Pyongyang: Korea Utara menegaskan bahwa isu denuklirisasi telah "berakhir secara tidak dapat diubah" dan mengecam Amerika Serikat serta Korea Selatan yang kembali menegaskan komitmen mereka untuk mewujudkan denuklirisasi Semenanjung Korea.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya melalui kantor berita resmi KCNA pada Minggu, 14 Juni 2026.
Menurut Pyongyang, pembahasan mengenai pelucutan senjata nuklir Korea Utara merupakan gagasan yang tidak realistis.
"Menyebut pelucutan senjata nuklir pihak lain yang bermusuhan adalah pembicaraan yang tidak masuk akal dan khayalan belaka," kata juru bicara tersebut. Reaksi atas Pertemuan AS-Korea Selatan Kritik Korea Utara muncul setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan kembali menegaskan tujuan bersama mereka untuk mencapai denuklirisasi Korea Utara dalam pertemuan Nuclear Consultative Group yang digelar pada Kamis.
Pyongyang menilai pernyataan Washington dan Seoul tidak akan memengaruhi statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir.
"Retorika tidak berarti dari Amerika Serikat dan negara-negara pengikutnya terhadap DPRK, serta kerja sama mereka dalam menciptakan ancaman nuklir, tidak akan pernah memengaruhi posisi DPRK sebagai negara bersenjata nuklir," ujar juru bicara tersebut.
Ia menegaskan bahwa isu denuklirisasi telah menjadi "perkara yang selesai secara permanen dan tidak dapat dibalik." Tolak Sikap AS, Jepang, dan Korea Selatan Korea Utara juga menolak hasil Dialog Daya Tangkal yang Diperluas (Extended Deterrence Dialogue) antara Amerika Serikat dan Jepang yang berlangsung pekan lalu.
Dalam forum tersebut, Washington dan Tokyo kembali menegaskan komitmen mereka untuk mencapai "denuklirisasi penuh" Korea Utara.
Menurut Pyongyang, tidak ada tekanan diplomatik maupun militer yang dapat mengubah status negara tersebut sebagai kekuatan nuklir.
"Seberapa keras pun Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan berargumen, mereka tidak akan pernah mengubah posisi DPRK saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata juru bicara itu.
Pernyataan terbaru Korea Utara menandai kembali kerasnya sikap Pyongyang terhadap upaya internasional yang bertujuan membatasi atau mengakhiri program senjata nuklirnya, yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan di kawasan Asia Timur.
Baca juga: Korea Utara Kecam Penjualan Rudal AS ke Korea Selatan




