Potret Kontras Saham Teknologi Indonesia ketika IPO SpaceX Pecahkan Rekor

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketika investor global masih berlomba memburu saham perusahaan teknologi, pasar modal Indonesia justru menunjukkan arah yang berbeda.

Di Amerika Serikat, perusahaan yang diusung Elon Musk, SpaceX, mencetak rekor melalui penawaran saham atau initial public offering (IPO) senilai US$75 miliar. Nilai fantastis itu menjadi salah satu aksi korporasi terbesar dalam sejarah pasar modal global.

Selain menempatkan Elon Musk sebagai triliuner pertama di dunia, fenomena itu pun menunjukkan bahwa teknologi, inovasi, dan prospek pertumbuhan jangka panjang masih menjadi magnet utama bagi investor.

Namun, cerita yang berkembang di Indonesia tidak sejalan dengan tren tersebut.

Sampai dengan penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), indeks saham teknologi atau IDXTECH terkoreksi 30,91% secara year-to-date (YtD). Penurunan itu menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun ini.

Di saat pasar global masih memberikan valuasi premium kepada perusahaan teknologi, pasar modal Indonesia justru menghadapi minimnya narasi pertumbuhan baru dari sektor tersebut.

Setelah gelombang IPO perusahaan teknologi pada 2021—2022 menghadirkan nama-nama besar seperti GOTO dan Bukalapak, nyaris tidak ada lagi perusahaan teknologi berskala besar yang melantai di bursa. Bahkan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menilai salah satu penyebab koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini adalah minimnya “story” baru di pasar, alih-alih sentimen negatif MSCI.

Baca Juga : Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia usai SpaceX Go Public

Dalam dua tahun terakhir, pipeline IPO Indonesia lebih banyak diisi oleh perusahaan sektor tradisional seperti komoditas, manufaktur, konsumer, properti, dan jasa. Sementara itu, startup teknologi cenderung menunda IPO dan memilih untuk fokus memperbaiki profitabilitas setelah era bakar uang berakhir.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Riset Nirji Ventures bertajuk Southeast Asia Startup Funding Report 2026 menunjukkan lanskap pendanaan startup di Asia Tenggara telah berubah drastis sejak pecahnya gelembung pendanaan pada 2021.

Investor kini tidak lagi memberikan valuasi tinggi hanya berdasarkan pertumbuhan pengguna atau ekspansi bisnis. Fokus bergeser ke profitabilitas, model bisnis yang berkelanjutan, dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

Laporan tersebut mencatat total pendanaan startup di Asia Tenggara pada 2024 turun 82% dibandingkan puncaknya pada 2021, dari US$25,7 miliar menjadi US$6,79 miliar.

Penurunan itu dipengaruhi faktor global dan struktural. Dari sisi global, kenaikan suku bunga menekan valuasi perusahaan teknologi dan membuat investor institusi mengurangi alokasi dana ke modal ventura, terutama di pasar berkembang.

Sementara itu, secara struktural, ekosistem startup Asia Tenggara masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persoalan tata kelola pada beberapa perusahaan teknologi, tingginya konsentrasi investasi pada bisnis internet konsumen yang belum mampu menunjukkan profitabilitas yang kuat, hingga terbatasnya jalur keluar investasi melalui IPO.

Baca Juga : IPO SpaceX hingga OpenAI Berisiko Sedot Likuiditas Pasar Kripto

"Cara pandang investasi di Asia Tenggara telah berubah total sejak tahun 2021. Perubahan ini mencerminkan penilaian ulang yang mendasar, tentang apa saja yang menciptakan nilai berkelanjutan dalam ekosistem startup di kawasan ini," tulis laporan tersebut, dikutip Minggu (14/6/2026).

Perubahan tersebut juga terlihat dari strategi investor. Jika pada 2021 IPO menjadi target utama dalam kurun lima hingga tujuh tahun, kini investor bersedia menunggu lebih dari satu dekade untuk memperoleh imbal hasil. Di saat yang sama, merger dan akuisisi (M&A) makin dipertimbangkan sebagai alternatif jalur keluar investasi.

"Kemungkinan perubahan paling besar dalam cara investor menilai startup saat ini adalah naiknya posisi efisiensi penggunaan modal [capital efficiency] dari sekadar nilai tambah, dan ini menjadi kriteria utama dalam pendanaan Seri A," tulis laporan tersebut.

Minim Narasi AI

Di tengah perubahan lanskap tersebut, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menilai pasar modal Indonesia belum mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan sektor teknologi global, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, struktur pasar modal Indonesia masih didominasi sektor-sektor tradisional dan belum memiliki emiten yang mampu menjadi representasi tren AI yang sedang berkembang pesat di berbagai negara.

"Padahal untuk AI berkembang seharusnya basis energi yang mengikuti itu. Jadi ya boleh dibilang apakah ini [koreksi tajam IHSG] soal MSCI? I think MSCI [effect] is relatively soft [saya kira dampak MSCI terhadap pasar relatif lemah]. Mungkin adalah soal kreativitas kalau mau lihat," jelasnya saat ditemui di Kantor BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Pandu menilai dampak perubahan klasifikasi MSCI terhadap IHSG relatif terbatas jika dibandingkan dengan minimnya cerita pertumbuhan baru yang dapat menarik minat investor.

Baca Juga : Antrean IPO Susut Jadi 12 Calon Emiten, BEI Ungkap Penyebabnya

Dia mencontohkan India yang saat ini mulai membangun proyek pembangkit listrik berkapasitas 30 gigawatt (GW) untuk mendukung kebutuhan AI. Di Taiwan, keberadaan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company Limited (TSMC) juga menjadi motor utama pertumbuhan pasar modal berbasis teknologi.

Menurut Pandu, narasi serupa belum terlihat di Indonesia. Bobot pasar saham domestik masih banyak ditopang emiten perbankan besar, sementara perusahaan energi belum memanfaatkan peluang yang muncul dari pertumbuhan kebutuhan pusat data dan AI.

"Aku udah ngomong sama beberapa owner-nya perusahaan energi. Kenapa kalian tidak punya off-taker data center? Then you can tell a story energy for AI. Hanya cerita kayak gitu, di Korea, di Amerika, saham bisa naik 5 sampai 6 kali lipat. Tapi aku sudah info ke mereka, tetapi tidak dijalankan," tandasnya.

Padahal, menurut dia, Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk ke rantai pasok teknologi global karena didukung ketersediaan sumber daya energi dan komoditas strategis.

Pandu mengungkapkan minat perusahaan teknologi global terhadap Indonesia terus meningkat. Bahkan, sejumlah perusahaan teknologi terbesar dunia mulai menjajaki peluang investasi di Tanah Air.

"Kemarin juga saya ketemu dengan The Big 4, ada empat perusahaan terbesar di dunia untuk teknologi. Semuanya mau ke Indonesia mencari energi," pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fuad Bawazier: Isu Ganti Menkeu Purbaya Bagian dari Cipta Kondisi
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Bertemu Prabowo, Menhan Jepang Beri Miniatur Kapal Perang Legendaris Mikasa
• 9 jam laludetik.com
thumb
Warga DKI Gratis Masuk Ancol Selama Tiga Hari HUT ke-499 Jakarta, Ini Syaratnya
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Ini Cara Mengatasi WhatsApp yang Tidak Bisa Dibuka di Laptop dengan Mudah
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Kemkomdigi latih talenta digital SMK guna buka peluang kerja di daerah
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.