Bisnis.com, JAKARTA — Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase krusial setelah delegasi Qatar bertolak ke Teheran guna mendorong finalisasi kesepakatan damai yang tengah dinegosiasikan. Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan perjanjian tersebut berpotensi ditandatangani paling cepat pada Minggu waktu setempat.
Mengutip Aljazeera, Minggu (14/6/2026), delegasi Qatar diterbangkan ke Iran untuk memperoleh persetujuan akhir dari otoritas Teheran terhadap rancangan kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri hampir 4 bulan konflik bersenjata dan gejolak ekonomi yang dipicu perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pernyataan Trump menambah optimisme mengenai peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Presiden AS itu menyebut jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan kembali terbuka bagi seluruh negara setelah perjanjian diberlakukan.
Trump juga mengklaim bahwa Washington pada akhirnya akan memperoleh kendali atas material nuklir Iran sebagai bagian dari penyelesaian konflik. Namun, hingga kini, perincian resmi isi kesepakatan belum dipublikasikan.
Meski demikian, pemerintah Iran belum sepenuhnya mengonfirmasi tenggat waktu yang disampaikan Trump. Sejumlah pejabat Teheran mengakui kesepakatan berpotensi tercapai dalam beberapa hari ke depan, tetapi meragukan kemungkinan penandatanganan dilakukan secepat yang diperkirakan Washington.
Keraguan juga datang dari kelompok garis keras di Iran yang dilaporkan masih menolak beberapa poin dalam rancangan perjanjian tersebut.
Baca Juga
- Harga Minyak Dunia Turun 6% Sepekan usai AS-Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Damai
- Harga Minyak Turun setelah Trump Klaim AS-Iran Capai Kesepakatan Damai
Di tengah proses negosiasi yang berlangsung, situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Serangan udara Israel dilaporkan kembali mengguncang wilayah Lebanon selatan, termasuk kawasan Faroun di Distrik Bint Jbeil.
Serangan tersebut terjadi ketika Iran menegaskan bahwa penghentian konflik seharusnya juga mencakup Lebanon sebagai bagian dari memorandum kesepahaman yang sedang dibahas dengan Amerika Serikat.
Selain serangan udara, otoritas Israel juga disebut mengeluarkan perintah evakuasi baru bagi warga di sejumlah desa dan kota di Lebanon selatan setelah gelombang pemboman yang berlanjut dalam beberapa hari terakhir.
Ketegangan semakin meningkat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menyerukan respons militer yang lebih keras terhadap Hezbollah.
Dalam pernyataannya di media sosial X, Ben-Gvir meminta setiap serangan pesawat nirawak dari Lebanon dibalas dengan serangan rudal. Ia juga menyerukan tindakan militer yang lebih agresif terhadap kelompok tersebut.
Seruan serupa datang dari Menteri Imigrasi dan Penyerapan Israel Ofir Sofer yang meminta Israel meningkatkan tekanan militer terhadap basis-basis Hezbollah di Lebanon.
Sementara itu, media Iran melaporkan rangkaian upacara pemakaman bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akan dimulai di Teheran pada 4 Juli mendatang. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlanjut hingga pemakaman resmi di kota Mashhad pada 9 Juli.
Bayang-bayang JCPOA
Perundingan terbaru antara Washington dan Teheran juga memunculkan kembali perdebatan mengenai masa depan program nuklir Iran. Trump menyebut kesepakatan yang sedang dinegosiasikan akan lebih baik dibandingkan perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Sebagai catatan, JCPOA merupakan kesepakatan yang ditandatangani Iran bersama enam kekuatan dunia, yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China pada 2015. Perjanjian tersebut membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.
Dalam kesepakatan itu, Iran setuju memangkas cadangan uranium yang diperkaya menjadi kurang dari 300 kilogram dan membatasi tingkat pengayaan uranium hingga 3,67%, jauh di bawah ambang yang dibutuhkan untuk senjata nuklir. Teheran juga menyetujui pengurangan jumlah sentrifugal nuklir secara signifikan serta menerima mekanisme inspeksi ketat dari International Atomic Energy Agency.
Namun, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada 2018 saat masa jabatan pertamanya. Hingga kini, belum diketahui secara pasti bagaimana struktur dan ketentuan kesepakatan baru yang sedang dirundingkan akan berbeda dari perjanjian tersebut.
Jika berhasil disepakati, perjanjian baru AS-Iran berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir sekaligus menentukan arah stabilitas kawasan pascakonflik.





