bumi. "Masyarakat sempat bertanya apakah gempa itu berkaitan dengan aktivitas pengembangan panas bumi. Dugaan itu tentu perlu dibuktikan secara ilmiah," ujar Mansyurin.
Berdasarkan data gempa bumi terkini di laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung, setidaknya terjadi tiga kali gempa di sekitar Ulubelu pada Sabtu pagi. Pusat gempa berada di darat dengan kedalaman empat hingga lima kilometer. Gempa berkekuatan 1,5-1,8 magnitudo tersebut tidak dirasakan masyarakat.
Kepala Stasiun Geofisika Lampung Utara Litman membenarkan adanya rentetan gempa di wilayah Ulubelu. Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa berulang tersebut dipicu aktivitas sesar aktif di wilayah setempat. "Kekuatannya kecil dan kedalamannya dangkal," ujar Litman.
Data Stasiun Geofisika Lampung Utara menunjukkan, selama periode April-Juni 2026 terjadi sedikitnya 178 kejadian gempa di wilayah Ulubelu dan sekitarnya. Kekuatan gempa berkisar antara 0,9 hingga 3,1 magnitudo.
Salah satu gempa yang dirasakan masyarakat terjadi pada 27 April 2026 pukul 21.53 WIB dengan kekuatan 2,3 magnitudo. Episenter gempa berada pada koordinat 5,34 LS dan 104,60 BT atau sekitar 18 kilometer barat laut Tanggamus pada kedalaman tujuh kilometer.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5.34 LS dan 104.60 BT, tepatnya berlokasi di darat pada jarak 18 kilometer (km) Barat Laut Tanggamus, Lampung pada kedalaman 7 km. Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif wilayah setempat.
Guncangan gempa dirasakan dengan skala Intensitas II MMI. Getaran dirasakan oleh beberapa orang. Selai itu, benda-benda ringan yang digantung juga bergoyang. Meski begitu, tidak ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempabumi tersebut.
Sampai saat ini, rentetan gempa yang dirasakan oleh masyarakat di Ulubelu, Tanggamus, masih dikaji oleh para ahli. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk yang mengembangkan panas bumi di kawasan tersebut juga memberikan dukungan dengan menggandeng akademisi dari Universitas Lampung (UNILA) untuk melakukan kajian ilmiah terkait aktivitas gempa mikro yang belakangan semakin sering dirasakan oleh masyarakat di wilayah Ulubelu dan sekitarnya.
General Manager PT PGE Tbk Area Ulubelu Edy Sudarmadi mengatakan, dukungan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.
“PGE berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan kajian ilmiah yang objektif, independen, dan transparan. Melalui penelitian ini, kami berharap masyarakat dapat memperoleh informasi yang jelas, terukur, dan berbasis data mengenai aktivitas kegempaan yang terjadi sehingga dapat mendukung upaya mitigasi risiko bencana di masa mendatang,” kata Edy melalui keterangan resmi.
Menurut dia, kajian penting untuk meningkatkan aspek keselamatan operasional dan memastikan pengelolaan sumber daya panas bumi dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan pemahaman ilmiah yang kuat. Kajian ini diharapkan dapat menghasilkan data yang komprehensif mengenai karakteristik serta sumber aktivitas kegempaan yang terjadi di wilayah tersebut.
Selain itu, hasil kajian itu dapat menjadi rekomendasi ilmiah yang bermanfaat bagi seluruh pihak dalam mendukung keselamatan dan keamanan masyarakat setempat. PGE Area Ulubelu meyakini bahwa kolaborasi antara dunia industri, akademisi, pemerintah, dan masyarakat merupakan langkah penting dalam meningkatkan pemahaman terhadap fenomena alam sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana geologi.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Lampung Ahmad Zaenudin mengatakan, fenomena kegempaan di Ulubelu perlu diteliti secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek geologi regional yang mempengaruhi dinamika bawah permukaan.
“Untuk memahami secara komprehensif fenomena gempa yang terjadi di wilayah Ulubelu diperlukan penelitian mendalam dengan menggunakan metode ilmiah yang mampu mendeteksi aktivitas pergerakan struktur bawah permukaan bumi. Kajian ini penting untuk memperoleh data dan informasi yang akurat mengenai sumber serta karakteristik aktivitas gempa yang terjadi," ujar Ahmad.
Menurut dia, penelitian tersebut perlu mempertimbangkan sejarah geologi kawasan, termasuk pengaruh jangka panjang dari Gempa Liwa tahun 1994. Kejadian itu menjadi salah satu referensi penting dalam studi kegempaan di wilayah Lampung bagian barat.
Mengutip Buletin Geofisika edisi April 2026 yang diterbitkan oleh Stasiun Geofisika Lampung Utara dijelaskan bahwa secara geografis, Lampung memang dilalui jalur bukit barisan dan diapit oleh dua lempeng besar, yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Lampung berada pada zona patahan semangko (Sumatra Transform Fault Zone) yang membentang sepanjang 1.900 km, dari Aceh hingga Teluk Semangka Lampung.
Setiap tahun, lempeng tektonik Indo-Australia bergerak dari selatan dengan kecepatan antara 6 sampai 14 sentimeter. Pergerakan inilah yang sering menimbulkan gempa, baik di darat maupun di laut. Gempa yang berpusat di laut juga berpotensi menimbulkan terjadinya tsunami. Kejadian gempa yang mengakibatkan tsunami, antara lain terjadi di Aceh pada tahun 2004, Nias (2005), dan Mentawai (2010).
Adapun menurut Sieh dan Natawidjaja (2000) Sistem Sesar Sumatera sepanjang 1.900 km dan terbagi menjadi 19 segmen utama. Bagian dari sistem Sesar Sumatera yang berada di wilayah Lampung, yaitu Segmen Sunda, Segmen Semangko, dan Segmen Kumering. Segmen Sunda yang mendekati wilayah Lampung adalah Sesar Ujung Kulon A yang mengalami pergrakan sekitar 10 milimeter per tahun dan berpotensi menimbulkan gempa besar mencapai M 7.3.
Sementara itu, Sesar Semangko terbagi menjadi Semangko Graben, dengan pergerakan 3 milimeter dan berpotensi menimbulkan gempa M 6.5, Semangko Timur-A (pergerakan 5 mm per tahun dengan potensi gempa M 6.5), Semangko Timur-B (pergerakan 3 mm per tahun dengan potensi gempa M 6.9), Semangko Barat-A (pergerakan 8 mm per tahun dengan potensi gempa M 7.4), dan Semangko Barat-B (pergerakan 8 mm per tahun dengan potensi gempa M 7.3).
Adapun Sesar Kumering terbagi menjadi Kumering Utara (pergerakan 12,5 mm per tahun dengan potensi gempa M 7.5) dan Kumering Selatan (pergerakan 12,5 mm per tahun dengan potensi gempa M 7.1).
Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, setidaknya sudah terjadi 20 gempa besar dan merusak yang terjadi di Sesar Sumatera. Di Lampung, gempa besar merusak disebabkan oleh sesar Sumatera pernah terjadi Kabupaten Lampung Barat yang pada tahun 1933. Gempa berkekuatan 7,5 SR dirasakan guncangannya dari Utara Lembah Suoh sampai ke perbatasan Bengkulu, sepanjang kurang lebih 100 kilometer.
Gempa di Liwa, Lampung Barat, kembali terjadi pada 15 Februari 1994 dengan kekuatan 7,2 SR. Gempa besar yang berpusat di Sesat Semako, Samudera Hindia itu mengakibatkan kerusakan parah di Kabupaten Lampung Barat. Dari catatan Kompas, setidaknya 184 warga meninggal, 1.016 orang luka berat, dan 1.373 orang luka ringan. (Kompas, 18 Februari 1994).





