Cadangan beras nasional mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia dengan jumlah mencapai 5,3 juta ton, namun pemerintah justru memperketat pengawasan di lapangan untuk mencegah permainan harga dan distribusi.
Melimpahnya stok tersebut membuat kapasitas gudang Perum Bulog tidak lagi mencukupi sehingga perusahaan harus menambah ruang penyimpanan melalui penyewaan gudang tambahan.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kondisi saat ini menunjukkan pasokan beras nasional berada dalam posisi sangat aman.
Menurut dia, total stok beras yang mencapai 5,3 juta ton menjadi yang terbesar sejak Indonesia merdeka.
Bahkan, kapasitas gudang Bulog yang hanya sekitar 3 juta ton tidak mampu menampung seluruh persediaan yang ada saat ini.
Untuk mengatasi kelebihan stok tersebut, Bulog telah menyewa tambahan gudang dengan kapasitas sekitar 2,3 juta ton.
"Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka," kata Amran dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).
Besarnya cadangan beras tersebut, lanjut Amran, merupakan dampak positif dari peningkatan produksi dalam negeri yang berhasil mendorong Indonesia menuju swasembada pangan.
Kondisi saat ini dinilai jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika stok beras pemerintah relatif terbatas dan kebutuhan dalam negeri masih harus ditopang oleh impor.
"Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada," ujarnya.
Di tengah melimpahnya pasokan tersebut, pemerintah menegaskan tidak ada alasan bagi pihak tertentu untuk menciptakan persepsi kelangkaan beras di masyarakat.
Karena itu, Bapanas telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan Polri untuk melakukan pengawasan distribusi dan perdagangan beras di berbagai daerah.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan pasokan beras tetap tersedia dan tidak ada praktik penimbunan maupun permainan harga yang merugikan konsumen.
Amran menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi pelaku usaha yang mencoba mengambil keuntungan dengan cara mengganggu stabilitas pasokan pangan nasional.
"Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita, (itu) langka," tegasnya.
Pemerintah bersama Satgas Pangan juga telah sepakat untuk memantau pergerakan harga beras secara intensif di seluruh wilayah Indonesia.
Apabila ditemukan pelanggaran yang menyebabkan gejolak harga atau distribusi, aparat akan mengambil langkah hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Dukung Pangan Lokal, Menteri PU Alokasikan Rp450 Miliar untuk Proyek Irigasi di 2027
"Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak," kata Amran.
Selain memperkuat pengawasan, Bapanas juga mendorong Bulog memperluas distribusi beras premium ke pasar modern guna membantu mengatasi kekurangan pasokan yang sempat terjadi di sejumlah ritel.
Pemerintah optimistis ketersediaan beras nasional tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh daerah tanpa risiko kelangkaan.





