Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, Tidak terasa kaum Muslimin akan kembali melewati pergantian tahun baru Hijriyah, dari tahun 1447 H berganti menjadi 1448 H. Momentum ini hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk penguatan komitmen membangun kehidupan berbasiskan nilai-nilai hijrah Nabi SAW.
Peristiwa hijrah merupakan suatu indikasi kebenaran ajaran Nabi SAW dan latihan bagi para pengikutnya. Dengan proses hijrah ini mereka menjadi mampu memikul tanggung jawab kepemimpinan di muka bumi.
Baca Juga
Harga Pertamax Terbang Tinggi, Pertamina Jamin Stok Pertalite di Yogya Aman
Kurma Ajwa Tradisi yang Terjaga di Madinah Sejak Zaman Rasulullah
Proyek Rel Kereta Jalur Ottoman Hubungkan Turki-Saudi Bikin Israel Geram dan Gigit Jari
Allah memilihkan Madinah sebagai tempat hijrah bagi kaum Muslimin sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi SAW, “Tempat hijrah kalian sudah diperlihatkan kepadaku. Aku telah melihat tanah bergaram dan ditumbuhi pohon kurma berada di antara dua gunung yang berada di Harrah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Penyebab hijrah
Hijrah Nabi SAW dan kaum Muslimin bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menjadi alasan untuk melakukan hijrah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pertama, karena adanya siksaan dan tekanan. Begitu Nabi SAW melakukan dakwah secara terbuka, berbagai ancaman diarahkan kepadanya dan kaum muslimin. Karena itu, Nabi SAW selalu berpikir untuk mencari perlindungan di luar Makkah. Sehingga terjadilah hijrah kaum Muslimin ke Habsyah, Thaif, dan kemudian ke Madinah. Penyebab hijrah di antaranya karena penyiksaan dan penindasan kaum kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin.
Kedua, adanya kekuatan yang akan membantu dan melindungi dakwah, sehingga memungkinkan Nabi SAW berdakwah dengan leluasa. Hal ini sebagaimana tertuang dalam nash Bai’atul Aqabah kedua. Yaitu kaum Anshar berjanji akan melindungi Nabi SAW seperti melindungi anak dan istri mereka.
Ketiga, pembesar kaum Quraisy dan sebagian besar masyarakat Makkah menganggap Nabi sebagai pendusta, sehingga mereka tidak mempercayainya. Dengan kondisi seperti ini, maka beliau ingin mendakwahkan Islam kepada masyarakat lainnya yang mau menerimanya.
Keempat, kaum Muslimin khawatir agama mereka terfitnah. Ketika Aisyah RA ditanya tentang hijrah, beliau berkata: kaum Mukminun pada masa dahulu, mereka pergi membawa agama mereka menuju Allah dan Rasul-Nya karena khawatir terfitnah.” (HR Bukhari)
Pengunjung menyaksikan pertunjukan pesta kembang api saat penutupan acara Republika Hijriah Food Festival di area Masjid Agung Trans Studio, Bandung Jawa Barat, Ahad (13/7/2025). Republika bersama Kadin Indonesia Komite Tiongkok menggelar acara Hijriah Food Festival dalam rangka menyemarakan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Acara tersebut menyajikan beragam kegiatan seperti festival kuliner halal khas Nusantara dan Tiongkok, tausiyah, panggung hiburan, penampilan seni bela diri wushu, hingga pertunjukan kembang api. Acara tersebut diharapkan menjadi ruang silaturahmi yang menggabungkan nilai religius, mempererat persahabatan Indonesia dan Tiongkok dalam agama dan kebudayan. - (Thoudy Badai/Republika)
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.