KUPANG, KOMPAS — Kenaikan harga gas elpiji dan Pertamax serta kelangkaan minyak tanah kian memperparah krisis bahan bakar rumah tangga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebagian warga bahkan mulai beralih menggunakan kayu bakar yang harganya di pasaran ikut merangkak naik.
Berdasarkan pantauan Kompas di Pasar Kasih, Kota Kupang, Minggu (14/6/2026), sejumlah pedagang mulai menjual kayu bakar. Harganya Rp 10.000 untuk tiga ikat. Setiap ikat terdiri atas tiga batang kayu dengan panjang sekitar 50 sentimeter dan ketebalan sekitar 5 sentimeter.
Harga kayu bakar saat ini meningkat dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, yakni empat ikat seharga Rp 10.000. Kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan setelah harga gas elpiji naik dan minyak tanah semakin sulit diperoleh. Mayoritas warga Kota Kupang masih menggunakan minyak tanah untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
"Biasanya yang membeli kayu bakar itu untuk keperluan pesta dan dalam jumlah banyak. Sekarang banyak warga membeli untuk kebutuhan harian di rumah karena harga minyak tanah naik," kata Andre, pedagang di Pasar Kasih, Kota Kupang.
Di pasar tersebut, minyak tanah dijual secara eceran dengan harga Rp 10.000 per liter atau lebih dari dua kali lipat dari harga eceran tertingginya (HET) yang sebesar Rp 4.000 per liter. Diduga, minyak tanah dibeli dari agen resmi sesuai HET, kemudian dijual kembali secara eceran dengan harga lebih tinggi.
Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan minyak tanah. Mereka harus mengantre berjam-jam di agen hanya untuk memperoleh lima liter. Karena kuota terbatas, banyak warga tidak kebagian sehingga beralih menggunakan kayu bakar.
"Kami pakai kayu bakar untuk memasak air dan makanan. Ini sangat membantu. Kompor minyak tanah hanya dipakai kalau ada kebutuhan mendesak pada malam hari. Rasanya seperti kembali ke zaman dulu," kata Ina (50), warga Kelurahan Bello.
Ina menuturkan, kebutuhan minyak tanah keluarganya mencapai sekitar 50 liter per bulan. Dengan harga eceran Rp 10.000 per liter, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp 500.000 setiap bulan. Beban itu dinilainya semakin berat di tengah kenaikan berbagai kebutuhan pokok.
Untuk sementara, keluarganya masih menggunakan kayu bakar yang diambil dari kebun. Namun, ke depan mereka berencana membeli kayu bakar dalam jumlah besar. Satu ret kayu bakar ukuran mobil pikap dijual sekitar Rp 500.000, tergantung jenis kayunya.
Menurut Ina, harga kayu bakar juga berpotensi terus naik karena proses penebangan dan pengangkutannya bergantung pada bahan bakar minyak. "Suatu saat kayu bakar juga bisa menjadi mahal dan langka," ujarnya.
Serial Artikel
Harga Elpiji 12 Kg di Kota Kupang Tembus Rp 455.000 Per Tabung
Lonjakan harga elpiji 12 kg terjadi dalam dua bulan terakhir. Selain mahal, ketersediaannya juga langka di pasar.
Seperti diberitakan sebelumnya, harga tukar satu tabung gas elpiji 12 kilogram di Kota Kupang kini bervariasi, mulai dari Rp 420.000 hingga Rp 455.000 per tabung. Kenaikan harga terjadi dalam dua bulan terakhir.
Padahal, hingga awal tahun 2026, harga gas elpiji 12 kilogram di tingkat konsumen masih berkisar Rp 250.000-Rp 270.000 per tabung. Artinya, harga gas kini meningkat mendekati dua kali lipat.
Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, elpiji bersubsidi 3 kilogram atau gas "melon" tidak beredar luas di Nusa Tenggara Timur. Karena itu, masyarakat yang menggunakan elpiji harus membeli tabung nonsubsidi dengan harga yang jauh lebih mahal. Sebagian warga yang tidak mampu lagi menanggung biaya tersebut mulai kembali menggunakan kayu bakar.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi, melalui keterangan tertulis, mengatakan harga elpiji 12 kilogram di tingkat agen dan outlet resmi berkisar Rp 310.000 hingga Rp 350.000 per tabung. Masyarakat diimbau membeli gas di agen dan outlet resmi Pertamina.
Untuk minyak tanah, Ahad menyatakan pasokan saat ini tersedia dan penyalurannya berjalan lancar setiap hari. Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan kondisi yang dikeluhkan sebagian warga yang masih mengalami kesulitan memperoleh minyak tanah di lapangan.
Serial Artikel
Kenaikan Harga Pertamax ”Sempurnakan” Penderitaan Warga Kupang
Ekonomi masyarakat makin terperosok. Apalagi, harga elpiji duluan meroket dan minyak tanah langka.





