Bisnis.com, SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama investor asal Malaysia, SAEngineersMy Sdn. Bhd., tengah mematangkan rencana investasi pembangunan kawasan logistik, karantina, dan perdagangan terintegrasi di kawasan Puspa Agro, Jemundo, Kabupaten Sidoarjo.
Proyek tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) yang dilakukan dalam Misi Dagang Pemprov Jawa Timur di Kuala Lumpur pada April 2026. Berdasarkan perhitungan awal, nilai investasi pengembangan kawasan diperkirakan mencapai US$50 juta sampai US$100 juta atau sekitar Rp1,75 triliun.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan Pemprov Jatim siap memberikan dukungan percepatan dan kepastian regulasi untuk merealisasikan proyek tersebut. Saat ini, kawasan Puspa Agro memiliki lahan seluas 50 hektare, dengan pemanfaatan sekitar 5 hektare.
"Artinya, jika ada pengembangan yang dibutuhkan, kita masih memiliki sisa lahan 45 hektare yang sangat potensial. Kerja sama ini menjadi penting sebagai hub baru, Gerbang Baru Nusantara untuk menjawab kebutuhan konektivitas logistik antara Indonesia bagian Barat dan Timur," ujar Khofifah di sela pertemuan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, dikutip Minggu (14/6/2026).
Menurut Khofifah, posisi Jawa Timur sebagai pusat distribusi nasional menjadi salah satu daya tarik investasi proyek tersebut. Dari 41 jalur tol laut nasional, sebanyak 24 rute berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Selain itu, sekitar 80% kebutuhan logistik untuk 20 provinsi di kawasan Indonesia Timur dipasok dari Jawa Timur, mulai dari bahan pangan, hasil perikanan, komoditas pertanian dan perkebunan, hingga material konstruksi dan suku cadang otomotif.
Baca Juga
- Strategi Ekspansi BookCabin, Travel Fair Surabaya Tawarkan Promo Tiket dan Umrah
- Tingkatkan Akses Pembiayaan Peternak Sapi Perah, OJK dan ILO Luncurkan ERP
- Pakuwon Jati (PWON) Tebar Dividen Rp626 Miliar, Setara Rp13 per Saham
Dengan basis aktivitas tersebut, kawasan logistik dan karantina terintegrasi dinilai memiliki prospek bisnis yang besar, terutama untuk mendukung arus ekspor-impor serta distribusi komoditas domestik.
Data Pemprov Jatim menunjukkan volume pergerakan komoditas di Jawa Timur mencapai lebih dari 350.000 frekuensi media pembawa hewan, ikan, dan tumbuhan setiap tahun. Potensi lalu lintas kontainer yang dapat dilayani instalasi karantina diperkirakan mencapai 911.360 TEUs per tahun, terdiri atas 811.728 TEUs impor dan 99.632 TEUs ekspor.
Meski demikian, Khofifah menegaskan proyek masih berada pada tahap awal sehingga membutuhkan kajian yang lebih rinci, termasuk terkait struktur investasi, peran BUMD, dan aspek regulasi.
"Namun, ini memang membutuhkan pembahasan yang lebih detail. Harus ada master plan dan detail plan, termasuk menyangkut posisi BUMD, investor, serta aspek regulasi. Koordinasi diperlukan antar instansi/lembaga di kementerian, Badan Karantina Indonesia maupun Bea Cukai, serta pelabuhan," jelasnya.
Sementara itu, Executive Chairman SAEngineersMy Sdn. Bhd. Shaffrudin Alamshah Ismaon mengatakan pihaknya menargetkan penyampaian proposal dan cetak biru proyek pada bulan ini. Dokumen tersebut akan mencakup perencanaan kawasan, proyeksi arus kas, hingga struktur investasi yang ditawarkan.
"Insyaallah dalam bulan Juni ini kami akan siapkan perencanaan, proposal cadangan, lengkap dengan skema arus kas [cash flow]. Ini paling asas [mendasar] agar semua pihak bisa menelaah dan memberikan komentar untuk melengkapi informasi yang kurang," tuturnya.
Dia menilai Jawa Timur memiliki daya tarik investasi karena didukung basis komoditas yang besar dan beragam, mulai dari kopi, udang, hingga kelapa yang telah memiliki pasar di tingkat regional.
"Potensi bisnis Jawa Timur ini amat menarik sekali. Sebab, daerah ini mempunyai banyak komoditas yang dapat dipasarkan di dalam negeri dan ada juga yang telah dipasarkan di Malaysia. Kami di sini akan cobaa membantu dengan sebaik-baiknya untuk memasarkan komoditi Jawa Timur ke pasar global," tuturnya.
Dalam rencana awal, proyek akan dikembangkan melalui pembentukan special purpose vehicle (SPV). Adapun sumber pendapatan diproyeksikan berasal dari sejumlah lini usaha, antara lain penyewaan lahan, penyewaan fasilitas, layanan pergudangan, serta platform digital terintegrasi bagi pelaku usaha yang beroperasi di kawasan tersebut.
"InsyaAllah dalam bulan Juni ini kita akan siapkan perencanaan, proposal lengkap dengan cash flow. Setelah maklumat master plan dan cash flow ini dikirimkan, kami akan langsung masuk ke tahap teknikal, tapi kita harus lihat fokusnya apa, profit and lossnya, bagaimana cash flow-nya, ROI-nya, IRR, segala financial detail dan dari segi equity investment," pungkasnya.





