Konservasi dan Potensi Bioprospeksi Camptostemon philippinensis

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita
Mangrove Langka yang Terancam Punah di Timur Indonesia

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan semakin gencarnya pengalih fungsian lahan di kawasan pesisir Indonesia Timur, terdapat satu spesies mangrove langka bernama ilmiah Camptostemon philippinensis (S.Vidal) Becc. yang kini berada dalam situasi kritis.

Spesies yang dikenal masyarakat dengan sebutan gapas-gapas ini merupakan salah satu mangrove sejati yang hanya tersebar di beberapa wilayah terbatas, seperti Filipina, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan. Walaupun persebarannya di beberapa wilayah, jumlah individu spesies ini hanya sedikit dalam populasi yang kecil. Status konservasinya sendiri tergolong genting: Endangered atau terancam punah menurut data dari IUCN Red List.

Di Indonesia, pemerintah telah mengambil langkah tegas dengan memasukkan C. philippinensis ke dalam daftar mangrove yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor P.106 tahun 2018. Namun, status perlindungan hukum saja dinilai belum cukup. Para pegiat konservasi dan peneliti meyakini bahwa spesies ini membutuhkan perhatian darurat, mengingat populasinya di alam yang terus menyusut.

Camptostemon philippinensis hanya mampu tumbuh di lingkungan yang sangat spesifik. Ancaman terbesarnya justru datang dari aktivitas antropogenik, seperti pembukaan hutan mangrove untuk tambak, pemukiman, atau infrastruktur. Jika hanya dilindungi di tempat asalnya tanpa upaya cadangan, risiko kepunahan tetap tinggi. Selain itu, menjadi lebih penting karena diketahui di Kalimantan Timur contohnya, mangrove ini menjadi salah satu habitat dari primata endemik monyet hidung panjang atau bekantan yang statusnya juga dilindungi.

Hingga saat ini, upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah masih sebatas konservasi in-situ, yaitu perlindungan di habitat aslinya. Langkah ini tentu penting, tetapi para ahli menilai bahwa strategi tersebut perlu segera didukung oleh upaya ex-situ, seperti perbanyakan tanaman di luar habitat alami, studi populasi genetik, hingga pemanfaatan berkelanjutan melalui bioprospeksi. Belum ada laporan resmi mengenai keberhasilan konservasi ex-situ di Indonesia, baik melalui perbanyakan vegetatif, kultur jaringan, maupun studi genetik molekuler. Padahal, langkah-langkah lanjutan tersebut menjadi kunci untuk menyelamatkan spesies dari ambang kepunahan.

Peran Studi Molekuler dalam Konservasi Mangrove Langka

Salah satu pendekatan modern yang dianggap paling menjanjikan adalah studi molekuler. Dengan mengetahui keragaman genetik pada populasi C. philippinensis, para ilmuwan dapat merumuskan strategi konservasi yang lebih tepat dan akurat. Penanda molekuler DNA dinilai sangat efektif untuk studi populasi tumbuhan, terutama untuk tumbuhan yang perlu segera dilakukan konservasi.

Penanda molekuler memungkinkan kita mengetahui keragaman alel atau gen dalam suatu populasi. Selain itu, penanda ini juga bisa mengungkap sistem perkawinan (mating system) yang terjadi pada populasi di alam. Informasi ini sangat krusial untuk menghindari perkawinan sedarah (inbreeding) yang dapat menurunkan daya hidup populasi.

Lebih lanjut, para peneliti juga merekomendasikan penggunaan complete genome DNA (Whole Genome Sequence) yang digunakan sebagai salah satu upaya konservasi. Data genom utuh ini tidak hanya berguna untuk identifikasi spesies secara akurat, tetapi juga untuk melacak sejarah evolusi, memetakan keragaman genetik, serta merancang zonasi perlindungan dan restorasi habitat yang lebih efektif. Sayangnya, hingga kini belum ada laporan mengenai complete genome untuk C. philippinensis yang berasal dari Indonesia.

Bioprospeksi: Menyentuh Ekonomi untuk Menguatkan Konservasi

Di sisi lain, para pakar juga mendorong konservasi dengan pendekatan metabolomik atau bioprospeksi sebagai salah satu bentuk konservasi ex-situ yang inovatif. Melalui studi ini, peneliti dapat mengungkap senyawa-senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam C. philippinensis. Senyawa-senyawa tersebut berpotensi dapat dikembangkan untuk berbagai industri, seperti obat-obatan, kosmetik, bahkan pangan.

Jika kita bisa menemukan nilai ekonomi dari spesies ini, misalnya sebagai sumber antioksidan alami, antimikroba, atau bahan baku kosmetik, masyarakat pesisir akan memiliki insentif untuk menjaga kelestariannya. Konservasi tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi menjadi peluang ekonomi berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat sekitar habitat mangrove langka tersebut. Sebab, selama ini, salah satu hambatan terbesar konservasi adalah minimnya manfaat langsung yang dirasakan oleh penduduk lokal.

Dengan kondisi spesies C. philippinensis pada saat ini yang semakin terdesak, para akademisi, LSM lingkungan, dan pemerintah daerah diharapkan segera menyusun program konservasi terpadu. Waktu tidak berpihak pada kita. Spesies ini saat ini sangat rentan. Jika tidak segera dilakukan upaya konservasi yang holistik, baik in-situ maupun ex-situ, bukan tidak mungkin spesies Camptostemon philippinensis hanya akan menjadi catatan sejarah di herbarium.

Masyarakat dan para pemangku kepentingan diharapkan tidak lagi menunda-nunda aksi nyata. Keberadaan mangrove langka ini adalah bagian dari kekayaan hayati Nusantara yang tak ternilai, dan sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KSP Dudung Dengar Langsung Kritik Mahasiwa soal Ekonomi hingga MBG
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Future Star Competition Jadi Panggung Talenta Muda, RSoccer Training Camp Keluar sebagai Juara
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK panggil mantan Dirut LRS sebagai saksi kasus suap proyek kereta
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Demo Cipayung Menggugat di DPR Memanas, Massa dan Aparat Sempat Tegang
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Presiden Jerman Kunjungi Jakarta Senin Pagi Besok, Sejumlah Jalan Akan Ditutup
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.